PONTIANAK POST - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) tampak menggebrak meja dan meluapkan kemarahannya kepada Suderajat, pedagang es kue yang sempat viral usai mengalami intimidasi oknum aparat karena dituding menjual es berbahan spons.
Amarah KDM dipicu oleh temuan adanya sejumlah pernyataan Suderajat yang dinilai tidak sesuai fakta.
Fakta terbaru yang terungkap menyangkut status tempat tinggal Suderajat. Ia sebelumnya mengaku masih mengontrak, padahal diketahui memiliki rumah sendiri dan bahkan pernah menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Temuan ini memicu kemarahan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga menggebrak meja, sembari mempertanyakan kebohongan yang dinilai terjadi berulang.
Baca Juga: Dipukuli Oknum Polisi dan TNI Sampai Mengaku, Penjual Es Gabus Pulang Subuh dengan Tubuh Lebam
Momen tersebut terjadi ketika KDM menggali langsung kebenaran status tempat tinggal Suderajat melalui pertemuan dengan ketua RW setempat.
Dari pertemuan itu terungkap bahwa rumah yang ditempati Suderajat merupakan milik pribadi, bukan rumah kontrakan seperti yang selama ini disampaikannya.
“Rumah sendiri, Pak. Tanahnya juga tanah sendiri,” ujar Ketua RW Suderajat di hadapan KDM, dikutip dari kanal YouTube-nya, Jumat (30/1).
KDM yang sejak awal menerima informasi bahwa Suderajat hidup serba kekurangan dan masih mengontrak rumah, langsung bereaksi keras setelah fakta berbeda terungkap.
Ia menilai Suderajat telah menyampaikan keterangan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Baca Juga: Polri Beri Sepeda Motor ke Pedagang Es Gabus Usai Viral, Netizen Pertanyakan Penindakan Anggota
“Babeh bilangnya ngontrak, bohong sih. Kenapa bohong terus?” kata KDM dengan nada tinggi sambil memperbaiki posisi duduk.
Ketua RW setempat kemudian mengungkap fakta lain. Rumah yang ditempati Suderajat ternyata merupakan milik keluarganya, dibelikan oleh almarhum orang tuanya sekitar tahun 2007 dengan nilai diperkirakan Rp35–40 juta.
Suderajat pun berulang kali menyampaikan permintaan maaf. Ia berdalih rumah tersebut sempat rusak parah dan telah menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) sebelum kasus ini mencuat ke publik.
Namun, penjelasan itu tak cukup meredakan kekecewaan KDM, yang terus menggali kebenaran kondisi hidup Suderajat.
Menurut KDM, persoalan utama bukan semata soal kondisi rumah, melainkan soal kejujuran. Ia menyoroti pengakuan Suderajat sebelumnya yang menyebut hanya menerima warisan uang sebesar Rp200.000 dari orang tuanya, klaim yang dinilai tak sejalan dengan fakta kepemilikan rumah.
“Orang tua sudah ngasih rumah, tapi Babeh bilangnya enggak dikasih, cuma Rp200 ribu. Habis itu orang tuanya beli rumah di Bogor, dijual sama saudaranya,” tegas KDM.
KDM menilai kebohongan semacam itu tak boleh dibiarkan, apalagi dibiasakan. Ia menegaskan kejujuran merupakan fondasi utama sebelum seseorang berhak meminta maupun menerima pertolongan.
Baca Juga: Begini Respons KDM Soal Kritik Pandji di Mens Rea Soal Orang Sunda Senang Milih Artis
“Enggak apa-apa, sama saya mah enggak ada masalah, tapi Babeh berdosa sama orang tuanya,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair