
Oleh: Eka Hendry Ar.*
SUATA pagi saya mengantar anak bungsu ke sekolah. Seperti biasa, saya berhenti beberapa meter dari tempat penyeberangan (zebra cross) di depan sekolah.
Biasanya ada satpam yang membantu menyeberangkan anak-anak.
Pagi itu kami agak terlambat sehingga satpam sudah tidak lagi menunggu anak-anak yang akan menyeberang.
Seperti biasa pula, saya tidak akan pergi sebelum anak menyeberang dan masuk ke pagar sekolah.
Setelah beberapa saat, anak belum juga menyeberang karena kendaraan cukup padat.
Sesaat kemudian ia kembali ke mobil dan meminta tolong agar saya membantunya menyeberang.
Terus terang, dengan sedikit rasa kesal—karena tidak ada pengendara yang mau mengalah pada anak sekolah—saya akhirnya menyeberangkan anak hingga ke depan gerbang sekolah.
Sebenarnya pengalaman tersebut bukan pertama kali terjadi. Anak-anak yang jelas mengenakan seragam sekolah sering kesulitan menyeberang jalan yang sebenarnya hanya beberapa langkah saja.



