Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pahlawan Buku dan Pena

Hanif PP • Sabtu, 14 Februari 2026 | 15:08 WIB
Ferdianus Jelahu, S.Pd
Ferdianus Jelahu, S.Pd

Oleh: Ferdianus Jelahu, S.Pd*

Lagi-lagi kita dikejutkan berita yang menyayat hati semua orang, terjadinya kasus bunuh diri Yohanes Bastian Roja (YBR) anak usia sepuluh tahun (10) tahun, murid sekolah dasar di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan tragedi kemanusiaan yang menyisakan duka mendalam. Peristiwa ini memberikan peringatan keras terhadap situasi sosial hidup dalam masyarakat. Siapa sangka anak yang berusia 10 tahun memberikan keputusan untuk melakukan tindakan yang sangat desawa? Tindakan ini bukan lagi sebuah berita yang menjadi pertonton bagi banyak orang, tetapi merajut aksi nyata, refleksi mendalam tentang dampak kehidupan sosial dalam hidup bertetangga, dan masyarakat.

Masalah YBR, bukan masalah keluarga semata, tetapi masalah bersama, mulai dari tingkal keluarga hingga tingkat global. Nilai kepeduliaan dalam hidup bersama semakin redup. Nilai kepekaan semakin luntur. Kebersamaan sekedar kumpul bersama, bukan menjadi aksi nyata dalam membantu dalam menolong orang lain yang mengalami kesulitan. Kumpul bersama berbicara seputar politik, berbicara soal kedudukan. Kebersamaan bukan lagi berbicara tentang keprihatinan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat (keluarga, tetangga), tetapi soal relasi politik.

 

Sorotan Pemerintah NTT

Kecemasan serta duka yang mendalam kepergiaan YBR dirasakan oleh seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur. Gubenur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat memberikan pidato di Univertsitas Citra Bangsa Rabu (4/2) dalam sebuah forum resmi menegaskan bahwa pranata sosial kita gagal, pemerintah kita gagal, provinsi sama, kabupaten Ngada sama, pranata agama gagal, pranata buaya juga gagal. Jangan sampai kepala daerah, ini menjadi persoalan biasa. Sebagai pemerintah kita gagal mengurusi warga negara seperti ini. Peristiwa seperti ini, tidak bolah lagi terjadi. Sementara Bupati Ngada, Raymundus Bena dalam konfrensi pers pada Kamis (5/2) mengungkap sejumlah fakta dibalik kematian YBR yang meninggal akibat bunuh diri karena tidak bisa membeli buku dan bulpen. Kasus kematiannya, bukan semata-mata ingin membeli buku dan pulpen, tetapi juga kemendesakan ekonomi.

Kepergiaan YBR, menjadi alarm keras bagi pemerintah Ngada dan pemerintah provinsi NTT dalam menanggani kemiskinan. Pemerintah perlu mengambil langkah tegas dalam menanggani data-data kemiskinan di NTT, bukan karena relasi jabatan struktural, tetapi memikikirkan kesejahteraan bersama (bonum commune).

Dalam memberantas kemiskinan, yang perlu diputuskan adalah relasi kekuasaan. Pemerintah idealnya milik semua masyarakat, terlepas dari perbedaan pilihan politik. Setelah menjabat menjadi milik semua masyarakat demi dan untuk kepentingan bersama.

Masyarakat NTT dalam keseharian memiliki kebiasaan peduli terhadap tetangga. Ada berbagai kebiasaan baik, sejak dahulu kala itu ada, misalkan kekurangan garam, tidak ada sayur, tidak ada uang pun, bisa minta atau pinjam ke rumah tetangga. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini, mulai luntur akibat pola hidup yang instan, mungkin juga ingin meniru-niru budaya barat (westernisasi) sehingga meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik budaya setempat.

Akibat dari perkembangan zaman, pola hidup baik dalam budaya mulai terendus oleh sikap invidualistik. Tidak perlu jauh dari kehidupan kita, kalau kita sedang rapat, kita kerapkali sibuk dengan smartphone yang ada di tangan. Seolah tidak ada suara yang hadir sekitar kita. Kita tidak mendengarkan dengan baik, kita tidak bisa memberikan hati secara totalitas. Dampak dari hal sepele seperti ini, juga membawa pengaruh terhadap pranata kehidupan sosial, kepekaan dan kepeduliaan dalam hidup bermasyarakat menjadi luntur.

 

Pahlawan Buku dan Pena

Gambar yang dirilis dalam flayer oleh media daring ditulis harga mahal buku tulis dan pena di Indonesia Rp.10.000;- memberikan refleksi mendalam tentang urgensi pendidikan. Tanpa buku dan pulpen tak berarti dalam keseharian di sekolah. Kertas kosong tetap kertas kosong. Pena harus tergores dalam kerta kosong. Muatan isi kertas kosong itu adalah “jinjing masa depan”. Goresan pena dalam buku meninggal jejak.  Jejak itu terbaca dalam sebuah buku yang menyisakan berbagai bentuk tulisan untuk masa depan. Dalam sebuah kertas kosong itu meninggal makna mendalam ditulis oleh YBR, sebuah kerta yang lusu, hanya tergores tintah berbunyi Kertas tii mama keti, mama galo zee, mama molo ja’o galo mata, mae Rita ee Mama. Yang artinya Surat untuk Mama Reti, Mama pelit sekali, Mama baik sudah. Kalau saya meninggal, Mama jangan menanggis.

Pesan yang sangat mendalam bernas, tetapi memberikan isyarat yang keras dan kuat. Situasi ekonomi orang tua juga memberikan pukulan keras terhadap keputusan YBR. Sebuah jalan yang dipilih untuk mengkahiri hidup yang tak lazim dilakukan oleh anak yang berusia 10 tahun. Tetapi apa daya, itulah pilihan terakhir yang dihadapi. YBR memberikan ruang hidup bagi kakak dan adik, ibu dan neneknya. Meski ia harus mengambil langkah berbeda dalam hidup keluarga. Makna ini memberikan pesan yang mendalam yang ditinggal YBR. Pesan yang sangat mendalam dari sikap seorang pahlawan, memberikan hidup bagi yang lain.

Pilihan sikap yang diputuskan YBR memberikan alarm keras bagi seluruh masyarakat NTT. Bahwa ketidakpedulian terhadap sesama akan meninggalkan jejak yang kuat bagi siswa-siswi lain yang masih mengeyam pendidikan saat ini. Kejadian ini menjadi pembelajaran mendalam tentang situasi pendidikan masa kini. Ketika buku dan pena tidak ada, bagi YBR mungkin terjadi kehampaan, tidak ada yang diingat, tidak ada yang didapat dalam proses pembelajaran. Maka, cara terbaik yang dilakukannya adalah minta kepada sang ibu. Kedati demikian, sang ibu pun, tak bisa memenuhi kebutuhan YBR. Idealnya apap pun kebutuhan dasar pendidikan harus terpenuhi. Buku dan pulpen merupakan kebutuhan dasar bagi seluruh siswa-siswi, bukan hanya YBR, tetapi semua murid. Buku dan pulpen, dinilai sangat penting dalam proses pembelajaran di sekolah.

 

Sinergi Sekolah dan Keluarga

Pendidikan orang tua di rumah dan pendidikan di sekolah perlu berkolaborasi. Tidak bisa memanting salah salah satu. Keduanya saling bahu-membahu dalam mendorong pendidikan yang bermutu. Sekolah tidak boleh mengabaikan entitas murid, demikian pula sebaliknya orang tua perlu mempedalam kebutuhan yang diperlukan oleh murid. Sinergisitas ini membantu mengatasi beberbagai persoalan yang dihadapi murid. Pendidikan bermutu tidak bisa dipisahkan antara peran sekolah dan peran keluarga. Keduanya sama-sama memiliki tujuan yakni memberikan pendidikan yang terbaik.

Singergisitas sekolah dan keluarga bukan berarti tidak ada masalah. Masalah yang ditemukan di sekolah, sangat komplek. Salah satunya masalah kesenjangan ekonomi. Ada murid yang sangat mampu ada murid yang kurang mampu. Ada beberapa masalah dapat ditemukan bahwa ada murid yang secara ekonomi tidak mampu, tetapi motivasi sekolahnya tinggi. Namun, kasus seperti ini oleh Uri Brofenbrenner dalam (Santrok, 2007:85) menyatakan bahwa kemiskinan dapat memengaruhi perkembangan anak dan merusak kemampuan mereka untuk belajar, meskipun beberapa anak di lingkungan yang miskin sangat ulet.

Berkaca dari teori Brofenbrenner, nampaknya itulah yang dirasakan YBR. Anak yang sungguh ulet dalam kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi tekanan faktor ekonomi membuatnya mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan. Sebagaimana dikatakan wali kelasnya, Bonivasius Snae menyatakan bahwa anaknya selalu cerita dalam kelas, anaknya pintar dan jujur dan selalu bermain bersama teman.

 

Belajar dari Pengalaman YBR

Pendidikan jatung utama perjalanan karir hidup seseorang. Soal berhasil atau tidak di kemudian hari, masing-masing orang dapat menetukan. Untuk mencapai karir yang lebih baik, dasar dari pendidikan adalah proses pembelajaran lingkungan sekolah. Proses pembelajaran itu, tidak hanya terjadi dalam kelas, tetapi juga dalam interaksi sosial di lingkungan sekolah.

Kebutuhan dasar pendidikan harus menjadi pusat perhatian dari orang tua dan sekolah. Buku dan pulpen merupakan kebutuhan dasar dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi berbagai kekurangan perlu membangun jaringan sosial kepada teman angkatan, lintas kelas maupun lingkungan satuan pendidikan, entah dengan guru maupun tenaga kependidikan. Sekolah bukan sekedar menerima pembelajaran dalam kelas, tetapi membangun jaringan sosial untuk mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapi. Semoga murid di sekolah-sekolah kita, tidak hanya mengejar kecerdasan secara akademik, tetapi peduli terhadap murid lain yang mengalami kekurangan.**

 

*Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak; alumni USD Yogyakarta; Mahasiswa AP Untan.

Editor : Hanif
#kepedulian sosial #tragedi #refleksi #bunuh diri #peduli lingkungan #anak 10 tahun