Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pola Asuh Dapat Memicu Narsistik pada Anak: Begini Fakta dan Solusinya

Miftahul Khair • Rabu, 5 Februari 2025 | 15:00 WIB

 

Ilustrasi perilaku narsistik.
Ilustrasi perilaku narsistik.

Perilaku narsistik ini sudah bisa muncul sejak usia anak-anak dan remaja. Penyebabnya bisa jadi pola asuh yang terjadi antara orangtua dan anak.

Oleh : Siti Sulbiyah

Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan superioritas berlebihan, kebutuhan akan pujian terus-menerus, serta kurangnya empati terhadap orang lain. 

Psikolog Klinis, Ghulbuddin Himamy, M.Psi, Psikolog mengatakan Orang dengan NPD seringkali memiliki rasa harga diri yang rapuh meskipun di luar tampak percaya diri. “Gangguan ini dimulai pada masa-masa dewasa awal, mulai dari 20 tahun dan termanifestasi dalam berbagai perilaku,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa anak-anak dan remaja tidak dapat didiagnosa mengalami NPD. Narsistik pada anak-anak remaja berbeda dengan NPD. Pada anak-anak dan remaja tidak bisa langsung didiagnosa mengalami NPD karena kepribadian mereka masih dalam tahap perkembangan dan ada tahapan-tahapan yang harus dilalui terlebih dahulu hingga terbentuk suatu kepribadian.

Pada anak-anak dan remaja, sebenarnya hal yang muncul adalah ciri-ciri yang mengarah ke perilaku narsistik. 

“Orang dengan kepribadian NPD tidak serta merta menjadi NPD, ada proses yang harus mereka lalui terlebih dahulu. Yaitu munculnya perilaku narsistik,” tuturnya.

Perilaku narsistik ini sudah bisa muncul sejak usia anak-anak dan remaja. Jika mereka tidak mampu mengendalikan perilaku narsistik tersebut dan bertahan hingga bertahun-tahun, serta mulai muncul sifat Grandiosity. Grandiosity sendiri adalah pencapaian, kepentingan, atau kemampuan diri sendiri yang berlebihan.

“Maka lama kelamaan perilaku narsistik ini akan meningkat menjadi NPD,” ucapnya.

Pada perilaku narsistik atau orang-orang yang narsis, mereka memandang diri sebagai superior dibandingkan orang sekitarnya. Pandangan itu membuat mereka tidak sungkan untuk mengorbankan orang-orang sekitarnya untuk mencapai tujuan mereka, tapi pada saat yang bersamaan mereka tidak menyadari tindakan mereka yang merugikan ini.

Ciri-ciri anak dengan pola perilaku narsistik antara lain memonopoli percakapan, meremehkan orang lain, melebih-lebihkan keberhasilan dan prestasi mereka dan meremehkan nilai prestasi orang-orang di sekitar mereka,serta memiliki kesulitan lebih dalam berempati dengan orang lain

Selain itu, mereka juga cenderung mudah marah dan mudah marah jika keinginannya tidak terpenuhi, serta menentang figur otoritas, terutama ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai keinginan mereka.

Gaya pengasuhan seperti apa yang paling berisiko menyebabkan anak berkembang menjadi individu dengan NPD? Ia menilai lingkungan keluarga memainkan peran penting dalam perkembangan kepribadian anak. 

Menurutnya, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang memberikan pujian berlebihan tanpa mempertimbangkan prestasi nyata mereka, atau sebaliknya, dalam keluarga yang kritis dan tidak mendukung, mungkin rentan terhadap perkembangan gangguan kepribadian narsistik. 

“Pola komunikasi yang dominan dan otoriter juga dapat membentuk pola pikir anak yang cenderung egosentris,” tuturnya.

Selain itu, orang tua yang otoriter dan mengendalikan atau yang kurang memberikan batasan dan pedoman yang jelas bisa memengaruhi perkembangan kepribadian anak menjadi narsistik. Selain itu penerapan pola asuh yang terlalu memanjakan anak juga dapat membuat mereka tumbuh tanpa memiliki rasa empati sehingga menumbuhkan kepribadian narsistik ini.

Faktor genetik juga dapat berperan dalam perkembangan gangguan kepribadian narsistik, menurut beberapa penelitian. Anak-anak yang memiliki anggota keluarga dekat dengan riwayat gangguan mental serupa mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gangguan kepribadian narsistik. 

“Hal ini juga dikarenakan, anak-anak mencontoh orang-orang yang ada di sekeliling dalam proses membentuk suatu kepribadian tanpa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” tuturnya.

Di sisi lain, anak yang mengalami trauma, seperti penelantaran, pelecehan, atau ketidakstabilan emosional dalam keluarga, dapat mengembangkan suatu bentuk pertahanan diri. Namun untuk beberapa kasus bentuk pertahanan diri ini berlebihan. 

“Salah satu mekanisme pertahanan ini adalah mengembangkan kepribadian narsistik sebagai cara untuk merasa kuat dan dominan dalam situasi yang terasa tidak terkendali,” imbuhnya. (**)

Editor : Miftahul Khair