Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dampak Serius Gigi Rusak: Tak Hanya Estetika, Tapi Juga Kesehatan

Siti Sulbiyah Kurniasih • Jumat, 4 April 2025 | 14:13 WIB
Ilustrasi merawat gigi.
Ilustrasi merawat gigi.

Kesehatan gigi dan rongga mulut merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas hidup yang baik. Gangguan pada gigi dan mulut tidak hanya mengganggu kenyaman hingga estetika, namun juga berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Oleh : Siti Sulbiyah 

HASIL Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa 56,9 persen penduduk Indonesia yang berusia di atas 3 tahun mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Meskipun demikian, hanya 11,2 persen dari mereka yang mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan gigi. Angka ini menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perawatan gigi meskipun masalah kesehatan mulut semakin mendominasi kunjungan ke dokter gigi.

Data ini disampaikan oleh drg. Chandra dalam Webinar bertajuk Healthy Teeth, Healthy Life - Deteksi Dini dan Pencegahan Karies Gigi, yang diadakan oleh Klinik Satelit UI pada pekan lalu. Menurutnya, gangguan kesehatan rongga mulut yang paling sering ditemui adalah karies gigi. 

“Sekitar 70 persen kunjungan pasien ke dokter gigi adalah karena karies,” ujarnya. Karies gigi dapat dialami sepanjang hidup, dari gigi susu hingga usia lanjut.

Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan mikroba dalam rongga mulut. Mikroba seperti bakteri, virus, dan jamur bisa berada dalam rongga mulut, dan apabila kondisi mikroba ini tidak seimbang, bisa menyebabkan disbiosis. Disbiosis adalah ketidakseimbangan yang dapat mengarah pada pembentukan bakteri patogen yang berpotensi menyebabkan penyakit, termasuk kerusakan pada gigi dan gusi.

Masyarakat seringkali berpikir bahwa jika tidak merasakan sakit, mereka tidak perlu pergi ke dokter gigi. Padahal, menurutnya, masalah gigi yang tidak ditangani sejak awal dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih parah. 

“Kalau sudah sampai lubang besar pada gigi, mungkin sudah hampir kepotek, hampir patah, ini bisa mengakibatkan nyeri bisa luar biasa bahkan ketika kena minuman dingin, manis asam, bisa langsung sensitif,” paparnya. 

Kesehatan rongga mulut dikatakannya terkait dengan kesehatan tubuh secara sistemik. Dalam publikasi jurnal ilmiah terkini menunjukkan adanya hubungan erat antara kesehatan rongga mulut dan kesehatan tubuh secara keseluruhan, baik untuk saluran pencernaan maupun kesehatan jantung dan pembuluh darah. 

Dalam penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa pasien dengan penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan pembuluh darah) memiliki jenis mikroba tertentu yang jumlahnya meningkat dan ternyata mirip dengan mikroba yang ada di rongga mulut mereka. 

“Bahwa terdapat hubungan yang dua arah dimana kondisi rongga mulutnya itu sendiri

bisa memperberat gejala-gejala dari penyakit kardiovaskular, pencernaan, maupun jantung pembuluh darah,” katanya.

Karies gigi, yang merupakan proses demineralisasi jaringan keras gigi akibat metabolisme bakteri, menjadi salah satu masalah utama dalam kesehatan rongga mulut. Ia menjelaskan bahwa ketidakseimbangan mineral pada gigi, yang dipengaruhi oleh faktor eksternal, dapat menyebabkan gigi menjadi lapuk. 

Faktor-faktor seperti pola makan yang tidak sehat, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, gaya hidup tidak sehat, dan kondisi medis tertentu berperan besar dalam timbulnya masalah seperti karies, gingivitis, periodontitis, kandidiasis oral, dan bau mulut.

Salah satu dampak dari kerusakan gigi adalah kehilangan gigi itu sendiri. Ia mengatakan kehilangan gigi, terutama gigi geraham belakang, berdampak tidak hanya pada fungsi gigi tetapi juga pada penampilan fisik. Kehilangan gigi dapat menyebabkan perubahan susunan gigi lainnya, seperti pergeseran gigi lawan atau gigi samping yang semula rapat menjadi longgar. 

"Profil wajah bisa tampak lebih kempot dan tampak lebih tua dari usia sebenarnya," ujarnya. Gangguan fungsional lainnya seperti kesulitan dalam mengunyah atau pengucapan juga bisa muncul.

Mengingat sejumlah gangguan yang mungkin terjadi pada gigi, ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan rongga mulut. Salah satunya dengan memperhatikan pola makan, terutama dalam memilih makanan yang dikonsumsi. 

Menurutnya, makanan-makanan lunak yang sudah diproses dan bukan makanan alami (natural food) memiliki kandungan gula yang lebih mudah terurai. Hal ini menyebabkan risiko karies gigi semakin tinggi, karena gula yang terurai lebih mudah diubah menjadi asam oleh bakteri di mulut, yang kemudian merusak enamel gigi. 

"Makanan instan memang sangat praktis, tetapi kita harus bijak dalam mengonsumsinya," tambahnya.

Selain itu, kualitas tidur yang buruk juga dapat berdampak pada kesehatan rongga mulut. Kurang tidur dapat mengurangi produksi air liur, yang berfungsi untuk menjaga kelembapan mulut. Akibatnya, mulut menjadi kering, dan gusi menjadi lebih rentan terhadap perdarahan.

 

Untuk itu, ia menegaskan pentingnya menjaga gaya hidup yang seimbang, termasuk pola makan sehat dan tidur yang cukup, sangat penting untuk menjaga kesehatan mulut dan mencegah berbagai masalah gigi. **

Editor : Miftahul Khair
#estetika #kesehatan #dampak #gigi rusak