
Oleh : Leo Sutrisno*
Langit di atas Golgota tak lagi biru. Ia berubah menjadi kelabu pekat, seolah alam sedang menahan napas dalam duka yang mencekam.
Angin bertiup membawa aroma debu dan keputusasaan, sementara bumi gemetar di bawah kayu-kayu salib yang terpancang kokoh.
Di tengah kesunyian yang menyakitkan itu, Sang Terang Dunia tergantung lemas. Tubuh-Nya adalah hamparan luka yang menceritakan kekejaman manusia.
Di kaki salib, seorang prajurit Romawi menatap dengan suara parau dan mata nanar.
“Aku telah melihat ribuan orang mati di kayu ini. Mereka mengutuk, meludah, dan berteriak ketakutan. Tetapi Orang ini… mengapa matanya masih menyimpan kedamaian di tengah badai rasa sakit?”
Yohanes merangkul Maria yang terisak. Suaranya gemetar.
“Ibu, lihatlah Dia. Dunia mencoba memadamkan Cahaya itu, tetapi mereka tidak tahu bahwa kegelapan inilah yang akan membuat cahaya-Nya bersinar selamanya. Dia tidak sedang kalah; Dia sedang menyerahkan diri.”
Penjahat di sebelah kanan berbisik pelan dengan napas yang memburu.
“Yesus… ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja. Aku hanyalah debu yang kotor, tetapi izinkan aku mati dalam bayang-bayang belas kasih-Mu.”



