23.9 C
Pontianak
Thursday, December 1, 2022

Beda Perundungan dan Konflik

Perundungan dan konflik (perkelahian) kerap terjadi di mana saja, termasuk sekolah. Sama-sama menggunakan kekerasan fisik, ternyata keduanya memiki definisi berbeda. Walau demikian, perundungan maupun konflik memerlukan peran orang tua untuk menyikapinya.

Oleh: Siti Sulbiyah

“Jika anak saya dipukul kepalanya dua kali, lalu dia balas pukul balik, itu disebut perkelahian atau perundungan? Sebab, teman anak saya melakukan hal serupa, disebut perundungan sampai dilaporkan ke polisi. Padahal, dia membalas perbuatan temannya.” Riani, ASN di Kalimantan Barat.

Riani (39) terkejut mendengar cerita anaknya mengenai kejadian di sekolahnya. Sang anak berusia 9 tahun. Dia bersekolah di salah satu sekolah swasta di Kota Pontianak. “Anak saya cerita, temannya dilaporkan ke polisi oleh orang tua siswa karena dituduh melakukan perundungan. Bahkan hingga masuk media cetak,” ujar Riani.

Lantas, Riani pun mencari informasi mengenai kejadian tersebut. Ternyata teman anaknya dilaporkan ke polisi dengan tuduhan perundungan hingga menyebabkan seorang anak masuk rumah sakit. Dia pun mendapat dua versi cerita. Yakni, ada yang bercerita sesuai versi orang tua korban yakni anaknya dirundung. Anaknya dikeroyok ramai-ramai hingga masuk rumah sakit. Namun, dia juga mendapatkan versi lainnya.

Riani pun mengorek cerita dari anaknya. “Nah, saya tanya anak saya. Biasanya anak-anak kan jujur. Ternyata, anak saya bercerita bahwa temannya ada yang melihat kejadian tersebut,” ungkap Riani.

Menurut anak Riani, awalnya ada tiga anak berkumpul di suatu tempat. Sebut saja, A, B, dan C. Lalu datang D bersama temannya. Nah, tiba-tiba C ini garuk-garuk kepala dan memukul kepala D. D tidak membalas. Lalu C memukul lagi kepala D untuk kedua kalinya. D marah dan memiting C. Habis itu dia pergi. Ternyata setelah itu, datang lagi siswa lain, sebut saja E. Lantas, E berkelahi sama anak C hingga anak C muntah. Akhirnya seluruh anak yang berkonflik dengan C tersebut dilaporkan ke polisi.

“Nah, mendengar cerita dari anak saya, langsung saya tanya, di sekolah ada CCTV atau tidak. Kalau ada CCTV kan bisa diketahui kejadian secara jelas sehingga tidak berat sebelah. Ternyata sekolah tidak ada CCTV,” ungkap Riani.

Perempuan bekerja sebagai ASN di Kota Pontianak ini pun merasa khawatir melepas anaknya ke sekolah. “Khawatirnya begini. Seandainya anak saya dipukulin, dia tidak balas, ya dia yang bonyok. Tapi kalau dia balas, anak orang yang bonyok, lalu dilaporin polisi. Apalagi jika orang tua yang menjadi lawan anak saya merasa punya  power,” ujar Riani.

Riani juga menjadi bingung antara beda perundungan dan perkelahian. “Jika anak saya dipukul kepalanya dua kali, lalu dia balas pukul balik, itu disebut perkelahian atau perundungan? Sebab, teman anak saya melakukan hal serupa, disebut perundungan sampai dilaporkan ke polisi. Padahal, dia membalas perbuatan temannya,” tanya Riani.

Baca Juga :  Seks Aman di Tengah Pandemi Covid-19

Menurut Riani, seharusnya pihak sekolah memiliki peran penting atas kejadian tersebut. Pihak sekolah bisa menghadirkan seluruh orang tua yang anaknya bertikai, sebelum masuk ke kepolisian. Lantas sama-sama mendengarkan kejadian dari para saksi mata.

“Sekolah sebaiknya juga memasang CCTV. Biar ada bukti mengenai kejadian apapun. Baik perkelahian maupun pencurian,” katanya.

Di tempat terpisah, Umi Kalsum, S.Psi.,M.Psi.,Psikolog menjelaskan perundungan merupakan perilaku menyakitkan dan dilakukan berulang-ulang. Sementara berkelahi tidak dilakukan berulang-ulang.

“Kalau perundungan itu yang dirugikan satu pihak. Nah, kalau berkelahi kedua pihak terlibat,” kata Umi.

Dalam kasus perundungan, ada ketidakseimbangan kekuatan dimana pelaku memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan korban. Perundungan juga terjadi karena kesengajaan dan seringnya terjadi secara berulang.

“Jadi agresi yang dilakukan secara sengaja baik verbal maupun fisik oleh pelaku bully, dan biasanya terjadi berulang,” jelas Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Kalbar ini.

Perundungan jelas berbeda dengan perkelahian atau berantem. Perkelahian kekuatannya bisa dikatakan relatif seimbang. Penyebab perkelahian terjadi karena ada pihak-pihak yang bertikai atau berkonflik.

Berkenaan dengan perundungan, psikolog klinis di Klinik Utama Sungai Bangkong ini menuturkan anak yang melakukan perundungan cenderung ada perasaan ingin berkuasa, menonjolkan eksistensinya, hingga ingin diperhatikan.

“Termasuk anak yang menjadi korban bully (perundungan, red), juga pada akhirnya berpotensi menjadi pelaku perundungan,” katanya.

Umi Kalsum mengungkapkanfaktor internal dan eksternal turut memengaruhi kondisi psikologis anak yang melakukan tindakan perundungan. Dari faktor internal, pola asuh orangtua dan lingkungan keluarga memberikan porsi yang sangat besar.

“Bisa jadi anak mendapat intimidasi dari kakak-kakaknya. Atau anak yang di dalam keluarga tidak bisa menyalurkan emosinya di keluarga, maka disalurkannya ke lingkungan lain,” tuturnya.

Umi mengatakan perilaku negatif yang ditunjukkan oleh anak, baik itu perundungan maupun perkelahian bisa jadi karena mereka mencontoh orang lain, entah itu dari lingkungan keluarga, maupun karena bermain gawai.

“Karena mereka melakukan hal seperti itu bukan salah mereka. Mereka melakukan tindakan agresif pasti ada contoh atau pola asuh yang salah,” ucapnya.

Umi mengingatkan pola asuh kedua orangtua harus terlibat dengan seimbang. Ketidakseimbangan pola asuh ayah dan ibu bisa membuat psikologi anak terganggu, serta membuat nilai-nilai kehidupan tidak tertanam dengan baik pada anak.

Ibu umumnya berperan dalam mengasah kasih sayang, simpati, dan empati anak. Sementara ayah punya peran dalam mengajarkan tanggung jawab. Bahkan, ayah cenderung memiliki peran yang besar dalam membentuk superego anak.

Baca Juga :  Semangat dari Ramadan Planner

Superego sendiri adalah bagian moral atau etis dari kepribadian. Superego dikaitkan dengan aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat, penentuan nilai benar dan salah dalam segala sesuatu.

“Sehingga ketika superego anak sudah terpenuhi dengan baik, maka dia bisa membedakan mana perilaku yang salah mana yang benar,” pungkasnya.

Tempuh Langkah Diversi

Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD)  Kalbar, Eka Nurhayati mengatakan kasus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) yang pernah ditangani oleh pihaknya cenderung lebih banyak kasus perundungan, baik yang terjadi di ruang lingkup sekolah ataupun di ruang lingkup masyarakat.

“Biasanya ada anak sama anak berantem, atau sering melakukan bullying (perundungan, red), satu sama lain yang menyebabkan korbannya tidak senang hingga melapor ke pihak kepolisian atau minta KPPAD Kalbar untuk mendampingi,” ungkapnya.

ABH sendiri adalah anak yang telah berumur 12 tahun, tetapi belum berumur 18 tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Penanganannya, dikatakan Eka mengacu pada Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012.

Selain perundungan, ada pula kasus pemukulan maupun perkelahian antaranak. Eka menyebutkan pihaknya pernah menangani kasus pemukulan dan perkelahian anak ini dalam jenjang pendidikan paling bawah, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Beberapa kasus bisa diredam dengan cepat melalui penyelesaian dengan pihak sekolah. Namun, ada pula yang pada akhirnya melibatkan aparat hukum.

“Kasus-kasus yang berkaitan dengan pemukulan dan perkalian yang ada tidak kita pungkiri terjadi bukan hanya satu dua kasus, melainkan lebih dari itu,” ujarnya.

Eka menuturkan jalur penyelesaian yang ditempuh mengacu pada Sistem Peradilan Pidana Anak. Jalur penyelesaian bisa dilakukan dengan diversi, yakni pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana

“Kalau anak ini belum pernah melakukan satu kesalahan ataupun sifatnya tidak pengulangan sehingga langkah yang pertama itu dilaksanakan diversi di mana melibatkan pihak kepolisian, Bapas, dan pihak terkait. Di situlah mengambil keputusan apa yang harus diberikan,” jelasnya.

Pihaknya berupaya untuk menghindarkan anak agar tidak sampai terkena pidana. Sehingga memang sejak awal penyelesaian mengacu pada SPPA yakni menempuh langkah diversi.

“Langkah diversi yang paling banyak ditempuh untuk diselesaikan. Anak-anak dimediasikan atau dilaksanakan restoran justice,” pungkasnya.**

Perundungan dan konflik (perkelahian) kerap terjadi di mana saja, termasuk sekolah. Sama-sama menggunakan kekerasan fisik, ternyata keduanya memiki definisi berbeda. Walau demikian, perundungan maupun konflik memerlukan peran orang tua untuk menyikapinya.

Oleh: Siti Sulbiyah

“Jika anak saya dipukul kepalanya dua kali, lalu dia balas pukul balik, itu disebut perkelahian atau perundungan? Sebab, teman anak saya melakukan hal serupa, disebut perundungan sampai dilaporkan ke polisi. Padahal, dia membalas perbuatan temannya.” Riani, ASN di Kalimantan Barat.

Riani (39) terkejut mendengar cerita anaknya mengenai kejadian di sekolahnya. Sang anak berusia 9 tahun. Dia bersekolah di salah satu sekolah swasta di Kota Pontianak. “Anak saya cerita, temannya dilaporkan ke polisi oleh orang tua siswa karena dituduh melakukan perundungan. Bahkan hingga masuk media cetak,” ujar Riani.

Lantas, Riani pun mencari informasi mengenai kejadian tersebut. Ternyata teman anaknya dilaporkan ke polisi dengan tuduhan perundungan hingga menyebabkan seorang anak masuk rumah sakit. Dia pun mendapat dua versi cerita. Yakni, ada yang bercerita sesuai versi orang tua korban yakni anaknya dirundung. Anaknya dikeroyok ramai-ramai hingga masuk rumah sakit. Namun, dia juga mendapatkan versi lainnya.

Riani pun mengorek cerita dari anaknya. “Nah, saya tanya anak saya. Biasanya anak-anak kan jujur. Ternyata, anak saya bercerita bahwa temannya ada yang melihat kejadian tersebut,” ungkap Riani.

Menurut anak Riani, awalnya ada tiga anak berkumpul di suatu tempat. Sebut saja, A, B, dan C. Lalu datang D bersama temannya. Nah, tiba-tiba C ini garuk-garuk kepala dan memukul kepala D. D tidak membalas. Lalu C memukul lagi kepala D untuk kedua kalinya. D marah dan memiting C. Habis itu dia pergi. Ternyata setelah itu, datang lagi siswa lain, sebut saja E. Lantas, E berkelahi sama anak C hingga anak C muntah. Akhirnya seluruh anak yang berkonflik dengan C tersebut dilaporkan ke polisi.

“Nah, mendengar cerita dari anak saya, langsung saya tanya, di sekolah ada CCTV atau tidak. Kalau ada CCTV kan bisa diketahui kejadian secara jelas sehingga tidak berat sebelah. Ternyata sekolah tidak ada CCTV,” ungkap Riani.

Perempuan bekerja sebagai ASN di Kota Pontianak ini pun merasa khawatir melepas anaknya ke sekolah. “Khawatirnya begini. Seandainya anak saya dipukulin, dia tidak balas, ya dia yang bonyok. Tapi kalau dia balas, anak orang yang bonyok, lalu dilaporin polisi. Apalagi jika orang tua yang menjadi lawan anak saya merasa punya  power,” ujar Riani.

Riani juga menjadi bingung antara beda perundungan dan perkelahian. “Jika anak saya dipukul kepalanya dua kali, lalu dia balas pukul balik, itu disebut perkelahian atau perundungan? Sebab, teman anak saya melakukan hal serupa, disebut perundungan sampai dilaporkan ke polisi. Padahal, dia membalas perbuatan temannya,” tanya Riani.

Baca Juga :  Berburu Diskon Lewat QR Code

Menurut Riani, seharusnya pihak sekolah memiliki peran penting atas kejadian tersebut. Pihak sekolah bisa menghadirkan seluruh orang tua yang anaknya bertikai, sebelum masuk ke kepolisian. Lantas sama-sama mendengarkan kejadian dari para saksi mata.

“Sekolah sebaiknya juga memasang CCTV. Biar ada bukti mengenai kejadian apapun. Baik perkelahian maupun pencurian,” katanya.

Di tempat terpisah, Umi Kalsum, S.Psi.,M.Psi.,Psikolog menjelaskan perundungan merupakan perilaku menyakitkan dan dilakukan berulang-ulang. Sementara berkelahi tidak dilakukan berulang-ulang.

“Kalau perundungan itu yang dirugikan satu pihak. Nah, kalau berkelahi kedua pihak terlibat,” kata Umi.

Dalam kasus perundungan, ada ketidakseimbangan kekuatan dimana pelaku memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan korban. Perundungan juga terjadi karena kesengajaan dan seringnya terjadi secara berulang.

“Jadi agresi yang dilakukan secara sengaja baik verbal maupun fisik oleh pelaku bully, dan biasanya terjadi berulang,” jelas Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Kalbar ini.

Perundungan jelas berbeda dengan perkelahian atau berantem. Perkelahian kekuatannya bisa dikatakan relatif seimbang. Penyebab perkelahian terjadi karena ada pihak-pihak yang bertikai atau berkonflik.

Berkenaan dengan perundungan, psikolog klinis di Klinik Utama Sungai Bangkong ini menuturkan anak yang melakukan perundungan cenderung ada perasaan ingin berkuasa, menonjolkan eksistensinya, hingga ingin diperhatikan.

“Termasuk anak yang menjadi korban bully (perundungan, red), juga pada akhirnya berpotensi menjadi pelaku perundungan,” katanya.

Umi Kalsum mengungkapkanfaktor internal dan eksternal turut memengaruhi kondisi psikologis anak yang melakukan tindakan perundungan. Dari faktor internal, pola asuh orangtua dan lingkungan keluarga memberikan porsi yang sangat besar.

“Bisa jadi anak mendapat intimidasi dari kakak-kakaknya. Atau anak yang di dalam keluarga tidak bisa menyalurkan emosinya di keluarga, maka disalurkannya ke lingkungan lain,” tuturnya.

Umi mengatakan perilaku negatif yang ditunjukkan oleh anak, baik itu perundungan maupun perkelahian bisa jadi karena mereka mencontoh orang lain, entah itu dari lingkungan keluarga, maupun karena bermain gawai.

“Karena mereka melakukan hal seperti itu bukan salah mereka. Mereka melakukan tindakan agresif pasti ada contoh atau pola asuh yang salah,” ucapnya.

Umi mengingatkan pola asuh kedua orangtua harus terlibat dengan seimbang. Ketidakseimbangan pola asuh ayah dan ibu bisa membuat psikologi anak terganggu, serta membuat nilai-nilai kehidupan tidak tertanam dengan baik pada anak.

Ibu umumnya berperan dalam mengasah kasih sayang, simpati, dan empati anak. Sementara ayah punya peran dalam mengajarkan tanggung jawab. Bahkan, ayah cenderung memiliki peran yang besar dalam membentuk superego anak.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Dibalik Bar Coffee

Superego sendiri adalah bagian moral atau etis dari kepribadian. Superego dikaitkan dengan aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat, penentuan nilai benar dan salah dalam segala sesuatu.

“Sehingga ketika superego anak sudah terpenuhi dengan baik, maka dia bisa membedakan mana perilaku yang salah mana yang benar,” pungkasnya.

Tempuh Langkah Diversi

Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD)  Kalbar, Eka Nurhayati mengatakan kasus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) yang pernah ditangani oleh pihaknya cenderung lebih banyak kasus perundungan, baik yang terjadi di ruang lingkup sekolah ataupun di ruang lingkup masyarakat.

“Biasanya ada anak sama anak berantem, atau sering melakukan bullying (perundungan, red), satu sama lain yang menyebabkan korbannya tidak senang hingga melapor ke pihak kepolisian atau minta KPPAD Kalbar untuk mendampingi,” ungkapnya.

ABH sendiri adalah anak yang telah berumur 12 tahun, tetapi belum berumur 18 tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Penanganannya, dikatakan Eka mengacu pada Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012.

Selain perundungan, ada pula kasus pemukulan maupun perkelahian antaranak. Eka menyebutkan pihaknya pernah menangani kasus pemukulan dan perkelahian anak ini dalam jenjang pendidikan paling bawah, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Beberapa kasus bisa diredam dengan cepat melalui penyelesaian dengan pihak sekolah. Namun, ada pula yang pada akhirnya melibatkan aparat hukum.

“Kasus-kasus yang berkaitan dengan pemukulan dan perkalian yang ada tidak kita pungkiri terjadi bukan hanya satu dua kasus, melainkan lebih dari itu,” ujarnya.

Eka menuturkan jalur penyelesaian yang ditempuh mengacu pada Sistem Peradilan Pidana Anak. Jalur penyelesaian bisa dilakukan dengan diversi, yakni pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana

“Kalau anak ini belum pernah melakukan satu kesalahan ataupun sifatnya tidak pengulangan sehingga langkah yang pertama itu dilaksanakan diversi di mana melibatkan pihak kepolisian, Bapas, dan pihak terkait. Di situlah mengambil keputusan apa yang harus diberikan,” jelasnya.

Pihaknya berupaya untuk menghindarkan anak agar tidak sampai terkena pidana. Sehingga memang sejak awal penyelesaian mengacu pada SPPA yakni menempuh langkah diversi.

“Langkah diversi yang paling banyak ditempuh untuk diselesaikan. Anak-anak dimediasikan atau dilaksanakan restoran justice,” pungkasnya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/