Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Makna Isra Mi’raj: Iman yang Membumi

H
Penulis: Hanif PP❯
Mustafa
Mustafa

Oleh: Mustafa*


Advertisement

Setiap peringatan Isra Mi’raj, umat kembali mengarahkan pandangan ke ranah transenden, mengenang perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana ditegaskan dalam Alquran, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…” (QS. al-Isra’:1).

Namun makna Isra Mi’raj sesungguhnya tidak berhenti pada peristiwa tersebut. Ia justru diuji ketika pesan spiritual itu berhadapan dengan realitas sosial: ketimpangan, ketidakadilan, dan krisis empati yang masih kita saksikan hingga hari ini. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa pengalaman religius dalam Islam tidak berdiri terpisah dari kehidupan sosial. Kedekatan dengan Allah bukan semata-mata urusan batin, melainkan harus menjelma menjadi sikap moral dalam kehidupan bersama. Spiritualitas yang berhenti pada ritual, tanpa keberpihakan pada keadilan dan kemanusiaan, berisiko kehilangan daya transformasinya.

Pandangan ini ditegaskan oleh M. Quraish Shihab yang menyatakan bahwam setiap ibadah dalam Islam memiliki dimensi sosial (Shihab, 2002). Pernyataan ini menjadi pengingat penting agar umat tidak mereduksi Isra Mi’raj sebagai peristiwa sakral yang terlepas dari persoalan manusia. Jika ibadah tidak melahirkan kepedulian sosial, maka yang tersisa hanyalah formalitas religius.

Advertisement

Namun dalam praktik keberagamaan, makna tersebut kerap tereduksi. Isra Mi’raj diperingati dengan khidmat, mimbar-mimbar dipenuhi kisah perjalanan menuju ranah transenden, tetapi pesan sosialnya sering tenggelam. Di saat yang sama, ketimpangan sosial melebar, ujaran kebencian mengeras, dan solidaritas melemah. Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara narasi keagamaan dan realitas hidup masyarakat.

Cara membaca teks keagamaan turut memengaruhi situasi tersebut. Mun’im Sirry mengingatkan bahwa teks keagamaan selalu lahir dalam ruang sejarah (Sirry, 2015). Ketika Isra Mi’raj dibaca sebatas sebagai kisah keajaiban, tanpa ditarik ke pesan etisnya, agama berisiko kehilangan relevansinya dalam menjawab persoalan umat.

Padahal, pola bahwa pengalaman spiritual melahirkan tanggung jawab moral juga ditemukan dalam tradisi keagamaan lain. Karen Armstrong mencatat bahwa pengalaman mistik selalu diikuti tuntutan etis (Armstrong, 2001). Kesamaan ini menegaskan bahwa spiritualitas sejati selalu berorientasi pada kemanusiaan.

Advertisement

Di titik inilah ujiannya Isra Mi’raj menegaskan bahwa kedalaman iman tidak diukur dari seberapa sering kita menatap ranah transenden, tetapi dari seberapa jauh iman itu membentuk keberanian untuk bersikap adil dan peduli di bumi. Di sanalah iman menemukan maknanya yang paling nyata: iman yang membumi dan berpihak pada kemanusiaan. Semoga.**

 

*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak.

Advertisement

Artikel Terkait

Kanwil KemenHAM Ajak Mahasiswa Untan Peduli HAM

Kanwil KemenHAM Ajak Mahasiswa Untan Peduli HAM

Kanwil KemenHAM mengajak mahasiswa Untan meningkatkan kepedulian dan pemahaman HAM melalui seminar penguatan kapasitas.

Hati-Hati Menyakiti Orang yang Diam Saat Dizalimi, Ustaz Oemar Mita Ungkap Peringatan Ini

Hati-Hati Menyakiti Orang yang Diam Saat Dizalimi, Ustaz Oemar Mita Ungkap Peringatan Ini

Ustaz Oemar Mita mengingatkan bahaya menzalimi orang yang memilih diam. Simak pesan tentang keadilan dan pertanggungjawaban.

Cara Bijak Berkomentar di Media Sosial Ketika Terjadi Bencana atau Musibah

Cara Bijak Berkomentar di Media Sosial Ketika Terjadi Bencana atau Musibah

Saat bencana terjadi, komentar di media sosial perlu mengedepankan empati agar tidak memperburuk kondisi korban.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer