Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Raja dan Sultan se-Kalimantan Desak Pemerintah Segera Atasi Karhutla

M
Penulis: Miftahul Khair❯
Anggota Komisi XIII DPR RI sekaligus ketua Kerapatan Borneo, Pangeran Khairul Saleh. (DOK DPR RI)
Anggota Komisi XIII DPR RI sekaligus ketua Kerapatan Borneo, Pangeran Khairul Saleh. (DOK DPR RI)

Advertisement

PONTIANAK POST  – Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kalimantan mendapat perhatian serius dari para tokoh adat. Melalui pertemuan Kerapatan Borneo yang digelar di Jakarta, para raja dan sultan se-Kalimantan mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk mempercepat penanganan karhutla serta melakukan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Advertisement

Ketua Kerapatan Borneo, Pangeran Khairul Saleh, menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah ini. Sultan Banjar yang juga anggota DPR RI Fraksi PAN tersebut menilai karhutla bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan dan perekonomian warga.

Ia menekankan, penanggulangan karhutla membutuhkan keterlibatan aktif semua pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, hingga tokoh adat.

Advertisement

"Bumi Kalimantan adalah warisan leluhur yang wajib kita jaga bersama. Saat bumi menangis ditimpa asap dan api, tidak ada pilihan selain kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi untuk saling menopang," ujar Khairul Saleh, Senin (19/10).

Ia juga meminta pemerintah lebih fokus pada langkah pemadaman dan mitigasi yang menyeluruh, serta menghindari ego sektoral antarinstansi dalam menangani bencana ini.

"Jangan sampai terjadi seperti kiasan gajah sama gajah berjuang, pelanduk mati di tengah-tengah. Jangan sampai keterlambatan penanganan atau ego sektoral membuat rakyat kecil yang menanggung perihnya asap dan hilangnya mata pencaharian," tegasnya.

Meski demikian, Kerapatan Borneo mengapresiasi upaya tim gabungan yang terus memadamkan api di lapangan. Organisasi ini juga menyatakan kesiapannya untuk membantu pemerintah menyosialisasikan pencegahan karhutla kepada masyarakat melalui jejaring adat di masing-masing kesultanan.

Selain persoalan karhutla, pertemuan ini juga membahas isu ketimpangan pembangunan daerah. Raja Matan Tanjungpura, Pangeran Ratu Kamboja, yang membuka musyawarah tersebut, menyoroti masalah kerusakan infrastruktur jalan, perizinan yang terlalu berpusat di Jakarta, hingga pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) sumber daya alam yang dinilai belum sebanding.

Ia mengingatkan pemerintah agar pembangunan infrastruktur tidak terus-menerus difokuskan di Pulau Jawa, melainkan harus merata hingga ke Kalimantan.

"Pemerintah jangan hanya memfokuskan pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa. Kalimantan juga harus mendapatkan pemerataan pembangunan, termasuk melalui pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan seluruh wilayah Kalimantan," tegas Pangeran Ratu Kamboja.

Advertisement

Artikel Terkait

Kalbar Raih TPAKD Terbaik se-Kalimantan, Norsan Soroti Akses Modal UMKM

Kalbar Raih TPAKD Terbaik se-Kalimantan, Norsan Soroti Akses Modal UMKM

Pemprov Kalbar meraih TPAKD Award 2026 sebagai yang terbaik se-Kalimantan. Ria Norsan mendorong perluasan akses modal UMKM dan pemberantasan

Karhutla: 46 Orangutan Diselamatkan di Kalbar, Tengkorak Ditemukan di Area Konservasi Sawit

Karhutla: 46 Orangutan Diselamatkan di Kalbar, Tengkorak Ditemukan di Area Konservasi Sawit

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mengancam kelangsungan hidup orangutan Kalimantan. Sejak Agustus hingga 9 Oktober 2

Menhut Cabut Izin Lima Perusahaan Terkait Karhutla di Kalimantan

Menhut Cabut Izin Lima Perusahaan Terkait Karhutla di Kalimantan

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mencabut izin lima perusahaan di Kalimantan dengan total konsesi 92.464 hektare

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer