Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Harisson Ajak Cegah Penyebaran Virus Japanese Encephalitis (JE)

A'an • Rabu, 27 September 2023 | 15:16 WIB

IMUNISASI : Pj Gubernur Harisson bersama Dirjen P2P Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu menyaksikan pelajar yang disuntik imunisasi JE usai pencanangan Introduksi Imunisasi JE se-Kalbar, Selasa (26/9).
IMUNISASI : Pj Gubernur Harisson bersama Dirjen P2P Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu menyaksikan pelajar yang disuntik imunisasi JE usai pencanangan Introduksi Imunisasi JE se-Kalbar, Selasa (26/9).

Jaga Kebersihan Lingkungan dan Gencarkan Imunisasi

PONTIANAK - Sebanyak 1.333.657 anak berusia sembilan bulan hingga 15 tahun menjadi target sasaran imunisasi Japanese Encephalitis (JE) di Kalimantan Barat (Kalbar). Selain itu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) juga dinilai penting untuk terus ditingkatkan guna mencegah penyebaran virus JE di masyarakat. 

Hal tersebut disampaikan Penjabat (Pj) Gubernur Kalbar Harisson saat pencanangan Introduksi Imunisasi JE serentak se-Kalbar yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kalbar di Aula Garuda, Kantor Gubernur, Selasa (26/9).

Seperti diketahui, Kalbar merupakan salah satu dari tiga provinsi endemis JE di Indonesia. Dari data yang ada, kasus JE yang tercatat dan terdeteksi di Indonesia sejak 2014, ada sebanyak 145 kasus, dan 35 kasus diantaranya terjadi di Kalbar.

JE sendiri merupakan virus dari gigitan nyamuk culex yang terinfeksi virus JE, yang bisa menyebabkan penyakit radang otak. Dalam kesempatan itu, Pj Gubernur Harisson mengatakan, PHBS di lingkungan masyarakat Kalbar saat ini masih belum begitu baik. Selain itu hal-hal terkait kesehatan pun masih sering dianggap sepele. Karena itu ia mengingatkan agar masyarakat bisa meningkatkan PHBS dan mendukung upaya-upaya pencegahan yang ada. 

“Karena memang kebersihan lingkungan kita itu masih tidak begitu baik. Kemudian pendidikan masyarakat kita itu, mungkin sekolahnya sudah tinggi, tapi kalau hal-hal mengenai kesehatan masih belum begitu baik. Itulah tugas kita bersama, bagaimana meningkatkan pendidikan masyarakat terhadap perilaku kesehatan ini,” ungkapnya. 

Untuk itu, dirinya meminta kepada Dinas Kesehatan beserta seluruh stakeholder terkait untuk memotivasi masyarakat dalam menerapkan PHBS di lingkungan masing-masing. Karena memang hal itu menurutnya merupakan tugas bersama yang harus dilakukan secara terus-menerus.

“Jadi jangan setelah berhasil lalu kita stop, malah kita harus meningkatkan motivasi kepada mereka, bagaimana masyarakat itu harus benar-benar menjaga kebersihan lingkungannya. Kalau lingkungannya bersih itu artinya penyakit-penyakit menular apapun, otomatis akan bisa ditekan,” ujarnya. 

Mengenai vaksinasi atau imunisasi JE, Harisson menceritakan berdasarkan pengalaman saat pandemi Covid-19, pemerintah daerah (pemda) sangat terbantu dengan peran TNI/Polri yang ikut serta melaksanakan program tersebut. Hal serupa kata dia, harusnya juga bisa diterapkan untuk imunisasi JE di Kalbar.

“Waktu pengalaman Covid-19 kemarin, jadi kalau vaksinasi itu kita tidak bekerjasama dengan TNI/Polri, mungkin tidak bisa tinggi cakupannya, tapi teman-teman dari TNI/Polri, Kejaksaan Tinggi ikut melaksanakan vaksinasi, jadi itu membuat Kalbar cakupannya tinggi,” ucapnya.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kalbar itu berharap kegiatan imunisasi yang sudah dicanangkan ini bisa berjalan dengan baik. Dan ia juga meminta agar terus disosialisasikan kepada masyarakat agar paham tentang pentingnya pelaksanaan imunisasi tersebut.

“Jelaskan dan sosialisasikan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan dengan kerjasama yang baik kita dapat melaksanakan vaksinasi JE ini sesuai dengan target kita 1.333.657 anak dari umur sembilan bulan sampai 15 tahun (se-Kalbar),” harapnya.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Maxi Rein Rondonuwu mengungkapkan sejak 2014 hingga saat ini sudah tercatat 30 kasus JE yang terkonfirmasi di Kalbar.

“Terdapat 145 (total) kasus di Indonesia, dan diantaranya Kalbar terdapat 30 kasus. Kebanyakan kasus ini tidak bergejala, namun jika bergejala dapat menyebabkan radang selaput otak yang dapat menyebabkan kematian,” ungkapnya.

Ia menyebutkan imunisasi JE di Kalbar ditargetkan oleh Kemenkes sebanyak 1,3 juta anak dari usia sembilan bulan sampai 15 tahun, Yang diharapkan dengan target tersebut dapat selesai pada 26 November 2023. 

“Diharapkan November ini 1,3 juta anak sudah selesai diimunisasi. Selanjutnya tahun depan kita sudah mulai dengan imunisasi rutin pada anak di atas 10 bulan,” terangnya. 

Sebagai informasi, JE merupakan virus dari gigitan nyamuk culex yang biasa ditemukan di daerah persawahan, kolom, atau daerah yang memiliki genangan air dan sering menggigit di malam hari. Virus JE ini memerlukan hewan sebagai inang perantara seperti babi, kerbau dan beberapa jenis burung.

Nyamuk culex sifatnya antropofilik, hewan yang tidak hanya menghisap darah binatang saja tetapi juga menghisap darah manusia, karena itu penularan JE dari hewan kepada manusia pun bisa terjadi. Oleh karena itu telah ditetapkan bahwa manusia bukanlah sumber utama penyakit tersebut.

Gejala pada penyakit ini umumnya akan muncul 5-15 hari setelah terjadinya infeksi, gejala yang muncul seperti demam, menggigil, sakit kepala, lemas, mual, muntah bahkan hingga kejang yang sering dialami oleh anak kecil. 

Sampai saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan penderita JE. Tapi, setidaknya ada obat yang dapat mengurangi gejala untuk mencegah kasus memburuk. 

Oleh karenanya, pencegahan, seperti pemberian vaksin dan menghindari gigitan nyamuk amat penting untuk dilakukan. Dan penting melakukan vaksinasi untuk mengurangi tingkat kematian atau keparahan pada penyakit tersebut.(bar/r)

 

Editor : A'an
#Cegah Virus Japanese Encephalitis #Imunisasi Japanese Encephalitis #gubernur kalbar