SUNGAI RAYA – Sosok Sujiwo, yang dikenal masyarakat dengan julukan "Pak Jiwo," menjadi figur sentral yang dihormati, terutama di kalangan santri. Perannya dalam membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi santri telah meninggalkan jejak mendalam. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP Universitas Tanjungpura, Dr. Erdi, M.Si menilai bahwa penghormatan santri kepada Sujiwo tidak lepas dari kiprah nyatanya.
Erdi mengatakan pada tahun 2021, Sujiwo, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Bupati Kubu Raya, menunjukkan keberpihakannya kepada santri. Sebanyak 52 santri yang semula gagal berangkat ke Pulau Jawa akibat kendala hasil tes GeNose yang belum keluar, akhirnya dapat diterbangkan secara gratis berkat intervensi langsung Sujiwo di Bandara Internasional Supadio. Kisah serupa terulang di penghujung tahun 2023, ketika sekitar 300 santri hampir tertahan untuk kembali ke pondok pesantren mereka.
“Sujiwo kembali hadir membantu, baik melalui penerbangan maupun keberangkatan jalur laut melalui Pelabuhan Dwikora. Berkat bantuannya, tidak ada satupun santri yang tertinggal. Doa tulus dari para santri ini diyakini menjadi salah satu keberkahan yang mengiringi kemenangan Sujiwo dalam Pilkada Kubu Raya 2024,” ujarnya, Minggu (1/12) di Sungai Raya.
Pilkada Serentak 2024 di Kubu Raya diikuti oleh tiga pasangan calon bupati. Berdasarkan hasil quick count dari pengumpulan Formulir C1, pasangan Sujiwo-Sukiryanto (Jikir) berhasil meraih kemenangan telak dengan 161.597 suara (51,00%), mengungguli pasangan Rusman Ali-Mochammad Fachri (Ramah) yang memperoleh 135.153 suara (43,02%) dan pasangan Rosalina-Marijan (Roma) yang hanya meraih 19.510 suara (5,98%). “Dengan hasil ini, pasangan Jikir dipastikan akan memimpin Kabupaten Kubu Raya untuk periode 2025-2030, menunggu penetapan resmi dari KPU Kubu Raya,” jelas Erdi.
Erdi menambahkan, karier politik Sujiwo dimulai sejak era Kabupaten Pontianak, sebelum Kubu Raya berdiri sebagai kabupaten mandiri pada 2007. “Ia pertama kali terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Pontianak periode 1999-2004, di mana ia menjabat Ketua Komisi C yang membidangi berbagai sektor strategis seperti pembangunan, lingkungan hidup, dan infrastruktur. Ia kembali terpilih pada periode 2004-2007 sebagai Wakil Ketua DPRD,” ujarnya.
Ketika Kubu Raya terbentuk berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2007, popularitas Sujiwo tidak surut. Ia menjabat Ketua DPRD Kabupaten Kubu Raya selama dua periode, yakni 2007-2009 dan 2009-2014. “Pilkada 2008 menjadi batu loncatan politiknya ketika ia maju sebagai calon bupati, meskipun kalah di putaran kedua. Namun, kekalahan ini menjadi pembelajaran berharga,” kata Erdi.
Pada Pilkada 2018, Sujiwo kembali menunjukkan pengaruhnya dengan menjadi Wakil Bupati mendampingi Muda Mahendrawan. Pasangan ini menang besar dengan perolehan suara 70,21%. Di bawah kepemimpinan mereka, berbagai program pro-rakyat dijalankan, semakin mengukuhkan kredibilitas Sujiwo.
Menurut Erdi, Pilkada 2024 menjadi momen penting bagi Sujiwo untuk maju sebagai calon bupati, kali ini berpasangan dengan Sukiryanto. Berbekal dukungan dari PDI Perjuangan, pasangan Jikir tampil percaya diri. Strategi politiknya berhasil merebut hati rakyat Kubu Raya, termasuk merangkul kelompok yang sebelumnya kurang terwakili.
Erdi menambahkan, keberhasilan Sujiwo tidak terlepas dari dukungan rakyat. “Mengutip pendapat Elizabeth Fuller Collins dalam "Indonesia Betrayed: How Development Fails", kepercayaan publik harus dijaga melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Salah satu harapan yang disuarakan adalah program percepatan sertifikasi kebun sawit rakyat untuk ISPO dan RSPO, sebagaimana diamanatkan dalam Inpres No. 44 Tahun 2000. Dengan melibatkan petani dalam kemitraan strategis dengan korporasi, kesejahteraan rakyat Kubu Raya diharapkan akan meningkat,” paparnya.
“Kini, tanggung jawab besar menanti pasangan Jikir. Selamat bekerja untuk Sujiwo dan Sukiryanto, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Kubu Raya menanti gebrakan baru untuk masa depan yang lebih cerah,” pungkas Erdi. (ash/ser)
Editor : A'an