Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Independensi BI Dipertanyakan, Rupiah Jebol Rp17 Ribu per Dolar AS

Hanif PP • Selasa, 20 Januari 2026 | 10:25 WIB

 

Ilustrasi penukaran Rupiah dengan Dolar AS.
Ilustrasi penukaran Rupiah dengan Dolar AS.

PONTIANAK POST – Rupiah menyentuh angka Rp16.955 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (19/1). Namun sejumlah bank dan money changer sudah menjualnya dengan harga Rp17.000. Merespon merosotnya nilai tukar rupiah yang jebol angka psikologis, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimis.

Saat dikonfirmasi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Purbaya menyatakan, pergerakan rupiah bergantung pada fundamental ekonomi suatu negara. IDalam konteks Indonesia, kinerja ekonomi diyakini bergerak resilien, salah satunya terlihat pada bursa saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin sore ditutup mencetak level tertinggi baru atau All Time High (ATH) ke posisi 9.133,87.

“IHSG All Time High, kan? Kalau indeks naik, pasti ada aliran asing masuk ke situ juga. Nggak mungkin masuk sendiri yang bisa mendorong ke level seperti itu. Jadi, ini tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat, karena suplai dolar akan bertambah,” jelas Purbaya.

Sebelumnya, sejumlah pihak mempertanyakan nama Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono yang dikabarkan akan menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Ditakutkan, masuknya keponakan Presiden RI Prabowo Subianto tersebut membuat bank sentral menjadi tidak independen dalam menjaga stabilitas moneter. Pelemahan rupiah kemarin pun dihubung-hubungkan dengan isu tersebut.

Purbaya menampik dugaan pelemahan rupiah akibat wacana penunjukan Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur BI. Purbaya menegaskan, masuknya wakil menteri keuangan ke BI tak akan mempengaruhi independensi otoritas moneter. “Orang berspekulasi ketika Thomas ke sana, independensi BI hilang. Saya pikir nggak akan begitu,” tambahnya.

Bendahara negara menyatakan akan terus menjaga fondasi ekonomi, termasuk mengakselerasi pertumbuhan, agar nilai tukar rupiah segera berbalik menguat. Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin, bergerak melemah 68 poin atau 0,40 persen menjadi Rp16.955 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.887 per dolar AS.

 

Faktor Donald Trump

Sementara itu, pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi menganggap pelemahan ini dipengaruhi ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland.

Pelemahan rupiah turut dipengaruhi keraguan para investor apakah Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini. Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin, bergerak melemah 68 poin atau 0,40 persen menjadi Rp16.955 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.887 per dolar AS.

Pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi menganggap pelemahan ini dipengaruhi ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump sebesar 10 persen terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana Washington mengakuisisi Greenland. “Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang dari negara-negara yang terkena dampak mulai 1 Februari, dengan tarif tersebut akan naik menjadi 25 persen pada bulan Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai,” ungkapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (19/1).

Negara-negara yang menjadi target ialah Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas. Mengutip Anadolu, Dewan Eropa akan menggelar pertemuan luar biasa dalam beberapa hari ke depan untuk membahas rencana Trump memberlakukan tarif yang dikaitkan dengan Greenland.

Pelemahan rupiah turut dipengaruhi keraguan para investor apakah Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini. “Kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April. (Ini menunjukkan) pandangan bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim. (ant)

Editor : Hanif
#faktor global #dolar as #bank indonesia #independensi #rupiah