Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mesranya Ketupat dan Lampion

Hanif PP • Kamis, 12 Februari 2026 | 12:22 WIB
Patmawati
Patmawati

Oleh: Dr. Patmawati, M.Ag*

Tulisan ini berangkat dari pengalaman sederhana dalam rutinitas sore hari: berjalan seribu langkah di sekitar Gang Wan Sagaf, Kota Pontianak. Kebiasaan ini bukan semata upaya menjaga kesehatan, tetapi juga ruang kontemplasi bagi saya yang berprofesi sebagai pendidik memahami berbagai interaksi masyarakat untuk dijadikan bahan kajian ilmiah. 

Pada hari-hari biasa, aktivitas berjalan kaki di kawasan tersebut terasa lumrah. Namun, suasananya berubah sejak memasuki Februari 2026. Di hadapan mata tersaji pemandangan yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna tentang moderasi beragama. Gang Wijayasari dipenuhi hiasan berwarna hijau, kuning, dan merah berupa ketupat dan lampion yang digantung berdampingan. Ornamen-ornamen itu menjadi simbol kebersamaan warga yang berasal dari etnis Melayu dan Tionghoa.

Hiasan ketupat menandai kesiapan warga Melayu menyambut bulan suci Ramadan, sementara lampion menjadi penanda perayaan Tahun Baru Imlek oleh warga Tionghoa. Dua simbol keagamaan yang berbeda hadir dalam satu ruang, saling melengkapi tanpa meniadakan makna masing-masing. Di gang sempit itu, nilai toleransi tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjelma dalam praktik keseharian yang hidup dan membumi.

Hiasan ketupat dan lampion yang digantung bersama sebagai komunikasi simbolik yang sedang menandakan bahwa mereka hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai keyakinan masing-masing.  Pemandangan ini membuat tergelitik untuk bertanya,  kebetulan di Gang Wijayasari  saya punya kenalan teman beretnis Tionghoa. Dia sering mempersilakan saya untuk mampir sekadar minum the, jika letih berolahraga.

“Apakah hiasan ketupat dan lampion sudah biasa di gang tersebut?,” tanya saya.

Dia menjawab, “Iya, apalagi sekarang Imlek dan bulan puasa sangat dekat, sama-sama di bulan Februari.”

Teman saya ini pun menceritakan kisah keberadaan dia di gang Wijayasari, kebetulan dia berasal dari Jakarta. Dia mengatakan bahwa sewaktu baru berada di gang Wijayasari teman-teman terdekatnya adalah suku Melayu yang menjadi tetangganya. Saya pun bertanya “apakah saat merayakan imlek, mereka berkunjung ke rumah?” dia menjawab “iya, tetangga yang muslim pun berkunjung ke rumah saya, dan saat mereka merayakan lebaran, sayapun membalas kunjungan mereka”. Saya pun mengucapkan terimakasih atas informasinya dan menutup pembicaraan kami.

Teman saya kemudian menceritakan pengalamannya tinggal di Gang Wijayasari. Ia berasal dari Jakarta dan mengungkapkan bahwa sejak pertama menetap di gang tersebut, teman-teman terdekatnya adalah warga bersuku Melayu yang menjadi tetangganya.

Saya pun bertanya, “Apakah saat merayakan Imlek mereka berkunjung ke rumah?”

Ia menjawab, “Iya, tetangga yang beragama Islam juga berkunjung ke rumah saya. Sebaliknya, saat mereka merayakan Lebaran, saya pun membalas kunjungan tersebut.” Saya mengucapkan terima kasih atas informasi itu dan menutup pembicaraan kami.

Dari cerita teman saya tersebut, terdapat fragmen kehidupan yang unik dan menarik, sekaligus mencerminkan warisan nilai luhur yang terus lestari dari para leluhur. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang tidak terkontaminasi ajaran yang memecah belah kebenaran. Sikap hidup mereka tidak eksklusif, melainkan inklusif dalam menerima perbedaan. Jika komunitas-komunitas semacam ini tumbuh dan terjaga, jauh dari paparan paham ekstrem, bangsa ini akan semakin kokoh dalam menghadapi berbagai rintangan. Bangsa yang tidak mudah tercerai-berai oleh provokasi atau informasi yang berpotensi mengganggu persatuan dan persaudaraan. Mereka tidak pernah mengenal istilah “kurikulum cinta”, namun mampu mempraktikkan cinta dalam perbedaan. Mereka juga tidak tumbuh dalam sekat-sekat agama, melainkan menjadikan agama sebagai pengontrol diri untuk melahirkan sikap rahman dan rahim.

 

 

Kerukunan adalah Cita-Cita

Idealnya, agama hadir dalam jiwa dan raga sebagai penuntun menuju kebaikan, menjadi jembatan untuk memanusiakan manusia dan menghargai setiap makhluk ciptaan-Nya. Setiap agama membawa misi damai dan keselamatan. Lantunan Al-Qur’an, Bhagavad Gita, Injil, Si Shu dan Wu Jing, Tripitaka, serta Weda, pada hakikatnya bermuara pada nilai kebaikan dan kasih sayang antarsesama manusia tanpa memandang latar belakang agama maupun identitas. Agama menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama, sebab mencabut nyawa seseorang sama artinya dengan menghilangkan eksistensi kemanusiaan itu sendiri. Ketika harmoni terbangun tanpa paksaan, di situlah nilai belas kasih dari pengalaman beragama menemukan wujudnya yang paling hakiki.

Kisah sederhana ini memberi pelajaran berharga tentang eksistensi kemanusiaan dalam masyarakat majemuk. Ia menegaskan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas keberagaman ras, etnis, suku, bahasa, budaya, dan agama. Sejak awal kelahirannya, Indonesia merupakan persatuan dari berbagai bangsa atau kerajaan yang melebur menjadi satu kesatuan. Para pendiri bangsa dengan arif menanggalkan ego kedaerahan dan menjalin keragaman melalui konsensus nasional sebagai ikatan kebangsaan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi momentum besar bagi bangsa Indonesia yang heterogen, berlandaskan nilai-nilai universal dan kearifan lokal, untuk bersatu dalam bingkai keadilan sosial bagi seluruh rakyat dan semesta kehidupan.

Sikap eksklusif dan keteguhan dalam menjalankan ajaran agama masing-masing memang diperlukan untuk menyelami ruh keimanan. Namun, agama juga mengajarkan pentingnya sikap inklusif terhadap keberadaan agama lain. Nilai-nilai moral yang terkandung dalam setiap agama merupakan esensi keberagamaan itu sendiri. Nilai moral inilah yang membimbing manusia, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas, untuk meningkatkan kualitas kemanusiaannya. Pada titik inilah agama menjadi panduan bersama dalam berlomba-lomba melakukan kebaikan (fastabiqul khairat).

Pada akhirnya, agama hadir dalam kehidupan manusia untuk mewujudkan tatanan hidup yang manusiawi, sekaligus menanggalkan segala perilaku yang merendahkan martabat manusia hingga berada pada posisi asfala safilin, serendah-rendahnya makhluk. Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat-sahabat Muslim, serta selamat merayakan Hari Raya Imlek bagi sahabat-sahabat penganut agama Konghucu.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
#manusiawi #ketupat #tionghoa #ramadan #lampion #imlek #melayu #harmoni