Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anggaran Program MBG Dipangkas Lagi, Istana Angkat Bicara

A
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menghadiri Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7/2026). (ANTARA)
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menghadiri Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7/2026). (ANTARA)

Advertisement

 

PONTIANAK POST - Badan Gizi Nasional (BGN) memangkas pagu anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 sekitar Rp39 triliun, dari semula Rp268 triliun menjadi sekitar Rp229 triliun. Penyesuaian dilakukan seiring pembenahan tata kelola dan validasi data penerima manfaat agar program lebih tepat sasaran.

Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan angka tersebut masih bersifat sementara karena evaluasi pelaksanaan program masih berlangsung. "Untuk tahun 2026 saat ini sudah ada efisiensi anggaran dari Rp268 triliun menjadi sekitar Rp229 triliun. Namun angka tersebut masih sebelum dilakukan penyesuaian kembali terhadap berbagai perubahan tata kelola yang sedang kami lakukan," ujarnya dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Selasa (21/7).

Advertisement

Menurut Agustina, evaluasi dilakukan terhadap seluruh komponen belanja agar penggunaan APBN lebih efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Apabila hasil kajian menunjukkan kebutuhan anggaran berubah, pagu akan disesuaikan.

Agustina mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto meminta BGN memprioritaskan pembenahan tata kelola dibanding mengejar jumlah penerima manfaat. BGN diberi waktu satu bulan untuk menyempurnakan sistem pendataan dan mekanisme pelaksanaan program.

"Kami diberi waktu lagi oleh Bapak Presiden untuk mempertajam tata kelolanya. Nanti hasil penyisiran terhadap 62,7 juta penerima manfaat akan menentukan kebutuhan anggaran," katanya.

Advertisement

Ia menegaskan efisiensi anggaran bukan berarti mengurangi manfaat program, melainkan menghilangkan pemborosan akibat data yang belum akurat. Dalam evaluasi sementara, BGN menemukan adanya sekolah yang dilayani dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Duplikasi tersebut dinilai menyebabkan anggaran terbuang karena jumlah penerima tidak sesuai dengan data pokok pendidikan (Dapodik). "Kalau ditemukan kondisi seperti itu, tentu akan kami benahi agar anggarannya sesuai kebutuhan riil," ujarnya.

Validasi Data Berpengaruh

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan kebutuhan anggaran MBG masih berpotensi turun setelah validasi data penerima dan perbaikan manajemen selesai dilakukan.

"Ada kemungkinan setelah proses perbaikan manajemen di Badan Gizi Nasional dan validasi data, kebutuhan anggaran MBG akan turun," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (21/7).

Advertisement
Editor : Aristono Edi Kiswantoro

Artikel Terkait

Mahasiswa Bakal Gelar Aksi Sore Ini, Desak Dialog Terbuka dengan Gubernur dan DPRD

Mahasiswa Bakal Gelar Aksi Sore Ini, Desak Dialog Terbuka dengan Gubernur dan DPRD

Isu karhutla, MBG, dan BBM jadi sorotan. Sekitar 300 mahasiswa Kalbar gelar aksi di Gedung DPRD sore ini dan menuntut dialog langsung.

Program MBG di 13 Sekolah Kapuas Hulu Terhenti, Ini Alasannya

Program MBG di 13 Sekolah Kapuas Hulu Terhenti, Ini Alasannya

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di 13 sekolah Kapuas Hulu terhenti. Selain persoalan izin, keterlambatan distribusi juga jadi keluhan.

Ratusan Siswa Kembali Tumbang Usai Santap MBG, 230 Korban Dapat Penanganan Medis di Pati

Ratusan Siswa Kembali Tumbang Usai Santap MBG, 230 Korban Dapat Penanganan Medis di Pati

230 siswa di Pati diduga keracunan MBG, sementara kasus serupa di Sidoarjo menemukan sampel makanan terkontaminasi bakteri.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer