Pubertas dini adalah kondisi saat tubuh anak bertumbuh dan berkembang terlalu cepat untuk menjadi dewasa (pubertas). Saat ini tren menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kasus pubertas dini yang kebanyakan dialami oleh anak perempuan. Apa penyebabnya?
Oleh : Siti Sulbiyah
Dalam Article in Journal Of The Indonesian Medical Association yang dirilis pada September 2024 berjudul ‘Menarche dan Pubertas Dini: Kajian Terbaru tentang Penyebab Pubertas Dini serta Dampaknya terhadap Kesehatan Perempuan’, disebutkan bahwa pubertas dini mencakup dampak fisik, psikologis, dan sosial.
Dalam kajian tersebut diketahui bahwa, dokter anak di Indonesia melaporkan peningkatan kasus pubertas dini pada anak perempuan selama pandemi COVID-19 di, dengan banyak yang mengalami menstruasi pertama sebelum usia 10 tahun.
Dokter anak RSU Yarsi Pontianak, dr. Wendi Nurfandi, Sp.A mengatakan pubertas prekoks adalah kondisi ketika anak mengalami perkembangan seksual dan fisik lebih cepat dari biasanya. Kondisi ini juga dikenal sebagai pubertas dini.
“Pubertas dini merupakan suatu keadaan dimana timbul tanda seks sekunder pada anak-anak yang lebih cepat dari biasanya,” ungkapnya.
Idealnya, untuk pubertas perempuan terjadi pada usia 8-13 tahun, dan laki-laki usia 9-14 tahun. Jika muncul kurang dari usia 8 tahun pada perempuan, dan kurang dari usia 9 tahun pada laki-laki-laki, maka disebut pubertas dini
Apa tanda-tanda seks sekunder? Wendi mengatakan tanda-tanda seks sekunder pada anak perempuan antara lain tumbuhnya payudara, yang disertai dengan tumbuhnya rambut-rambut di ketiak dan kemaluan.
Sedangkan bagi anak laki-laki, lanjutnya, tandanya akan terlihat pada tumbuhnya rambut-rambut di kemaluan dan ketiak, serta ukuran buah zakarnya yang setara 4 milimeter. “Kalau ada laki-laki kita harus memang periksa buah zakarnya, kita bandingkan dengan alat orkidometer,” tuturnya.
Dokter yang juga berpraktek di Klinik Utama Arsy Women and Children Clinic ini menilai terjadi tren pubertas dini kian meningkat. Tren pubertas dini pada anak-anak ini cenderung lebih banyak dialami oleh perempuan yang mengalami menstruasi sebelum usia delapan tahun.
Selama ini, masyarakat umum cenderung mengenal menstruasi sebagai tanda pertama pubertas pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki. Namun, Wendi menjelaskan bahwa tanda awal pubertas pada perempuan bukanlah menstruasi, melainkan tumbuhnya payudara. Tumbuhnya payudara adalah indikator awal pubertas yang biasanya diikuti dengan menstruasi sekitar dua tahun setelahnya.
“Jika kita mendapati anak perempuan yang berusia delapan tahun sudah mengalami menstruasi, itu berarti tanda awal pubertasnya sebenarnya sudah terjadi sekitar dua tahun sebelumnya,” ujarnya.
Tumbuhnya payudara pada anak perempuan biasanya tidak langsung besar, tetapi diawali dengan munculnya gundukan kecil.
Kini fenomena ini semakin umum, dengan banyak anak perempuan yang sudah mulai menstruasi pada usia 8 tahun, atau bahkan ketika mereka masih duduk di kelas 2 SD. Orang tua diminta untuk lebih waspada dan segera berkonsultasi dengan dokter jika melihat tanda-tanda pubertas dini pada anak-anak mereka.
Meskipun tren pubertas dini pada anak perempuan semakin meningkat, penyebab pasti dari fenomena ini hingga kini belum sepenuhnya diketahui. Namun, beberapa faktor yang berkaitan dengan perubahan hormon dalam tubuh anak bisa menjadi penyebabnya.
Salah satu langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan tidak adanya kelainan serius di otak, seperti tumor. Tumor di otak dapat memengaruhi kelenjar-kelenjar yang berperan dalam pengaturan hormon seks pada perempuan, yang pada akhirnya dapat mempercepat pubertas. Jika tidak ditemukan kelainan pada otak, maka kondisi tersebut kemungkinan besar merupakan pubertas dini tipe perifer, yang terkait dengan kelainan dalam proses pengaturan hormon seks sekunder.
Selain faktor medis, gaya hidup juga dapat mempengaruhi terjadinya pubertas dini. Hal ini terutama terkait dengan tingginya konsumsi makanan cepat saji dan makanan ultra-proses (processed food) sebagai faktor yang berpotensi mengganggu keseimbangan hormon tubuh. Makanan-makanan ini dapat memengaruhi hormon seks dan menyebabkan tanda-tanda pubertas muncul lebih awal pada anak-anak.
Selain itu, faktor genetik juga bisa berperan dalam menentukan kapan seorang anak akan mengalami pubertas. Anak yang memiliki riwayat keluarga dengan waktu menstruasi lebih cepat, mungkin lebih berisiko untuk mengalami pubertas dini. Namun, ia menekankan bahwa faktor genetik ini tidak selalu berpengaruh 100 persen pada anak, dan setiap individu tetap dapat memiliki pola perkembangan pubertas yang berbeda.
Dampak Fisik hingga Emosional
Pubertas dini dapat memberikan dampak pada perkembangan fisik dan emosional anak. Salah satu dampak yang paling mencolok adalah gangguan pertumbuhan.
Dokter anak RSU Yarsi Pontianak, dr. Wendi Nurfandi, Sp.A menjelaskan bahwa saat pubertas dini terjadi, anak akan mengalami percepatan pertumbuhan, seperti cepatnya tinggi badan.
Pada anak perempuan, biasanya proses pertumbuhan tulang berlanjut hingga usia 13 tahun, sementara pada anak laki-laki bisa mencapai usia 14 tahun. Namun, ketika pubertas dini terjadi, lempeng pertumbuhan tulang yang seharusnya masih bisa tumbuh selama beberapa tahun, sudah tertutup lebih awal.
“Sehingga yang seharusnya ia memiliki waktu yang panjang untuk mengalami proses pertumbuhan, karena pubertas dini maka perlempengan antar tulang itu sudah habis,” tuturnya.
Akibatnya, anak yang mengalami pubertas dini kemungkinan tidak akan tumbuh setinggi yang seharusnya, sehingga saat mereka mencapai usia remaja, mereka akan terlihat lebih pendek dibandingkan teman sebayanya.
Dampak kedua dari pubertas dini adalah efek psikologis yang mungkin timbul, terutama dalam hal pergaulan. Anak yang merasa berbeda dengan teman-temannya, misalnya karena postur tubuh yang lebih pendek, bisa mengalami perasaan minder atau kurang percaya diri.
Lalu, kapan orang tua harus membawa anak ke dokter? Wendi menyarankan agar orang tua mulai lebih peka terhadap tanda-tanda pubertas dini, terutama dengan melakukan pemeriksaan tumbuh kembang secara rutin. Seringkali, perhatian orang tua terhadap pertumbuhan anak hanya terbatas pada masa bayi, padahal penting juga untuk memantau perkembangan anak di usia anak-anak dan remaja.
Ia pun mengingatkan apabila orang tua mencurigai adanya tanda-tanda pubertas dini, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. (*)
Editor : A'an