Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Angsa Hitam

Hanif PP • Sabtu, 17 Januari 2026 - 16:47 WIB
Eka Hendry Ar.
Eka Hendry Ar.

Oleh : Eka Hendry Ar*

Semula, semua orang-orang Eropa menduga angsa selalu berwarna putih.  Karena memang semesta pengetahuan mereka, namanya angsa ya berwarna putih.  Paling tidak sampai abad 16 M, orang-orang Eropa masih meyakininya. Sampai kemudian ditemukan, ternyata ada angsa berwarna hitam di Australia, sekitar abad 17 M.   Tentu saja ini sangat mengejutkan, sekaligus meruntuhkan anggapan yang telah berabad-abad.  Tulisan ini bukan sedang membincangkan makna kiasan dari angsa hitam atau putih. Akan tetapi ini sebuah kenyataan empiris dan dalam arti yang sesungguhnya.  Point menarik dari peristiwa ini menjadi satu temuan menarik, yang menginspirasi Nassim Nicholas Taleb mengagas teori tentang Black Swan Theory (Teori Angsa Hitam).

Teori ini memiliki 3 karakter utama. Pertama, tak terduga, dimana ada satu peristiwa yang tidak diperkirakan sebelumnya, dan tidak terprediksi akan kemunculannya.  Kedua, implikasi yang ditimbulkan besar dan luas, meskipun bisa positif, bisa pula negatif.  Ketiga, namun kemudian, setelah peristiwa tersebut muncul orang kemudian menemukan justifikasi atau penjelasan rasional atas peristiwa yang tidak terprediksi sebelumnya.

Sebagai seorang Guru Besar keuangan dan mantan pialang di Wall Street, Nassim menuliskan teorinya dalam konteks krisis keuangan yang terjadi pada dasawarsa pertama abad 21 (antara 2007-2008).  Namun, teori ini kemudian cepat berkembang dan menjangkau wilayah keilmuan lainnya, seperti sosiologi, politik dan komunikasi. 

Satu peristiwa penting yang sering dirujuk dari implementasi teori ini adalah peristiwa covid 19 yang mereset kehidupan masyarakat dunia secara total.  Semua negara mengalamai shock, dan semua lini kehidupan mengalami goncangan hebat.  Pristiwa ini barangkali baru terjadi pertama, dan tidak terperediksi sebelumnya, dampaknya meluas dan berkepanjangan. Jutaan nyawa manusia melayang, lebih dahsyat dari kematian yang disebabkan oleh Bom Atom di Nagasaki dan Hirosima dan total kematian akibat dari Perang Pertama dan Perang dunia kedua.  Dunia benar-benar dibuat shock dan berubah seketika, akibat dari wabah Covid 19. 

Dari peristiwa-peristiwa besar yang tidak terprediksi tersebut kita belajar paling tidak ada tiga hal, diantaranya tentang ketidakpastian, kesiapan melakukan mitigasi dan menghindari kesalahan rasional.  Ketidak pastian adalah kesadaran kita bahwa, apa yang kita anggap sebagai sebuah kebenaran mutlak, dan kepastian benar prediksi yang kita buat untuk membaca masa depan tidak selalu dapat diukur dengan data-data historis.  Oleh karenanya, kita harus mampu mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai antisipasi terhadap hal-hal yang tidak terduga di masa depan (menciptakan ketahanan).

Kemudian, kecenderungan manusia untuk mensimplifikasi dan mencari pembenaran rasional atas peristiwa tersebut. Ini adalah bias, karena sejatinya ini merupakan kesalahan logis yang disebut bias retrospektif dimana kita berpikir kita seharusnya bisa melihat kemunculannya.

Teori ini dapat kita gunakan untuk memotret berbagai peristiwa dalam kehidupan manusia, meskipun dengan skala yang lebih kecil dan tidak terlalu luas.  Salah satunya untuk memotret tenang peristiwa politik yang terjadi di sekeliling kita.  Dalam politik kita seringkali menemukan “kejutan-kejutan” yang di luar prediksi dan perhitungan.  Sebenarnya lumrah saja, karena politik demikian cair, kadang juga seperti bola bundar, yang gerak dan pantulannya unpredictable.  Meskipun tidak serumit logika angsa hitam, namun harus kita akui, apa yang kita pikirkan tidak sama dengan apa yang terjadi. 

Probabilitas lazim dijumpai dalam setiap peristiwa politik.  Semula kalkulasi di atas kertas tidak selalu koheren atau semulus dalam kenyataannya (riel politik).  Bahkan, implikasi dan vibrasinya malah boleh jadi melampui perkiraan kita.  Dalam kajian politik hal ini normal saja, dan masih dalam wilayah ijtihadi.

Walaupun, implikasi dari perhitungan yang meleset, prediksi yang tidak akurat, dan strategi yang kurang matang, seringkali memukul balik kepada tuannya sendiri.  Namun itu juga masih dalam batas yang wajar, logis dan harus secara gentlement diterima. 

Pelajaran penting yang kita timba dari teori angsa hitam boleh jadi sebagai mitigasi ketika peristiwa telah terjadi, atau lebih ideal menjadi kesadaran awal sebelum kita memulai aksi.  Sebagai mitigasi, hendaknya ketika kejutan yang tidak diprediksi terjadi, bagaimana kita membangun mekanisme pertahanan agak kita tidak semakin terpojok dan terpuruk.

Seperti kita boleh saja terpukul oleh covid 19, sehingga kita jatuh ke titik nadir terendah apatisme, namun pelan tapi pasti kita membangun pertahanan diri untuk bertahan.  Melangkah perlahan, dan kemudian menjadikan kesulitan tersebut sebagai sebuah kesempatan.

Dalam politik demikian pula, ketika kita terpuruk dan tersudutkan, kita harus perlahan bangkit menemukan berbagai peluang kembali agar kita tidak terbuang sia-sia.  Kesalahan boleh saja telah terjadi, tapi kita bukan keledai yang harus kembali terpuruk kepada kesalahan kedua, ketiga dan seterusnya.

Kita juga tidak perlu membangun rasionalisasi atau pembelaan atas keterpojokan kita. Karena jika hal tersebut kita lakukan, itu hanya sekedar penghibur hati, namun tidak merubah realitas (bias retrospektif). Kita harus jujur mengakui bahwa, bacaan, strategi dan langkah kita  barangkali memang keliru. Atau paling tidak, tidak terbukti benar untuk jangka waktu yang singkat. 

Namun optimisme tetap harus ditumbuhkan.  Karena seperti teori angsa hitam, boleh jadi pada satu fase tertentu apa yang hari ini kita nilai salah, adalah kebenaran di masa tersebut. Berbekal optimisme angsa hitam, kita melangkah kembali dalam bacaan, strategi dan taktik yang lebih matang, lebih kalkulatif, dan dilengkapi dengan berbagai strategi mitigasi berlapis dan tameng-tameng pendeteksi dari kiri kanan depan belakang. Karena boleh jadi, selain angsa putih dan angsa hitam, siapa tahu ada angsa merah di kemudian hari.**

 

*Penulis adalah dosen FTIK IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#keyakinan #penemuan #australia #Black Swan #eropa #angsa hitam