Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Guru Pontianak Dibekali Keterampilan AI Hadapi Era Digital

Siti Sulbiyah • Minggu, 20 Juli 2025 | 11:21 WIB
Ilustrasi Artificial Intelligence atau AI.
Ilustrasi Artificial Intelligence atau AI.

PONTIANAK POST – Dalam menghadapi pesatnya perkembangan teknologi digital, keterampilan kecerdasan buatan (Artificial Intelligent/AI) menjadi kebutuhan di dunia pendidikan. Karena itulah, penting untuk membekali tenaga pendidik dengan pengetahuan dan keterampilan AI untuk memastikan siswa tidak tertinggal dalam persaingan global.

“AI bukan hanya tentang teknologi yang memudahkan pekerjaan, tapi juga soal tanggung jawab moral. Guru harus menjadi contoh bagaimana teknologi digunakan secara etis dan manusiawi,” ujar Syahri Ramadhan, pendidik sekaligus penggiat literasi digital, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Kelas Kecerdasan Artifisial - AI Goes To School, Sabtu (19/7).

Sebanyak 130 orang tenaga pengajar dari berbagai jenjang pendidikan di Kalbar antusias mengikuti kelas ini. Ia menekankan pentingnya pemahaman, serta kemampuan guru dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial secara etis dan tepat guna dalam proses pembelajaran maupun penyaring informasi di era digital.

Syahri mengatakan ada tujuh prinsip etika utama dalam penggunaan kecerdasan artifisial, antara lain keadilan, transparansi, akuntabilitas, keamanan data, inklusivitas, kejelasan tujuan penggunaan, dan keberlanjutan. Ia pun juga menyoroti berbagai tantangan yang kerap muncul dalam penerapan AI di sekolah, seperti pelanggaran privasi data siswa, ketergantungan terhadap teknologi, serta kurangnya pemahaman kritis terhadap hasil kerja AI.

Kelas Kecerdasan Artifisial - AI Goes To School ini merupakan  program unggulan dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) yang bertujuan untuk mendampingi 10.000 guru di 40 kota selama 18 bulan. Program ini didukung oleh mitra strategis seperti Google.org, AVPN, dan Asian Development Bank (ADB), serta bekerja sama dengan pemangku kepentingan lokal untuk memastikan implementasi yang efektif di setiap wilayah.

Yoki Firmansyah, dosen UBSI Pontianak dan relawan MAFINDO menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya MAFINDO memperkuat kapasitas guru dalam membimbing generasi muda menghadapi era digital secara cerdas dan kritis.

“Kami berharap setelah mengikuti kelas ini, para tenaga pengajar dapat menjadi agen literasi digital yang andal, tidak hanya bagi peserta didik, tapi juga untuk lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Melalui pelatihan ini, ia mengatakan para guru diajak untuk memahami teknologi AI, etika dalam pemanfaatannya, manajemen prompt, pemanfaatan AI untuk pembelajaran kreatif, dan lain sebagainya. Selain itu, program ini juga menyediakan akses ke platform Learning Management System (LMS) yang memungkinkan guru mengakses materi pelatihan secara fleksibel dan berkelanjutan. (sti)

Editor : Hanif
#guru #persaingan global #Literasi AI #Tantangan era digital #siswa