Ramadan bulan yang penuh amalan muamallah. Bulan penuh rahmat, berkah dan ampunan. Lebih baik dari seribu bulan, “terselip” satu malam di akhir dari tiga fase terakhir sebagaimana dikenal malam lailatul qadar. Itu sebabnya, setiap orang-orang Islam yang beriman sangat berbahagia, dan mempersiapkan jiwa raganya untuk dapat menjalani bulan Ramadan ini hingga datangnya hari kemenangan, Idulfitri.
Moment puasa di bulan Ramadan adalah juga bulan yang penuh dengan kecintaan Allah, dan tebersit kesan “memuliakan” perempuan, khususnya ibu-ibu yang berumah tangga. Sebagaimana ia dihadirkan Allah di tengah-tengah keluarga,dari pengabdiannya secara tulus kepada orang-orang yang sangat dikasihinya.
Rasa letih, lemas, lesu, bahkan ngantuk sekalipun semua itu terganti kebahagiaan, saat bisa melayani suami, anak-anak yang dikasihinya itu, menuju cinta sejati, semata-mata karena Allah SWT.
Melakukan tindakan affective rationality melalui pengabdiannya itu, turut mengantarkan keberkahan nilai pahala suami dan anak-anak yang dikasihinya dalam menjalani puasa dan segenap amaliah di bulan Ramadan. Sosok seorang ibu demikian praktis menjadi peneguh yang teramat kuat dalam menginternalisasikan nilai-nilai Islami. Di manatelah menjadi janji Allah, bahwa Dia yang langsung memberikan balasan atas segenap amaliah orang yang berpuasa. Apalagi terhadap seorang ibu yang dengan suka cita dan rasa cinta serta keihklasan melayani segenap keperluan amaliah ibadah orang-orang yang dikasihinya.
Dahsyatnya peradaban Islam yang terkonstruksi melalui berbagai amaliah di bulan Ramadan, ternyata syarat ‘ketulusan’ perempuan, sebagaimana coba di jawab, sekaligus mengingatkan kalangan perempuan bahwa pengarustamaan—mainstreaming—sangat diperlukan untuk mencapai kesejatiannya saat menjadi seorang ibu. Menjadi ibu yang penuh ‘cinta’ feminisme yang fair.
Mengaktualisasikan hakikat gender yang secara idealtidak hanya terjadi selama sebulan di bulan Ramadan, tetapi juga di bulan-bulan lain setiap tahunnya. Penuh kesabaran menginternalisasi nilai, norma dan fakta-fakta internalisasi keluarga tentang hakikat ‘seruan’ Illahi. Penuh keimanan dan pengelola keimanan keluarganya.
Keberkahan puasa sudah terasa sejak sahur. Seorang ibu dengan tulus menyiapkan santapan halal dan bergizi, lalu mengajak suami, anak-anaknya, juga orang tuanya untuk sahur bersama. Demikian pula saat berbuka puasa meskipun dengan makanan sekedarnya, agar memperoleh berkah. Atas dasar itu memperoleh keberkahan itu, dan besarnya peran dan fungsi perempuan sebagai ibu rumah tangga di bulan Ramadan.
Puasa di bulan Ramadan adalah ibadah yang wajib untuk dilaksanakan oleh umat Muslim (bagi yang mampu). Bulan Ramadan memiliki beribu keutamaan yang melimpah dan dijanjikan ganjaran pahala yang luar biasa.
Salah satu ganjaran pahalanya yakni memberi makan orang saat berbuka puasa. Besarnya gamjaran itu, terimplikasi juga pada dahsyatnya pengabdian ibu rumah tangga melalui tindakan affective rationality yang didasarkan atas kesabaran dan keikhlasan tinggi dalam menyuguhkan layanan-layanan terbaiknya kepada segenap anggota keluarganya di bulan Ramadan. Jadi apa saja yang dilakukan ibu rumah tangga di rumah, sejatinya bila dilakukan untuk memperoleh ridha suami, maka ridha suami tersebut berbuah pahala yang agung hingga Allah SWT meridhainya, kemudian Surga terindah dipersembahkan untuknya.
Peluang penerimaan pahala yang besar untuk ibu rumah tangga itu sangatlah melimpah. “Hidangan langit” baginya telah menanti. Sebagai ganjaran atas pengabdiannya dalam melayani kesiapan berbagai amaliah suami dan anggota keluarganya selama bulan Ramadan. Di saat menyediakan makanan saat berbuka, maka juga mendapatkan pahala bagi orang yang berpuasa, tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.
Di saat mengajak sahur maka mendapatkan pahala dari tawashobil haq atau menyeru kepada kebenaran. Demikian juga—meskipun tidak ikut ber’itikaf, namun peluang pahala yang diperolehnya sangat besar, karena telah membantu suami dan anggota keluarganya menyiapkan keperluan untuk beri’tikaf, dan selalu sedia menjaga keluarga di rumah. (*)
Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak Editor : Misbahul Munir S