Tidak sedikit pasangan yang terpaksa menjalani hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship (LDR). Tentunya hubungan jarak jauh ini bukan hal mudah. Namun, lebih dari 50 persen pasangan berhasil LDR bahkan berakhir di pelaminan.
Oleh : Siti Sulbiyah
Menjalin hubungan jarak jauh atau LDR bukanlah perkara yang mudah. Pasangan yang menjalani hubungan semacam ini barangkali harus berakhir dengan kandas. Persoalan komunikasi bisa menjadi sumber masalah besar yang berdampak pada hubungan. Namun tak jarang dari mereka yang berhasil menjalani hubungan seperti ini.
Jakpat melakukan survei terhadap persepsi masyarakat tentang LDR dan keberhasilan pasangan yang menjalani hubungan seperti ini. Jakpat sendiri adalah singkatan dari Jejak Pendapat, yang merupakan platform survei terbuka.
Dari hasil survei yang dilakukan, diketahui 55,8 persen orang yang tidak pernah LDR dengan pasangannya, menganggap hubungan jarak jauh tidak akan berhasil. Sisanya, 44,2 persen menganggap hubungan LDR masih ada kesempatan untuk berhasil. Survei ini dilakukan pada Januari 2023 via Jakpat Apps dengan jumlah 1048 orang responden.
Lalu, bagaimana fakta yang terjadi terhadap orang-orang yang menjalani LDR? Jakpat kembali melakukan survei terhadap pasangan yang menjalani LDR. Survei yang dilakukan pada Januari 2023 dengan total 1331 orang responden itu menunjukkan bahwa 56,6 persen pasangan LDR langgeng sampai ke jenjang pernikahan. Namun sayangnya, 43,4 persen harus kandas di tengah jalan.
Menurut Psikolog, Riskiyana Adi Putra, M.Psi., Psikolog, LDR maupun LDM bagi banyak pasangan memang sulit, tapi tidak mustahil untuk berhasil dilakukan. “LDR tidak mustahil karena banyak yang berhasil. Intinya menjaga kualitas hubungan dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kunci utama keberhasilan LDR terletak pada komunikasi yang efektif dan teratur. Tanpa komunikasi yang baik, pasangan cenderung menghadapi berbagai permasalahan yang berujung pada rusaknya hubungan.
Pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh memang memiliki kerentanan dalam beragam persoalan karena jarang bertemu. Banyak pencetus pertengkaran, seperti rasa cemburu, tak ada kontak fisik, curiga, hingga menghilangnya kepercayaan.
“Pasangan yang tidak mampu mengatur kualitas dan kuantitas komunikasinya, maka akan menimbulkan masalah, seperti hilangnya kepercayaan, cemburu, hingga curiga. Maka dalam hal apapun, termasuk LDR, yang penting untung dibina adalah komunikasi,” ungkapnya.
Komunikasi yang buruk dalam hubungan jarak jauh, bahkan berpotensi mengandaskan suatu hubungan yang bisa dipicu karena ketidakpercayaan hingga kecemburuan yang emosional.
Kemajuan teknologi saat ini menjadi faktor pendukung penting bagi pasangan LDR. Dengan adanya media komunikasi modern seperti panggilan telepon, pesan teks, hingga panggilan video, pasangan tetap dapat saling berinteraksi meskipun terpisah jarak. Teknologi ini memungkinkan mereka untuk menjaga kepercayaan dan memperkuat hubungan melalui komunikasi yang konsisten dan berkualitas.
Tantangan terberat dalam sebuah hubungan jarak jauh adalah tidak adanya pertemuan atau kontak fisik. Apalagi jika terpisah dengan jarak yang sangat jauh sehingga sulit menjadwalkan pertemuan. Ataupun, jaringan komunikasi di lokasi pasangan buruk sehingga sulit untuk sekedar berkirim kabar.
Walaupun begitu, sebenarnya ada sejumlah hal positif yang bisa didapatkan bersama pasangan saat hubungan jarak jauh terjalin. “Positifnya kalau pasangan bisa melewati tentunya akan mencapai hubungan yang lebih berkualitas, lebih kuat terhadap tantangan hubungan ke depan,” ucapnya.
Riskiyana mengingatkan dalam hubungan jarak jauh, komunikasi yang terjalin tak sekedar memiliki intensitas yang cukup, melainkan juga terletak pada kualitasnya. “Komunikasi rutin tetap perlu, tapi nggak sekedar halo-halo saja. Banyak-banyak bicarakan rencana ke depan, menceritakan hobi, menyampaikan emosi di hari itu,” imbuhnya.
Bila ada masalah, lanjutnya, selesaikan secara jelas sehingga tidak menyisakan persoalan ataupun merembet pada masalah lain yang lebih besar. Terpenting juga, tambahnya adalah komitmen satu sama lain. “Yang penting adalah komitmen satu sama lain, percuma juga kalau kualitas komunikasi baik tapi kalau tidak komitmen,” tuturnya.
Rasa Cemburu Jadi Masalah
Riskiyana Adi Putra, M.Psi., Psikolog menilai kemajuan teknologi yang yang memfasilitasi pertemuan secara daring tersebut bisa saja tidak memberikan sebuah kehangatan dalam hubungan apabila komunikasi dari masing-masing individu berjalan dengan kualitas dan kuantitas yang buruk.
“Yang jelas hindari komunikasi dengan kualitas dan kuantitas yang buruk. Misalnya, sama-sama tidak saling percaya, jadinya tetap sulit. Intinya menjaga kepercayaan masing-masing sehingga hubungan tetap berjalan dengan baik,” jelasnya.
Ketidakpercayaan dalam hubungan yang dijalani secara LDR dapat menyebabkan munculnya kecemburuan yang berlebih. Kecemburuan berlebihan yang dimaksud adalah cemburu yang penuh paranoid dan ketakutan-ketakutan, hingga overthinking dan overprotective. Hal-hal seperti ini bisa memancing pertengkaran yang akan merusak hubungan.
“Jika itu cemburu yang paranoid, buta, emosional, maka kemungkinan kandasnya akan lebih besar,” tuturnya.
Riskiyana mengatakan, ada banyak penyebab dari perasaan cemburu. Namun, cemburu merupakan perasaan yang kewajaran selama bisa disikapi dengan bijak dan mengkomunikasikan kepada pasangan dengan baik.
Baca Juga: Rahasia Bertemu Jodoh: Kepercayaan Diri dan Kesehatan Mental Sebagai Kunci
“Tapi lagi-lagi, sekalipun menjaga komunikasi tapi kalau yang cemburu paranoid gitu akan tetap sulit, karena apapun yang dilakukan tetap saja bawaannya jadi buruk,” tuturnya.
Di sisi lain, penting untuk memiliki komitmen. Karena dengan adanya komitmen, permasalahan seperti kecemburuan mudah untuk diatasi. “Kalau kualitas hubungan sudah bagus, maka masalah cemburu kecil gampang diatasi,” imbuhnya. **
Editor : Miftahul Khair