
Oleh: Musyafa Syamil Arroyan*
PIMPINAN Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, belakangan menarik perhatian publik. Bukan karena kontroversi, tetapi karena keberaniannya berbicara apa adanya di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam Resepsi Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, 19 September 2026.
Disclaimer dulu. Penulis bukan santri Gontor dan tidak memiliki hubungan apa pun dengan pesantren tersebut. Meskipun begitu, penulis kagum pada pidato Kiai Hasan. Banyak nasihat beliau sampaikan dengan gaya yang santai, diselingi candaan, tetapi beberapa di antaranya justru mengandung pesan yang tidak ringan.
Salah satu yang menarik tentu ketika Kiai Hasan mengucapkan, “Sorry yee”, ungkapan yang beberapa kali digunakan Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan. Hadirin tertawa. Suasana menjadi cair. Dalam kesempatan yang sama, Kiai Hasan juga melontarkan guyonan mengenai orang yang suka “cari muka”, “cari nama”, sampai “cari jabatan”.
Entah seluruh kalimat itu memang dimaksudkan sebagai satire atau tidak, kita tidak perlu terlalu pusing menebak. Tetapi satu hal terlihat, yakni Kiai Hasan tidak tampak kehilangan keluwesan ketika berbicara di hadapan orang nomor satu di negeri ini.
Keteladanan Sebelum Nasihat
Seorang pemimpin tidak hanya memimpin melalui perintah. Ia juga memimpin melalui contoh. Apa yang dikatakan pemimpin akan didengar. Apa yang dilakukan akan diamati. Bahkan, dalam banyak kasus, gaya hidup pemimpin perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh orang-orang di sekitarnya. Tentu, selagi pemimpin tersebut bisa membuktikan bahwa ia layak diikuti serta dicontoh.
Dalam konteks agama, pengaruh semacam ini bisa jauh lebih kuat. Kiai, pendeta, pastor, biksu, pandita, dan pemimpin agama lainnya memiliki apa yang bisa disebut sebagai otoritas moral. Ucapannya didengarkan. Lakunya diikuti.
Karena itu, salah satu bagian paling menarik dari pidato Kiai Hasan adalah ketika ia mengatakan:
“Kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati, apa yang saya kerjakan lebih daripada santri, boleh diprotes, boleh dikritik, boleh didemo. Inilah Gontor.”



