Bayi satwa terancam punah itu pertama kali ditemukan oleh Sorti, warga Desa Sungai Mata-Mata di hutan dekat Sungai Staman yang berjarak sekitar 3-4 jam akses sungai dari pemikiman warga, seminggu yang lalu.
Saat itu Sorni mendengar ada suara dan pergerakan, setelah dilihat ternyata ada bayi orang utan yang sedang berada di semak-semak namun di sekeliling tidak ditemukan induk orangutan maupun tanda-tanda keberadaannya.
Melihat bayi orangutan malang itu, Sorni berinisiatif untuk menyelamatkan bayi orangutan tersebut dengan membawanya ke rumah.
Ia beralasan dikarenakan kondisi sekitar lokasi ditemukan yang sudah terbuka dan lapang sehingga akan membahayakan bagi bayi orangutan jika tetap berada di sana.
Peristiwa penemuan bayi orang utan tersebut diketahui oleh KPH Kayong Utara, yang kemudian menginformasikan kepada otoritas setempat.
Informasi ini kemudian ditindaklanjuti oleh BKSDA Kalbar dengan pengecekan kebenaran informasi di lapangan.
Pada 01 Juli 2024, Tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kalbar SKW I Ketapang tiba Desa Sungai Mata – Mata bersama BTN Gunung Palung SPTN Wil II Melano dan KPH Kayong dibantu tim medis YIARI untuk melakukan penyelamatan terhadap bayi orangutan tersebut.
Tim WRU BKSDA Kalbar dibantu tim Medis YIARI langsung melakukan pengecekkan kondisi orangutan, orangutan sedikit mengalami dehidrasi dan juga suhu tubuh berkisar 37,5 – 38,00°C (demam sedang).
Penyerahan bayi orangutan dari warga ke BKSDA Kalbar pun dilakukan dengan penandatanganan Berita Acara Penyerahan dari Lisa ke Tim WRU BKSDA Kalbar yang di wakili oleh Kepala Resort Konservasi Sukadana, Nurul Ramadhani.
Melihat kondisi orangutan yang masih bayi dan dalam kondisi demam maka untuk sementara waktu tim memutuskan menitipkan bayi orangutan ke Pusat Rehabilitasi YIARI untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Dalam keterangannya, Kepala SKW I Ketapang, Birawa mengatakan, BKSDA Kalbar mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam upaya penyelamatan orangutan.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap bijak bertindak ketika menjumpai orangutan. Jangan sampai kita menggangu, melukai bahkan sampai membunuh orangutan. Biarkan mereka hidup tanpa kita gangguan kita dan berikan mereka ruang untuk hidup, Karena orangutan selain satwa dilindungi, mereka juga sebagai penyeimbang kelangsungan ekosistem hutan,” imbuhnya. (arf)
Editor : Syahriani Siregar