Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BKHIT Kalbar Waspadai Ancaman Virus Nipah dan Penyakit PPR

T
Penulis: Taufik As❯
PENGAWASAN: Petugas BKHIT Kalbar saat melakukan pengawasan masuk dan keluarnya mobilitas barang dan orang di Badau.
PENGAWASAN: Petugas BKHIT Kalbar saat melakukan pengawasan masuk dan keluarnya mobilitas barang dan orang di Badau.

PONTIANAK POST - Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Barat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya penyakit hewan menular strategis, khususnya virus nipah dan Peste des Petits Ruminants (PPR). Langkah itu dilakukan untuk melindungi kesehatan masyarakat serta menjaga keberlanjutan usaha peternakan di Kalbar.


Advertisement

Penyakit Nipah menjadi perhatian serius karena bersifat zoonosis, yaitu dapat menular dari hewan ke manusia. Virus Nipah secara alami dibawa oleh kelelawar pemakan buah dan dapat menular ke hewan lain seperti babi, lalu ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau produk yang tercemar.

Gejalanya bervariasi, mulai dari demam dan nyeri otot hingga gangguan pernapasan, bahkan dapat berkembang menjadi radang otak dengan tingkat kematian yang tinggi.

Sementara itu, PPR merupakan penyakit menular yang menyerang kambing dan domba. Meski tidak menular ke manusia, dampaknya sangat merugikan peternak. Penyakit tersebut dapat menyebabkan demam tinggi, luka di mulut, leleran hidung dan mata, diare, hingga kematian massal ternak.

Advertisement

Apabila tidak diantisipasi, PPR berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar dan mengganggu pasokan pangan asal hewan.

Ferdi, Kepala BKHIT Kalbar menyampaikan bahwa peningkatan kewaspadaan itu merupakan bagian dari tugas karantina untuk mencegah penyakit berbahaya masuk dan menyebar di wilayah Kalbar.

“Kami menginstruksikan seluruh satuan pelayanan untuk memperketat pengawasan terhadap lalu lintas hewan, produk hewan, barang, dan orang, serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait. Upaya ini penting demi melindungi masyarakat dan peternak,” katanya Sabtu (31/1).

Advertisement

Sebagai tindak lanjut, Satuan Pelayanan (Satpel) Karantina di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, meningkatkan pengawasan bersama instansi lintas sektor.

Penguatan itu dilakukan seiring meningkatnya aktivitas perlintasan barang dan orang di kawasan perbatasan. Melalui langkah tersebut, Karantina berharap Kalbar tetap terlindungi dari ancaman penyakit hewan menular strategis yang dapat berdampak pada kesehatan publik dan perekonomian daerah. (fik)

Advertisement

Artikel Terkait

Makin Gampang ke Malaysia! Trayek Bus Baru Putussibau-Kuching Resmi Dibuka, Segini Tarifnya

Makin Gampang ke Malaysia! Trayek Bus Baru Putussibau-Kuching Resmi Dibuka, Segini Tarifnya

Tak perlu repot lagi. Rute bus baru Putussibau-Kuching bawa angin segar bagi pergerakan ekonomi warga di perbatasan Kapuas Hulu.

Karantina Kalbar Cegah Rabies Masuk Perbatasan, Puluhan Hewan Diperiksa

Karantina Kalbar Cegah Rabies Masuk Perbatasan, Puluhan Hewan Diperiksa

Karantina Kalbar memperkuat pencegahan rabies di PLBN Badau dan Aruk dengan pemeriksaan serta vaksinasi hewan secara gratis.

Ikan Tapah Kapuas Hulu Jadi Primadona di Malaysia, Devisa Tembus Rp4 Miliar

Ikan Tapah Kapuas Hulu Jadi Primadona di Malaysia, Devisa Tembus Rp4 Miliar

Bea Cukai Badau dampingi ekspor ikan segar Tapah dan Jelawat ke Malaysia. Devisa capai Rp4 M hingga September 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer