
Oleh: Eci Rahmawati*
KETIKA tubuh demam, tenggorokan sakit, batuk, atau terasa tidak nyaman, sebagian masyarakat masih menjadikan antibiotik sebagai solusi. Obat yang pernah diberikan dokter pada penyakit sebelumnya disimpan dan digunakan kembali ketika keluhan serupa muncul. Ada pula yang mengikuti rekomendasi keluarga, teman, atau informasi dari internet. Padahal, mengobati diri sendiri dengan antibiotik tidak sesederhana itu.
Antibiotik merupakan obat penting untuk menangani infeksi yang disebabkan bakteri. Obat ini bekerja dengan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri melalui berbagai target biologis. Karena memiliki sasaran tertentu, antibiotik tidak dapat digunakan untuk semua jenis penyakit (Dharmapalan, 2022).
Masalah muncul ketika antibiotik digunakan tanpa resep atau penilaian tenaga kesehatan, termasuk memilih obat sendiri, mengonsumsi sisa obat, menggunakan resep lama, atau mengikuti rekomendasi orang lain. Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan pengobatan tidak tepat dan berkontribusi terhadap resistensi antibiotik.
Ketika Antibiotik Dianggap Obat “Andalan”
Antibiotik sering dianggap sebagai obat yang lebih kuat sehingga dipilih ketika seseorang ingin segera sembuh. Padahal, keberhasilan obat tidak ditentukan oleh seberapa “kuat” obat tersebut, melainkan kesesuaiannya dengan penyebab penyakit.
Antibiotik bekerja terhadap bakteri. Penyakit akibat virus tidak otomatis lebih cepat sembuh karena antibiotik. Karena itu, demam, batuk, pilek, atau sakit tenggorokan tidak selalu berarti seseorang membutuhkan antibiotik.
Gejala penyakit dapat terlihat serupa meski penyebabnya berbeda. Pengalaman menggunakan obat sebelumnya karena itu tidak dapat dijadikan pedoman untuk penyakit berikutnya. Antibiotik juga memiliki berbagai jenis dan mekanisme kerja sehingga pemilihannya perlu mempertimbangkan kondisi yang dihadapi.
Penggunaan antibiotik berkaitan pula dengan dosis dan durasi pengobatan. Menggunakannya tidak sesuai anjuran dapat membuat terapi tidak optimal. Sisa antibiotik pun tidak seharusnya dianggap sebagai “cadangan” karena belum tentu sesuai dengan penyakit berikutnya.
Mengapa Orang Mengobati Diri Sendiri?
Penggunaan antibiotik tanpa resep dipengaruhi berbagai faktor, antara lain pengetahuan, pengalaman pribadi, kemudahan memperoleh obat, biaya, akses pelayanan kesehatan, serta pengaruh keluarga dan lingkungan. Kurangnya pemahaman mengenai perbedaan infeksi bakteri dan virus dapat membuat antibiotik dianggap cocok untuk berbagai keluhan. Keinginan sembuh dengan cepat, keterbatasan waktu, jarak, biaya, atau fasilitas kesehatan juga dapat mendorong seseorang membeli obat sendiri.
Pengalaman sebelumnya turut berpengaruh. Ketika seseorang merasa sembuh setelah mengonsumsi antibiotik, obat tersebut dapat dianggap sebagai penyebab kesembuhan dan digunakan kembali. Padahal, kesembuhan tidak selalu berarti antibiotik dibutuhkan.



