Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tantangan Tinggal Serumah dengan Ipar: Membangun Keharmonisan dan Cara Mengelolanya

Miftahul Khair • Sabtu, 30 November 2024 | 13:13 WIB

 

poster film Ipar adalah Maut.
poster film Ipar adalah Maut.

Tinggal serumah dengan keluarga besar, termasuk ipar, barangkali merupakan hal yang lumrah. Kondisi ini biasanya terjadi karena berbagai alasan. Meski sering dianggap sebagai bentuk solidaritas, tinggal serumah dengan ipar memiliki tantangan dan potensi konflik yang perlu dikelola dengan baik.

Oleh: Siti Sulbiyah

FILM berjudul Ipar adalah Maut yang tayang di bioskop beberapa waktu yang lalu berhasil menarik perhatian penonton karena ceritanya yang penuh dengan perasaan dan plot twist yang luar biasa.

Mengutip Jawapos.com, film ini menceritakan tentang sebuah rumah tangga yang awalnya harmonis. Tetapi, setelah kedatangan adik ipar, semuanya menjadi berubah. Kini, film yang ditujukan untuk penonton dengan usia 13+ berhasil mencetak penonton sejumlah 4,7 juta sejak tayang di bioskop. 

Film ini sedikit banyak menunjukkan hubungan kekeluargaan dalam budaya Indonesia memang khas. Dalam konteks pernikahan, pasangan suami istri (pasutri) di Indonesia tidak hanya dituntut untuk mengenal dan berhubungan baik dengan pasangannya, tetapi juga membangun relasi yang harmonis dengan keluarga besar, termasuk dengan ipar.

Tak heran, ipar dapat dengan mudah tinggal bersama saudaranya yang telah menikah. "Dalam budaya Indonesia, eratnya ikatan keluarga besar mengharuskan pasutri bersikap kekeluargaan. Ini termasuk menjalin keakraban dan tidak abai terhadap anggota keluarga pasangan yang lain, seperti adik atau kakak ipar," kata Ghulbuddin Himamy, M.Psi, Psikolog.

Hubungan dengan ipar bisa sangat beragam. Ada pasangan yang memiliki hubungan akrab dan penuh kedekatan, layaknya saudara kandung sendiri, sementara lainnya mungkin menghadapi gesekan atau bahkan konflik. Situasi ini tidak berbeda jauh dengan dinamika hubungan antara menantu dan mertua.

“Di Indonesia, lumrah bagi orang tua menampung anak-anaknya yang sudah menikah untuk tinggal bersama dalam satu rumah dengan keluarga besar. Begitu pula, tidak jarang pasangan yang sudah menikah membuka rumah mereka untuk menampung adik atau kakaknya karena alasan tertentu,” ujarnya.

Lebih jauh, Ghulbuddin menjelaskan bahwa ketika tinggal di satu atap, semua anggota keluarga tentu berbagi fasilitas rumah yang sama. Hal ini menyebabkan interaksi antara pasangan dan ipar menjadi lebih intens. Kedekatan emosional dengan ipar seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ketertarikan fisik (visual) dan kepribadian yang menarik atau menyenangkan.

Ia juga mengingatkan, kondisi rumah tangga yang kurang harmonis dapat memperumit situasi ini. Ketidakpuasan dalam pernikahan, seperti komunikasi yang buruk atau kurangnya penghargaan terhadap pasangan, bisa memperbesar potensi masalah.

“Di saat seperti ini, masuknya Ipar yang menyenangkan dan lebih perhatian memberikan angin segar dalam pernikahannya,” katanya. 

Namun, hubungan yang tidak lazim antara pasangan dan ipar tidak terjadi secara instan. Biasanya, ada tanda-tanda awal yang dapat dikenali sebelum hubungan menjadi semakin tidak wajar. Ghulbuddin menjelaskan beberapa tanda yang patut diwaspadai.

Pertama, perhatian berlebihan pada ipar. Pasangan sering menanyakan kabar ipar atau hal-hal remeh tentangnya, sigap membantu saat ipar menghadapi kesulitan, atau cenderung membela ipar ketika Anda mengeluhkan sesuatu. Bahkan, pasangan mungkin sering memberi uang jajan atau hadiah-hadiah kepada ipar.

“Hal ini bisa jadi agak mencurigakan, karena bentuk perhatian seperti itu seharusnya diberikan kepada pasangannya, bukan kepada ipar,” ujarnya.

Kedua, saling pandang. Tanda lain yang mencurigakan adalah ketika pasangan dan ipar sering kedapatan saling pandang dalam pertemuan keluarga. Ketiga, menghabiskan waktu berdua secara berlebihan. Pasangan terlihat sering menghabiskan waktu berdua dengan ipar, seperti menonton TV di ruang keluarga, makan bersama, berbelanja kebutuhan rumah, atau bercanda dan tertawa bersama dalam frekuensi yang tidak biasa.

Namun, Ghulbuddin menekankan bahwa tanda-tanda tersebut tidak serta-merta menjadi bukti bahwa pasangan berselingkuh dengan ipar. Lebih jauh ia menyarankan, akan lebih baik tidak tinggal satu atap dengan adik atau kakak ipar. Hal ini memberikan ruang yang lebih besar bagi pasutri untuk fokus pada rumah tangga mereka sendiri tanpa gangguan dari dinamika keluarga besar yang kompleks. 

“Hubungan yang sehat saat ipar tinggal dalam satu atap terjadi jika anda dan pasangan menerapkan batasan-batasan ini,” katanya.

 

Buat Kesepakatan tentang Batasan

Ghulbuddin Himamy, M.Psi., Psikolog mengingatkan pentingnya setiap pasangan perlu menetapkan batasan yang jelas dalam hubungan dengan keluarga besar untuk mencegah potensi masalah. Termasuk dalam kasus ipar yang tinggal serumah.

Ia mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda awal jika pasangan menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada ipar. Hal ini, menurutnya, menjadi langkah awal untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

"Saat mengetahui tanda-tanda pasangan memiliki ketertarikan pada kakak atau adik ipar, dan sudah membicarakannya dengan pasangan namun dia tetap tidak peduli, maka sangat boleh mencari bantuan psikolog," ujar Ghulbuddin.

Ghulbuddin juga mengingatkan bahwa dalam kondisi apapun, insting seseorang sering kali menjadi panduan yang baik. Jika merasa ada yang tidak beres dalam dinamika rumah tangga, ia menyarankan untuk mendengarkan intuisi tersebut.

"Ingat, gunakan insting Anda dan Anda sendirilah yang memiliki kendali di rumahmu sendiri," pungkasnya. (*)

Editor : Miftahul Khair
#keharmonisan #ipar #tantangan #tinggal serumah