Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pendidikan Unggul, Jalan Kerukunan Bangsa

Hanif PP • Selasa, 6 Januari 2026 | 11:58 WIB
Mustafa
Mustafa

Oleh: Mustafa

Kerukunan bangsa tidak lahir secara tiba-tiba; ia dibentuk, dirawat, dan diwariskan melalui proses pendidikan yang panjang dan berkesinambungan. Kesadaran inilah yang menjadi relevan dalam peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia yang diperingati setiap 3 Januari.

Tahun ini, HAB mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, sebuah pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak lahir dari retorika semata, melainkan dari kualitas manusia yang dibentuk melalui pendidikan unggul dan berkeadaban. Di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia, pendidikan menjadi ruang paling strategis untuk menanamkan nilai kerukunan, toleransi, dan kerja sama lintas perbedaan.

Pendidikan unggul tidak hanya dimaknai dari capaian akademik, tetapi juga dari kualitas lingkungan belajar, karakter yang dibentuk, serta nilai-nilai kemanusiaan yang ditanamkan. Sarana dan prasarana yang memadai, pendidik yang kompeten dan berintegritas, serta iklim pembelajaran yang manusiawi menjadi fondasi penting. Tanpa dukungan guru berkualitas dan lingkungan belajar yang kondusif, proses pendidikan berisiko tidak optimal dalam menjalankan fungsi transformasinya.

Dalam konteks inilah peran Kementerian Agama menjadi sangat strategis, khususnya dalam pengelolaan madrasah dan pendidikan keagamaan yang menjangkau jutaan peserta didik di seluruh Indonesia. Madrasah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan nilai kebangsaan yang berakar pada moderasi beragama.

Melalui kebijakan Kementerian Agama Berdampak, arah pembangunan pendidikan ditegaskan dalam Asta Protas Kementerian Agama 2025–2029. Pendidikan keagamaan dan pendidikan unggul ditempatkan sebagai prioritas, tidak hanya untuk mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk generasi yang rukun, moderat, dan berkeadaban. Madrasah diharapkan menjadi pusat pembelajaran nilai, tempat peserta didik belajar menghargai perbedaan dan membangun sinergi sejak dini.

Sebagai pendidik di lingkungan madrasah, penulis kerap menyaksikan bahwa nilai kerukunan tidak tumbuh dari ceramah panjang atau slogan yang terpajang di dinding, melainkan dari keteladanan sederhana para guru.

Cara menyapa peserta didik, mengelola perbedaan pendapat di kelas, serta menegur dengan bahasa yang mendidik sering kali lebih membekas daripada materi pelajaran. Dari ruang kelas itulah penulis belajar bahwa pendidikan unggul sejatinya adalah pendidikan yang menyentuh hati, bukan sekadar mengisi kepala.

Dalam masyarakat yang majemuk, kerukunan tidak berarti meniadakan perbedaan. Kerukunan adalah kemampuan mengelola perbedaan secara dewasa, adil, dan bermartabat. Sinergi lahir ketika perbedaan tidak diposisikan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai kekuatan untuk bekerja bersama. Pendidikan memiliki peran sentral dalam proses ini, karena sikap toleran dan empati tidak muncul secara instan, melainkan dibentuk melalui proses pembelajaran yang konsisten.

Untuk memperkuat arah tersebut, Kementerian Agama mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta. Kurikulum ini menempatkan cinta sebagai nilai dasar pendidikan: cinta kepada Tuhan, sesama manusia, ilmu pengetahuan, lingkungan, dan tanah air. Pendekatan ini relevan di tengah tantangan zaman, ketika intoleransi, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial kerap merembes hingga ke ruang-ruang pendidikan.

Agar Kurikulum Berbasis Cinta semakin bermakna dalam praktik, diperlukan implementasi konkret. Pertama, guru menjadi teladan nilai-nilai kemanusiaan melalui pembelajaran yang empatik, moderat, dan berkeadilan. Kedua, nilai cinta diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran serta budaya madrasah. Ketiga, madrasah diharapkan menjadi ruang yang aman dan inklusif, bebas dari perundungan dan diskriminasi. Keempat, pemanfaatan teknologi pendidikan perlu disertai penguatan literasi digital yang beretika.

Hari Amal Bakti ke-80 semestinya menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan jalan utama dalam merawat kerukunan bangsa. Dengan Asta Protas sebagai arah kebijakan dan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai ruh pendidikan, tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hidup dalam praktik pendidikan sehari-hari. Semoga. **

 

*Penulis adalah guru MAN 2 Pontianak.

Editor : Hanif
#Kerukunan #kemajuan bangsa #kementerian agama #HAB #Peran Pendidikan #membentuk karakter