Oleh : Abdul Rahman, MQ
BULAN Ramadan adalah bulan yang selalu dinantikan oleh muslimin di seluruh dunia, hal itu dikarenakan amalan biasa di luar bulan itu menjadi luar biasa ketika diamalkan di bulan Ramadan dari segi pahala yang dilipatgandakan.
Namun sebagai umat muslim kita tidak boleh terlena dengan hitungan pahala yang banyak dari amalan kita, karena ada kebiasaan yang terkadang disepelekan tetapi menghilangkan banyak pahala.
Hal itu dapat dijumpai dari keterangan Allah dalam QS. Al- Baqarah: 264. “Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir.
Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir.”
Setidaknya ada tiga kebiasaan yang dapat menghilangkan pahala sedekah dalam ayat tersebut yaitu menyebut-nyebut kembali sedekah, menyakiti hati penerima dan riya.
Ayat ini sesungguhnya tidak hanya memfokuskan pada pahala sedekah saja, namun seluruh amalan kebaikan seperti shalat, puasa, haji apabila diikuti dengan kebiasaan buruk itu maka pahalanya juga akan habis, tetapi sedekah disebutkan sebagai contoh tepat karena ketiga kebiasaan buruk itu paling sering terjadi pada amalan sedekah.
Selain penjelasan sederhana sebelumnya, Al-mann dapat juga diartikan dengan sikap takabbur yang membanggakan diri dengan amalan-amalan yang penah dilakukan baik itu yang terbersik di dalam hati maupun yang terungkap melalui lisa.
Al-Azā tidak hanya terbatas pada kalimat yang keluar dari lisan pemberi sehingga menyakiti penerima, tetapi segala bentuk prilaku, gerak gerik, gestur dan ekspresi secara sengaja yang menyakiti penerima sedekah tadi.
Terakhir riyā juga dapat berupa perasaan bangga dan senang jika melakukan kebaikan terlihat oleh orang lain dan termotivasi melakukan kebaikan karena menyukai sanjungan orang lain. (*)
Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak
Editor : A'an