Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Estafet Perjuangan Sumpah Pemuda

H
Penulis: Hanif❯
Najihus Salam.
Najihus Salam.

Advertisement

Oleh: Najihus Salam*

PERISTIWA Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa menjadi penanda tumbuhnya kesadaran nasional di tengah masyarakat yang sebelumnya terikat oleh identitas kedaerahan. Di balik momentum tersebut, terdapat kontribusi berbagai organisasi pergerakan, termasuk kalangan pemuda Islam yang berupaya mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan cita-cita kebangsaan.

Muhammadiyah, yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta, turut menjadi bagian dari perjalanan panjang pembentukan kesadaran kebangsaan tersebut. Melalui pendidikan, dakwah, dan kaderisasi, Muhammadiyah mengembangkan gerakan pembaruan Islam yang tidak hanya berorientasi pada kehidupan keagamaan, tetapi juga pada kemajuan masyarakat. Sebagaimana diulas Suara Muhammadiyah dalam artikel “Sumpah Pemuda: Tiga Matra Kedaulatan Bangsa”, semangat persatuan dan kedaulatan bangsa menjadi bagian penting dalam memahami hubungan antara Sumpah Pemuda dan perjuangan kebangsaan Muhammadiyah.

Advertisement

 

Jong Islamieten Bond 

Sebelum Pemuda Muhammadiyah berdiri sebagai organisasi otonom, kaum muda Muslim telah memiliki sejumlah wadah untuk mengembangkan intelektualitas, memperdalam pemahaman agama, dan memperjuangkan kepentingan bangsa. Salah satunya adalah Jong Islamieten Bond (JIB), organisasi pemuda Islam yang didirikan pada 1925 di Jakarta.

Advertisement

JIB menjadi ruang perjumpaan bagi para pelajar Muslim dari berbagai latar belakang untuk membangun identitas keislaman sekaligus kesadaran kebangsaan. Sejumlah tokoh yang memiliki keterkaitan dengan gerakan Muhammadiyah, seperti Mr. Kasman Singodimedjo dan Mohammad Roem, turut dikenal dalam lingkungan pergerakan pemuda Islam pada masa itu.

Biografi Kasman Singodimedjo yang dimuat Suara Muhammadiyah dan artikel Hidayatullah berjudul “Mr Kasman Singodimejo (1904–1982): Pahlawan Nasional Aktivis Muhammadiyah” memperlihatkan perjalanan tokoh tersebut dalam dunia pergerakan, pendidikan, dan perjuangan kebangsaan. Kiprahnya menjadi salah satu contoh bagaimana kader Muslim terdidik berkontribusi dalam kehidupan politik Indonesia, melampaui kepentingan kelompok dan daerah.

Dalam Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928, berbagai organisasi kepemudaan berkumpul untuk merumuskan cita-cita persatuan.  Keterlibatan organisasi pemuda Islam dalam iklim pergerakan itu menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia tidak hanya tumbuh dari kelompok sekuler atau organisasi kedaerahan.

Kalangan pemuda Muslim juga mengambil bagian dalam membangun kesadaran bahwa perbedaan identitas tidak harus menjadi penghalang bagi persatuan. Bagi mereka, komitmen terhadap agama dan kecintaan kepada tanah air dapat berjalan beriringan.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Kumpulan Pantun Memperingati Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026

Kumpulan Pantun Memperingati Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026

Kumpulan pantun karya Tariyah, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Kalimantan Barat, dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda 2026, mengaja

Dorong Pemuda Dayak Utamakan Pendidikan, Karolin: Bekal Utama Kuasai Masa Depan

Dorong Pemuda Dayak Utamakan Pendidikan, Karolin: Bekal Utama Kuasai Masa Depan

Bupati hadiri HUT Tambak Baya di Landak, tekankan pentingnya pendidikan bagi pemuda Dayak serta siapkan Perda Hukum Adat dan Dana Abadi

Pemuda Dayak Bertato Adat Berpeluang Masuk TNI AD, TBBR Kapuas Hulu Minta Sosialisasi Diperluas

Pemuda Dayak Bertato Adat Berpeluang Masuk TNI AD, TBBR Kapuas Hulu Minta Sosialisasi Diperluas

TBBR Kapuas Hulu menyambut peluang rekrutmen TNI AD bagi pemuda Dayak bertato adat dan mendorong sosialisasi hingga pedalaman.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer