
PONTIANAK POST – Kualitas udara di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mulai membaik setelah dalam beberapa waktu terakhir terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hujan yang turun berturut-turut diduga membantu mengurangi kabut asap, tetapi warga yang bekerja di luar ruangan masih perlu mewaspadai dampaknya terhadap kesehatan.
Nurul Huda, pengemudi perempuan atau Lady Grab Pontianak yang tergabung dalam Komunitas Srikandi Grab Pontianak, merasakan langsung dampak kabut asap tersebut. Pada bulan lalu, ia sempat mengalami gangguan kesehatan hingga tidak bisa bekerja secara optimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Untuk kondisi kualitas udara Pontianak saat ini sudah sedikit lebih baik dibandingkan dua bulan terakhir. Mungkin itu salah satu dampak dari hujan yang terus turun berturut-turut. Semoga kualitas udaranya semakin baik,” ujar Nurul.
Ia mengaku sempat mengalami batuk, sesak napas, mata perih, hingga flu dan demam berat saat kabut asap menyelimuti wilayah Pontianak. Kondisi tersebut mengganggu aktivitasnya sebagai pengemudi ojek online yang harus beraktivitas di jalan untuk mencari nafkah.
“Saya pribadi benar-benar merasa terdampak langsung dari asap karhutla beberapa waktu lalu. Bulan lalu, saya sempat sakit, mulai dari batuk, sesak, mata perih hingga flu dan demam berat. Kondisi itu membuat saya tidak bisa bekerja dengan baik untuk mencari nafkah,” ungkapnya.
Dampak Kabut Asap terhadap Kesehatan Warga
Pengalaman Nurul sejalan dengan peringatan Dinas Kesehatan Kota Pontianak mengenai risiko kesehatan akibat paparan asap karhutla. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk, pilek, sakit tenggorokan, mata perih, sesak napas, hingga demam.
Partikel halus seperti PM2.5 yang terkandung dalam polusi asap dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Karena itu, membaiknya kondisi langit perlu diikuti pemantauan kualitas udara agar masyarakat tidak menganggap paparan asap sudah sepenuhnya berakhir.
Secara nasional, dampak kesehatan karhutla juga tercermin dari catatan Kementerian Kesehatan. Hingga 12 Oktober 2026, tercatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak karhutla, termasuk 62.400 kasus pada anak usia 0–5 tahun.
Angka tersebut merupakan akumulasi dari tujuh provinsi, bukan khusus Kota Pontianak. Meski demikian, data itu menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran dan kabut asap, tetapi juga risiko kesehatan yang harus ditangani.



