Melihat Dua Aksi Mahasiswa di Kalbar, Berbeda Lokasi dan Kondisi

PONTIANAK POST – Dua kelompok mahasiswa menggelar demonstrasi di Kantor Gubernur Kalimantan Barat dan Gedung DPRD Kalbar, Selasa (20/10). Aksi di kantor gubernur berakhir ricuh dengan pembakaran ban, aksi saling dorong, serta dugaan pemukulan oleh orang-orang tak dikenal. Sementara itu, mahasiswa yang berunjuk rasa di DPRD Kalbar dapat menyampaikan tujuh tuntutan melalui dialog dengan anggota dewan.
Perbedaan situasi di dua lokasi tersebut mewarnai demonstrasi mahasiswa yang menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), keadilan bagi masyarakat, serta pendidikan di Kalimantan Barat. Di kantor gubernur, ketegangan terjadi ketika mahasiswa berusaha memasuki halaman gedung. Adapun di DPRD Kalbar, aspirasi mahasiswa Universitas PGRI Pontianak ditanggapi langsung Wakil Ketua DPRD Kalbar Prabasa Anantatur.
Aksi di Kantor Gubernur Berakhir Ricuh
Kericuhan di Kantor Gubernur Kalbar bermula ketika sejumlah mahasiswa hendak memasuki halaman untuk menyampaikan aspirasi. Namun, langkah mereka tertahan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang berjaga di pintu pagar.
Adu argumen terkait ban bekas yang dibawa peserta aksi kemudian berujung aksi saling dorong. Mahasiswa akhirnya menerobos masuk ke halaman depan kantor gubernur dan membakar ban bekas. Asap mengepul ketika petugas Satpol PP berusaha memadamkan api dan menyingkirkan ban yang terbakar.
Upaya pemadaman kembali memicu ketegangan. Aksi saling dorong dan tarik-menarik antara mahasiswa dan petugas terjadi di tengah kerumunan massa.
Di tengah kericuhan tersebut, seorang mahasiswa yang enggan disebutkan namanya dilaporkan mengalami sesak napas. Ia juga mengaku mengalami masalah pada bagian tangan setelah terlibat ketegangan dengan sejumlah orang yang tidak dikenalnya.
Perwakilan mahasiswa dari IAIN Pontianak, Muhammad Hafi, mengaku kecewa karena aksi yang bertujuan menyampaikan aspirasi justru berakhir ricuh. Ia menyebut sejumlah mahasiswa diduga mengalami pemukulan oleh orang-orang berpakaian preman yang identitasnya tidak diketahui peserta aksi.
“Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi dan keadilan yang selama ini tidak didapatkan oleh rakyat. Akan tetapi, pada hari ini kawan-kawan mahasiswa harus dipukul mundur,” ujarnya.
Hafi mengklaim mahasiswa tidak melakukan perlawanan ketika dugaan pemukulan terjadi. Ia meminta pihak berwenang menyelidiki identitas orang-orang yang diduga terlibat dan menindaklanjuti dugaan kekerasan tersebut.



