
PONTIANAK POST – Penguatan infrastruktur pelabuhan dan konektivitas antarpulau di Kepulauan Riau (Kepri) membuka peluang bagi pengembangan jaringan logistik yang lebih efisien, termasuk untuk mendukung arus barang menuju Kalimantan Barat. Namun, optimalisasi konektivitas tersebut membutuhkan dukungan armada, fasilitas pelabuhan, serta kepastian jaringan pelayaran yang menghubungkan antardaerah.
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Heru Widodo mengatakan peningkatan kapasitas Dermaga I dan pembangunan Dermaga II Pelabuhan Roll-on/Roll-off (RoRo) Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, ditargetkan rampung pada November 2026. Fasilitas itu diharapkan dapat melayani mobilitas masyarakat, kendaraan, dan angkutan logistik menjelang Natal dan Tahun Baru.
“Proyek dermaga Tanjung Uban tengah berlangsung dan ditargetkan rampung November 2026, sehingga sudah bisa melayani aktivitas masyarakat, kendaraan dan logistik pada perayaan Natal dan Tahun Baru,” kata Heru di Tanjungpinang, Senin.
Peningkatan fasilitas tersebut ditujukan untuk memperkuat lintasan Tanjung Uban–Telaga Punggur yang menghubungkan Bintan dan Batam. Jalur ini menjadi salah satu lintasan tersibuk di Kepri, terutama pada akhir pekan, libur nasional, dan musim mudik Lebaran.
Tingginya mobilitas penumpang dan kendaraan tidak terlepas dari aktivitas pariwisata serta pergerakan barang antarpulau. Hasil pertanian dari Bintan, misalnya, dikirim ke Batam untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Heru memproyeksikan peningkatan fasilitas pelabuhan dapat mendorong pertumbuhan angkutan penumpang sebesar 4 persen per tahun, kendaraan 26 persen, logistik 4 persen, serta jasa sandar 26 persen. Proyeksi tersebut menunjukkan potensi pertumbuhan aktivitas pelabuhan setelah kapasitas layanan ditingkatkan.
Selain menambah kapasitas, pembangunan dermaga diharapkan memungkinkan kapal berukuran lebih besar bersandar. ASDP juga memperkirakan peningkatan fasilitas di Tanjung Uban dan Telaga Punggur dapat menambah pendapatan perusahaan.
Peluang Konektivitas ke Kalimantan Barat
Bagi Kalimantan Barat, penguatan pelabuhan di Kepri relevan dalam pembahasan konektivitas perdagangan antarpulau. Kepri memiliki posisi strategis di jalur pelayaran regional, sedangkan Kalbar memiliki kebutuhan distribusi barang untuk memenuhi pasar dan mendukung kegiatan ekonomi daerah.
Heru mengatakan letak geografis Kepri berpotensi mendukung konektivitas antarpulau dan lintas provinsi, termasuk dengan Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. ASDP juga melihat peluang pengembangan jaringan pelayaran internasional yang menghubungkan Kepri dengan Malaysia dan Singapura.



