Oleh: Amalia Irfani
BERSELANCAR di ruang maya telah menjadi aktivitas keseharian yang tidak lagi dianggap tidak bermanfaat atau aneh, seperti pada masa awal internet dikenal. Hampir seluruh aktivitas manusia, mulai dari belajar, bersosialisasi, mencari teman, hiburan, menyebarkan ilmu dan informasi, hingga mengais rezeki seperti berjualan, kini dilakukan melalui media sosial. Selain murah, media sosial juga mudah diakses tanpa harus menunggu waktu tertentu, dengan syarat memiliki perangkat dan paket data yang memadai.
Dalam praktik keseharian, internet sebagai media belajar dan bersosialisasi tidak hanya dimanfaatkan oleh generasi muda, tetapi juga oleh para lansia yang ingin tetap hidup produktif. Aktivitas mereka tidak lepas dari berselancar di dunia maya, baik untuk mencari teman, memperoleh informasi, maupun sekadar menyimak kajian keagamaan guna mengisi waktu, mengurangi kesepian, serta menjalani hidup yang lebih bermakna dan bahagia.
Keinginan di hari tua untuk tidak merepotkan anak dan tidak terbebani urusan domestik, seperti mengasuh cucu, menjadi motivasi tersendiri. Meski bahagia memiliki cucu, banyak lansia tetap ingin beraktivitas dan memberi manfaat. Kebutuhan akan wadah aktualisasi diri menjadi salah satu alasan mengapa lansia cukup intens menggunakan media sosial, di samping tetap aktif mengikuti kajian keilmuan dari mimbar ke mimbar.
Beberapa lansia binaan Majelis Kesejahteraan Sosial PWA Kalbar yang penulis wawancarai di sela kegiatan Tadabur Alam dan Madrasah Digital Lansia, program Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah PWA Kalbar, mengungkapkan hal yang kurang lebih serupa. Mereka mengaku media sosial seperti Facebook dan Instagram merupakan platform yang sering diakses untuk mencari kesibukan. Sebagian lainnya memanfaatkan media sosial untuk mengatasi rasa sepi setelah anak-anak menikah atau pasangan hidup lebih dahulu berpulang.
Kondisi ditinggal pasangan merupakan situasi emosional yang memerlukan perhatian serius dari orang-orang terdekat. Lansia akan menghadapi perubahan dan proses adaptasi yang cepat, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Tidak sedikit lansia kehilangan semangat hidup dan merasa berbeda setelah pasangan meninggal dunia.
Menurut Elizabeth Kübler-Ross, individu yang mengalami kehilangan akan melalui lima tahap duka, yaitu penyangkalan dan isolasi, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Apabila proses adaptasi ini tidak berjalan dengan baik, lansia berpotensi mengalami isolasi sosial serta gangguan kognitif, seperti demensia.
Lansia dan Keamanan Berselancar di Dunia Digital
Sebagaimana kelompok usia lain yang rentan mengalami kecemasan, depresi, dan perundungan siber (cyberbullying), lansia pun berada dalam posisi yang sama, bahkan tergolong lebih rentan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan perhatian dan pendampingan dari orang-orang terdekat, seperti anak atau saudara. Keterbatasan mobilitas dan rendahnya literasi digital membuat lansia berisiko mengalami perundungan ketika intens menggunakan gawai. Berikut beberapa bentuk perundungan yang kerap dialami lansia saat berselancar di dunia maya.
Pertama, penipuan
Kecanggihan teknologi dengan beragam aplikasi pengolah gambar dan suara membuat banyak pengguna internet tertipu dalam hubungan romantis palsu (romance scam). Korban yang umumnya kesepian dan membutuhkan perhatian emosional mudah terbawa perasaan. Kerentanan ini dimanfaatkan pelaku untuk melakukan penipuan, misalnya dengan meminta uang.
Kedua, pelecehan emosional melalui rekayasa sosial
Bentuk ini berupa perilaku destruktif yang merendahkan, memanipulasi, atau mengendalikan seseorang melalui status, komentar, atau panggilan di media sosial. Dari hasil wawancara penulis dengan beberapa lansia dalam kegiatan Madrasah Digital Lansia, muncul pertanyaan tentang cara menghadapi pesan singkat atau telepon yang mengatasnamakan layanan resmi perbankan dan meminta data pribadi atau uang. Salah seorang lansia mengaku hampir mentransfer sejumlah uang dan mengirim identitas diri akibat bujuk rayu pelaku.
Ketiga, penyebaran informasi salah
Dalam banyak kasus, lansia menjadi korban, bahkan pelaku penyebaran hoaks akibat minimnya kemampuan verifikasi informasi. Misalnya, pada masa kampanye politik, sejumlah lansia secara sadar meneruskan pesan dari satu grup ke grup lain tanpa memastikan kebenaran dan keabsahan informasi tersebut.
Berbagai bentuk perundungan tersebut, meskipun terkesan sepele, tidak dapat dianggap remeh. Lansia yang melek digital sejatinya dapat berkontribusi pada ketahanan keluarga, sosial, dan bahkan negara. Oleh karena itu, pendampingan melalui pelatihan literasi digital—seperti cara mengidentifikasi sumber informasi, memverifikasi fakta, dan mengenali judul provokatif—perlu diberikan secara berkelanjutan.
Lansia juga perlu dimotivasi untuk membiasakan pola pikir logis dan kritis dalam menggunakan gawai sesuai kebutuhan. Keberadaan organisasi seperti ‘Aisyiyah melalui pendampingan Madrasah Digital Lansia turut berkontribusi dalam mengedukasi lansia agar tetap berdaya dan mampu menebar manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. *
*Penulis adalah Kaprodi SAA FUSHA IAIN Pontianak / LPPA PWA Kalbar
Editor : Hanif