PONTIANAK POST - Warga Pontianak digemparkan dengan peristiwa tragis yang dilakukan seorang pemuda berinisial HP (29). Warga asal Jalan H. Rais A. Rahman, Kecamatan Pontianak Barat ini ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri dengan cara gantung diri, Kamis (11/9).
Peristiwa tersebut diduga dilakukan di salah satu TK di Kota Pontianak. Sebelum peristiwa itu terjadi, korban sempat menayangkan aksinya melalui siaran langsung di media sosial. Siaran langsung di Facebook tersebut berlangsung selama 1 jam 47 menit dan ditonton hingga ratusan ribu akun.
Diketahui, korban oleh pihak keluarga sempat dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Pontianak. Namun, ketika Unit Identifikasi Polresta Pontianak mendatangi rumah sakit, korban sudah berada di ruang UGD dalam keadaan tidak bernyawa.
Menanggapi peristiwa ini, Patricia Elfira Vinny, psikolog di UPT Klinik Utama Sungai Bangkong menilai insiden yang disiarkan langsung seperti ini sangat tragis dan berdampak luas, melukai keluarga, saksi termasuk penonton live, serta komunitas online.
“Selain korban, penonton juga bisa mengalami trauma atau perasaan bersalah atau keterlibatan,” tuturnya.
Ia mengingatkan media dan platform agar berhati-hati dalam pemberitaan agar tidak mengglorifikasi atau menyebarkan detail yang bisa memicu imitasi. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu imitasi pihak lain untuk melakukan hal yang sama.
Dari sisi klinis, ia menilai menyiarkan tindakan bunuh diri dapat menunjukkan dorongan kuat untuk mendapat perhatian atau ungkapan putus asa, maupun kombinasi masalah psikologis seperti depresi, gangguan penyalahgunaan zat, hingga krisis interpersonal, serta faktor situasional.
“Namun setiap kasus unik, tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua, dalam kata lain, alasannya bersifat multifaktorial,” jelasnya.
Secara umum, ia menjelaskan, tidak ada satu penyebab tunggal orang memutuskan bunuh diri. Sebab biasanya hal ini merupakan hasil akumulasi faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. Termasuk juga gangguan mental seperti depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, maupun riwayat percobaan bunuh diri, penyalahgunaan zat, kehilangan besar, tekanan keuangan, konflik hubungan, pengalaman kekerasan atau trauma, isolasi sosial, atau rasa tak berdaya atau hilang harapan.
Pada banyak kasus , prosesnya dimulai dari perasaan putus asa, bukan selalu perasaan ingin mati semata tetapi ingin mengakhiri penderitaan. Ada pula percobaan yang impulsif pada saat krisis menjalani kehidupan.
Terkait pemilihan metode bunuh diri, ia menilai hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan atau akses terhadap apa yang mudah ada di lingkungan. Selain itu, faktor lainnya adalah persepsi tentang cepat atau tidak, tingkat mematikan, makna pribadi atau metaforis, dan impuls saat krisis.
“Secara umum, mudah didapat, cepat, dan dianggap pasti,” katanya.
Karena itu juga, jelasnya, pencegahan dengan membatasi akses pada sarana yang sering digunakan, misalnya pestisida, senjata api, titik untuk menggantung, pagar jembatan tinggi adalah intervensi yang efektif. Hal ini karena ketika akses dikurangi, angka kematian berkurang.
Ia mengingatkan bahwa apabila seseorang sedang merasa ingin mengakhiri hidup, langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan antara lain adalah menganggap serius dan dengarkan tanpa menghakimi. Penting untuk menanyakan langsung tentang pikiran bunuh diri misalnya “Apakah kamu sedang berpikir untuk mengakhiri hidup?” untuk membuatnya membuka diri.
Ia pun mengingatkan agar orang yang berisiko tidak ditinggalkan sendirian dan bila ada tanda risiko akut, untuk segera dicari bantuan.
Selain itu, tambahnya, penting untuk mengurangi akses pada alat atau objek berbahaya di sekitar mereka, entah itu pisau, tali, atau senjata). “Minta orang terpercaya menyimpan atau mengamankan barang-barang tersebut sementara,” sarannya.
Tak kalah penting menurutnya adalah mencari bantuan profesional dengan membawa orang tersebut ke layanan gawat darurat, dokter, psikolog, atau psikiater, dan jika berada dalam bahaya langsung, menghubungi layanan darurat seperti IGD Klinik Utama Sungai Bangkong.
“Sediakan dukungan emosional konkret: temani, hubungkan ke layanan konseling, bantu atur janji, dan follow up. Dukungan sederhana sering kali menjadi sangat berarti,” pungkasnya. (sti)
Editor : Hanif