
Oleh: Syamsul Kurniawan*
Morgan Housel dalam The Psychology of Money (2020) mengajukan sebuah gagasan sederhana tetapi penting. Menurutnya, kesuksesan finansial tidak semata ditentukan oleh kecerdasan atau kemampuan menghitung angka.
Keputusan manusia terkait uang lebih sering dipengaruhi oleh psikologi daripada logika. Emosi, pengalaman hidup, ketakutan, keserakahan, dan kebutuhan akan pengakuan sering kali menjadi faktor yang jauh lebih dominan. Karena itu, perilaku finansial tidak pernah benar-benar netral. Uang selalu berkaitan dengan cara manusia memandang dirinya sendiri dan posisinya di tengah masyarakat.
Dalam banyak kasus, orang tidak mengejar uang semata-mata karena membutuhkan uang. Mereka mengejar apa yang diyakini dapat diberikan oleh uang, seperti status, penghormatan, perhatian, dan rasa berharga. Fenomena tersebut semakin mudah diamati di era media sosial. Ruang digital telah menciptakan arena baru tempat manusia berlomba mendapatkan perhatian publik.
Perhatian kini memiliki nilai ekonomi. Semakin banyak penonton, semakin besar peluang memperoleh keuntungan finansial. Jumlah pengikut tidak lagi sekadar angka. Ia telah berubah menjadi simbol pengaruh dan kekuasaan sosial.
Dalam situasi seperti ini, banyak kreator konten berlomba menciptakan materi yang mampu menarik respons sebanyak mungkin. Tujuannya sederhana, yaitu menjadi viral. Namun sayangnya, tidak semua upaya mencari perhatian dilakukan dengan cara yang bermartabat. Sebagian memilih jalan pintas yang memanfaatkan kontroversi dan sensasi.
Salah satu bentuk yang semakin sering muncul adalah praktik memparodikan atau berpura-pura memiliki disabilitas demi memperoleh penonton, komentar, dan keuntungan ekonomi. Bagi sebagian pelaku, tindakan tersebut dianggap sekadar hiburan. Mereka beranggapan bahwa semua hal dapat dijadikan bahan lelucon selama mampu menarik perhatian audiens. Padahal, yang mereka tirukan bukanlah karakter fiktif. Yang dijadikan bahan hiburan adalah kondisi nyata yang dialami oleh jutaan penyandang disabilitas.
Di balik setiap keterbatasan fisik atau neurologis terdapat perjuangan yang panjang. Banyak penyandang disabilitas harus menghadapi stigma, diskriminasi, dan hambatan sosial setiap hari. Karena itu, menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan komedi bukan sekadar persoalan selera humor. Tindakan itu menyentuh persoalan martabat manusia.
Secara ekonomi, konten semacam ini mungkin menghasilkan keuntungan. Tayangan meningkat, pengikut bertambah, dan peluang mendapatkan sponsor menjadi lebih besar. Namun secara moral, keuntungan tersebut diperoleh melalui eksploitasi kelompok yang rentan. Di sinilah persoalan utamanya berada.



