Berangkat dari permasalahan tersebut, Pontianak Post melakukan penelusuran keberadaan I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya yang telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Mempawah menjadi Bencana Cagar Budaya (BCB) sejak 2012 silam. Tak disangka, banyak fakta-fakta menarik yang ditemukan Pontianak Post saat melakukan penelusuran di lokasi makam tersebut.
Seperti apa kisahnya, ikuti perjalanan Pontianak Post dalam mencari jejak sejarah keberadaan Putri Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin di tanah Galaherang Mempawah.
Perjalanan kami dimulai pada Kamis (3/4) pagi. Pontianak Post bersama awak media cetak maupun online di Kabupaten Mempawah memulai pencarian di Pulau Temajo, Kecamatan Sungai Kunyit. Jam menunjukkan pukul 09.00, kami memulai keberangkatan dari dermaga di Jalan Nelayan Sungai Kunyit.
Cuaca saat tampak cerah, sinar matahari terasa pekat menyengat kulit. Pagi itu, kondisi air laut sedang surut, sehingga motor air yang kami tumpangi tak bisa merapat ke dermaga. Terpaksa, kami menyewa sampan kecil untuk menuju motor air yang telah menunggu.
Setelah semua penumpang dan logistik diangkut ke motor air, perjalanan menuju ke Pulau Temajo dilanjutkan. Tujuan utamanya adalah Tanjung Matowa yang menjadi lokasi makam I Fatimah Daeng Takontu. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan pulau yang di depannya terdapat pelabuhan Internasional Kijing.
Jalan menuju dermaga yang membelah laut sepanjang 3,5 kilometer itu cukup memberi hiburan tersendiri. Sebab siapa yang sangka, dulunya hanyalah lautan, kini berdiri bangunan megah yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Tak terasa, 40 menit kami melakukan perjalanan dan tiba di Tanjung Matowa. Setibanya di pinggiran tanjung, kondisi air laut masih surut. Sehingga memaksa para awak media terjun ke air, sembari mengarahkan motor air secara manual agar bisa lebih merapat ke bibir pantai.
Sesampainya di pantai, perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalan setapak menuju ke makam I Fatimah. Jalan dengan pondasi semen itu memiliki lebar 1 meter. Sekitar 50 meter berjalan, kami menemukan rangka bangunan surau berukuran kurang lebih 4 x 6 meter, yang beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial, dikarenakan di bangunan tersebut berada di atas lahan pribadi dan terancam akan digusur.
Dari situ perjalanan dilanjutkan dengan kondisi jalan mendaki ke arah bukit. Meskipun sempat kelelahan dikarenakan trek yang menanjak, namun akhirnya kami sampai ke lokasi makam, yang diperkirakan berjarak 500 meter dari bangunan rangka surau.
Sesampainya di sana, kami menemukan makam I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya. Di lokasi itu, ada dua makam yang posisinya bersebelahan dan dipagar dengan kain kuning. Kedua makam tersebut ditambak menggunakan kayu yang juga berwarna kuning.
Posisi makam lebih rendah tertulis nama Daeng Siti Fatimah, sedangkan makam sebelahnya dengan posisi tambak yang lebih tinggi tertulis nama Syech Daeng Talibe. Berdasarkan refrensi yang didapatkan dari Disdikporapar Kabupaten Mempawah, bahwa.
Daeng Siti Fatimah merupakan Panglima Perang Kerajaan Mempawah wilayah laut, sedangkan Syech Daeng Talibe merupakan suaminya yang juga membantu perjuangannya mengusir penjajah dari Bumi Galaherang.
Kami lalu melakukan penelusuran di sekitaran makam, namun tidak ditemukan benda atau peninggalan apapun. Hanya hutan belantara yang terdiri dari semak belukar dan pepohonan serta bebatuan bukit. Ada juga atap yang sudah roboh. Bangunan tersebut merupakan atap dari makam I Fatimah Daeng Takontu Karaeng Campagaya dan suaminya Syech Daeng Talibe.
Secara keseluruhan, keberadaan BCB ini tampak tak terurus dengan baik. Bahkan bisa dikatakan terlihat miris jika dibandingkan dengan BCB seperti Makam Opu Daeng Menambon di Desa Pasir, yang telah ditata dan dikelola dengan berbagai fasilitas mumpuni.
Selain bangunan yang tidak refresentatif, bangunan hanya berupa makam yang atapnya sudah roboh, begitu pun akses jalan menuju ke lokasi makam juga hanya jalan setapak. Bahkan, plang BCB yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Mempawah hanya ala kadar berupa spanduk yang dibentang di belakang makam.
Setelah tak menemukan bukti jejak sejarah di lokasi tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke makam kedua yang juga disebut-sebut sebagai makam Daeng Fatimah. Lokasinya cukup jauh berada di Pasir Panjang Pulau Temajo.
Untuk menuju ke lokasi tersebut, diperlukan waktu kurang lebih 30 menit perjalanan menggunakan motor air dengan menyusuri tepian pulau. Setibanya di tepi pantai, motor air merapat ke tepian. Kami pun menuju tempat yang teduh untuk beristirahat siang.
Tempat kami istirahat merupakan pedataran yang terletak di sebelah pemukiman warga. Di Pasir Panjang, ada beberapa bangunan yang merupakan tempat tinggal nelayan. Ada pula pondok penginapan dan warung yang terlihat kosong, dikarenakan kami pergi bukan pada akhir pekan.
Karena lokasi tersebut memang biasa dikunjungi warga yang ingin berwisata di Pulau Temajo. Dikarenakan kondisi pantainya yang bersih dengan air yang jernih. Ditambah wilayah Pasir Panjang yang tidak terdapat bebatuan, maka menjadi spot wisatawan untuk menikmati lautan.
Usai melaksanakan Ishoma, kami pun menuju ke lokasi makam Fatimah di badan bukit. Topografi lingkungan makam kurang lebih sama dengan makam I Fatimah di Tanjung Matowa. Sepanjang perjalanan juga dikelilingi semak belukar dan hutan belantara.
Sesampainya di makam yang berjarak kurang lebih 500 meter dari tempat kami istirahat, ditemukan tiga buah makam, yaitu makam bertuliskan nama Daeng Fatimah, Daeng Majok, dan satu buah makam tak bernama dengan tanda berupa nisan berbentuk kepingan batu. Dilihat dari bentuknya, nisan batu tersebut diduga nisan anak kecil, yang berdasarkan perawat makam adalah anak dari Daeng Fatimah dan Daeng Majuk.
Di lokasi kedua ini, kondisi makam Daeng Fatimah terlihat sangat terawat. Sebab makam tersebut terlihat sudah terlindungi oleh bangunan atap seng dan tambak dari keramik. Sedangkan makam Daeng Majuk hanya terlihat nisannya saja. Kiri kanan makam terlihat bekas kayu tambak makam yang terlihat sudah berumur tua.
Menurut Daeng Muin, penjaga makam yang mengaku sebagai garis keturunan dari Daeng Fatimah, dirinya sudah merawat makam tersebut sejak 1976 atau sekitar 45 tahun silam. Sejak dulu, dilokasi itu telah ditemukan tiga buah makam seperti yang terlihat sampai saat ini.
Menurut penuturan Daeng Muin, makam yang terletak di pasir panjang ini adalah makam yang asli bersemayamnya Daeng Fatimah, sehingga sangat ramai masyarakat yang berziarah ke makam Daeng Fatimah dan Daeng Majok itu.
“Di sini makam yang asli Daeng Fatimah. Kalau ditempat lain hanya simbol saja,” katanya.
Bahkan, imbuh Daeng Muin, keaslian makam Daeng Fatimah itu dibuktikan dengan adanya peninggalan bangunan dan sumur yang dulunya digunakan oleh mendiang Daeng Fatimah saat bermukim di Pulau Temajo.
“Di sekitar makam ini ada bekas sumur dan rumah yang ditempati Daeng Fatimah. Bahkan, sumurnya masih ada sampai sekarang,” tegas Daeng Muin sembari menunjukkan arah bekas rumah dan sumur tersebut kepada awak media.
Usai menilik makam Daeng Fatimah dan Daeng Majok di Pasir Panjang, kami bertolak kembali ke Sungai Kunyit. Namun, kami tak langsung pulang ke Kota Mempawah. Sebab berdasarkan informasi dari pemilik motor air, terdapat sosok orang yang dituakan bernama H. Abdul Rani. Pria 78 tahun yang kini bermukim di sekitaran Pasar Sungai Kunyit itu mengetahui seluk beluk Pulau Temajo dan keberadaan makam yang dikeramatkan masyarakat.
Sebagian hidup H Abdul Rani dihabiskan di Pulau Temajo. Karena Pak Cik Rani dan keluarganya memang bermukim di Pulau Temajo sebelum akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Sungai Kunyit. Tak perlu waktu lama menemukan kediaman Pak Cik Rani. Sebab ketika kami bertanya di salah satu warung, ternyata Pak Cik Rani berada di warung tersebut.
Bak gayung bersambut, Pak Cik Rani langsung menerima kehadiran awak media dengan hangat. Pria yang sudah bercicit tersebut menuturkan pengakuan yang cukup mengejutkan. Sebab dia meyakini bahwa tidak pernah ada makam I Fatimah di wilayah Pulau Temajo. Menurut dia, justru makam yang disakralkan oleh masyarakat berada di Tanjung Putus yakni makam Utin Fatinah.
“Tidak banyak orang yang tahu tentang makam Utin Fatinah di Tanjung Putus. Dan saya mengetahui keberadaan makam tersebut sejak lahir. Karena, orang tua saya lahir dan hidup di Pulau Temajo,” kenangnya.
Sejak dulu, Cik Rani mengaku tidak pernah mendengar maupun melihat langsung makam Daeng Fatimah baik di Tanjung Matowa maupun di Pasir Panjang. Menurut dia, makam di dua lokasi itu merupakan makam baru.
“Di Pulau Temajo itu ada lebih dari 300 makam. Cuma banyak yang tidak ada batu nisannya. Kebanyakan makam masyarakat biasa yang dulu bermukim di pulau tersebut. Dan yang dikeramatkan hanya makam Utin Fatinah. Tidak ada lagi makam yang lain, termasuk Daeng Fatimah tidak pernah ada,” tegasnya.
Maka, Cik Rani menilai suatu kesalahan besar jika Pemerintah Kabupaten Mempawah menyebut ada makam Daeng Fatimah di Tanjung Matowa. Apalagi, makam tersebut telah ditetapkan sebagai BCB.
“Sejak kecil hingga besar saya berada di Pulau Temajo. Tidak pernah ada makam lain yang dikeramatkan selain Utin Fatinah. Bohong saja jika ada yang mengatakan makam Daeng Fatimah dan lainnya. Salah besar Pemerintah Kabupaten Mempawah,” sesalnya.
Masih menurut Cik Rani, makam yang ada di Tanjung Matowa hanyalah makam biasa dan tidak dikeramatkan. Namun, ada oknum yang ingin mencari nama sehingga membuat-buat makam dengan mengatasnamakan Daeng Fatimah agar menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
“Ada orang-orang yang ingin mencari nama hingga membuat-buat ada makam Daeng Fatimah di Tanjung Matowa. Padahal, itu hanya makam biasa saja bukan keramat. Bohong semua jika ada yang membuat-buat makam diluar dari Makam Utin Fatina,” tegasnya lagi.
Cik Rani menjelaskan sosok Utin Fatina merupakan masyarakat yang berasal dari Sambas. Dimasa itu, mendiang Utin Fatina merupakan pemuka agama yang menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat di Pulau Temajo.
“Beliau (Utin Fatina) merupakan pemuka agama di Pulau Temajo. Sehingga ketika meninggal dunia, maka makamnya di keramatkan oleh masyarakat di Pulau Temajo. Dan sampai sekarang kita bisa melihat kekeramatannya. Walau makam tersebut di tepi pantai tapi tidak pernah terendam air,” bebernya. (wah) Editor : Super_Admin