
PONTIANAK POST – Prancis dilanda salah satu gelombang demonstrasi paling besar dan rusuh dalam beberapa dekade terakhir pada Sabtu (17/10). Dipicu kemarahan terhadap mahalnya biaya hidup, buruknya kondisi pendidikan, dan merosotnya layanan publik, aksi yang melibatkan ratusan ribu orang itu berujung pada bentrokan, penjarahan, serta pembakaran bangunan. Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyebut sekitar 1.800 orang telah ditangkap hingga Minggu (18/10).
Gelombang protes serupa berlangsung di Portugal, Italia, dan Belgia. Meski tidak terkoordinasi sebagai satu gerakan, demonstrasi di berbagai negara tersebut memperlihatkan keluhan yang beririsan: tekanan ekonomi, sulitnya mengakses layanan dasar, serta kekhawatiran terhadap masa depan generasi muda.
Profesor Alberto Alemanno dari HEC Paris menilai Prancis menjadi episentrum gelombang protes tersebut. Menurut pakar kebijakan Uni Eropa itu, persoalan biaya hidup, pendanaan pendidikan, dan prospek kerja setelah lulus telah mempertemukan kelompok masyarakat yang berbeda dalam aksi jalanan.
“Prancis adalah episentrum gerakan ini … dan ada tanda-tanda sekarang bahwa gerakan ini menyebar ke luar Prancis,” kata Alemanno kepada Al Jazeera, seperti dikutip Minggu (18/10).
Alemanno memperingatkan, gelombang demonstrasi belum tentu berakhir. Ia juga melihat tanda-tanda awal mobilisasi serupa di Yunani, Jerman, dan Austria, meski perkembangan di negara-negara tersebut masih perlu dipantau.
Akar Protes Berawal dari Sekolah
Unjuk rasa di Prancis bukan semata-mata dipicu kenaikan harga barang. Aksi tersebut bermula dari protes pelajar sekolah menengah di kawasan pinggiran utara Paris sejak September, yang menyoroti kekurangan guru dan buruknya fasilitas sekolah.
Keluhan pelajar kemudian berkembang menjadi kemarahan yang lebih luas terhadap ketimpangan, belanja publik, dan penurunan kualitas hidup. Guru, serikat buruh, pekerja, aktivis, petani, serta pendukung gerakan Gilets Jaunes atau rompi kuning ikut bergabung.
Gerakan rompi kuning pernah mengguncang Prancis pada 2018 melalui protes terhadap biaya hidup dan kebijakan ekonomi. Keterlibatan kembali kelompok tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan daya beli masih menjadi sumber ketegangan sosial di negara itu.
Besarnya mobilisasi kali ini terlihat dari perbedaan perkiraan jumlah peserta. Menteri Dalam Negeri Nuñez memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi di seluruh Prancis, sedangkan serikat buruh CGT memperkirakan jumlahnya mencapai 800.000 orang.



