Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Padel dan Pickleball Rekreasi Sehat Semua Usia

Marsita Riandini • Minggu, 11 Januari 2026 | 23:21 WIB
Permainan Pickleball di lapangan Kaisar Pontianak.
Permainan Pickleball di lapangan Kaisar Pontianak.

PONTIANAK POST - Dosen Pendidikan Jasmani di Universitas Tanjungpura, Witri suwanto, S.Pd., M.Or, menyatakan munculnya padel dan pickleball dalam konteks tren olahraga modern menunjukkan kesadaran masyarakat untuk berolahraga semakin meningkat.

“Sama-sama bermanfaat untuk kebugaran. Cocok dijadikan olahraga rekreasi dari anak-anak hingga orang tua,” kata Witri.

Meski sama-sama relatif mudah dimainkan dan bisa dipelajari dengan cepat, Witri, menjelaskan kedua olahraga ini memiliki beberapa perbedaan mendasar.

Padel mulai dikenalkan di Indonesia sekitar tahun 2015, tetapi mulai populer beberapa waktu belakangan terutama di kalangan artis.

Olahraga ini mengadopsi banyak elemen dari tenis, seperti sistem skor dan set pertandingan. Hanya saja bolanya lebih kempes dibanding tenis.

"Padel itu lebih mudah dari tenis, makanya sekarang ramai,"ujarnya.

Pergerakan permainan dan laju bola padel lebih cepat dibanding pickleball. "Kalau dari sisi pergerakannya, bagi orang tua atau lansia, saya sarankan untuk pickleball saja," ungkapnya

Bola padel terbuat dari karet sehingga lebih laju dari bola pickleball yang terbuat dari plastik. Pickleball menggabungkan unsur tenis, bulu tangkis, dan tenis meja.

"Bola pickleball arus dimantulkan terlebih dahulu baru dipukul. Kalau padel ada dua, ketika bola mantul di kaca pun masih bisa dipukul," katanya.

Dari segi biaya, padel cenderung lebih tinggi dibanding pickleball. Terutama dari  harga raket, bola dan hingga sewa lapangan.

“Sebagai olahraga indoor, harga sewa lapangan padel lebih mahal bisa Rp. 300 ribu per jam. Belum lagi harga raketnya. Sementara pickleball bisa dimainkan di outdoor, harga raketnya jauh lebih murah," ungkapnya.

Itu sebabnya, padel didominasi kalanganan menengah atas. Jika tetap bertahan seperti itu, lanjut Witri, bukan tak mungkin masyarakat lebih memilih pickleball. Olahraga ini memiliki masa depan yang bagus, apalagi jika pengurus olahraga pickleball lebih jeli melihat peluang.

"Lebih kuat lagi sosialisasi, bila perlu bangun lapangan pickleball di sekolah-sekolah,"sarannya.

Sejauh ini, lanjut Witri, pengurus padel lebih gencar melakukan sosialisasi dan menggelar turnamen. Bahkan, hadiahnya fantastis.

"Sekali pertandingan, emas bisa dapat Rp7 juta, hingga akhirnya ada kawan-kawan dari tenis lapangan pun berlomba-lomba terjun ke padel," paparnya.

Padel dan pickleball masuk sebagai cabor eksebisi PON XXI/2024. Ini membuktikan  tren olahraga lifestyle Indonesia mendapat tempat di hati masyarakat. Ia menyarankan, agar segera   diagendakan pembentuk kepengurusan provinsi baik untuk olahraga padel maupun pickleball.

"Ke depan dari Kalbar agar ada perwakilan atlet yang bisa didelegasikan ketingkat nasional, PON," harapnya.

Olahraga semacam ini dapat mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam aktivitas fisik. Apalagi jika dilakukan bersama teman, komunitas. Meski awalnya hanya ikut tren, ikut-ikutan teman, tetapi bisa menjadi olahraga kegemaran.

"Seperti padel misalnya, tak mengapa biayanya mahal yang penting bagi mereka bisa menyehatkan, sebagai investasi masa depan," pungkasnya. (mrd)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Universitas Tanjungpura #Pickleball #tenis #pontianak #padel