Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bugar di Tengah Lapar: Semangat Olahraga Saat Ramadan

Hanif PP • Rabu, 25 Februari 2026 | 12:02 WIB

Bay Jayadi, S.Pd.,M.Or
Bay Jayadi, S.Pd.,M.Or

Oleh: Jayadi, S.Pd., M.Or*

Ramadan adalah bulan suci untuk menahan diri dari rasa lapar, haus, amarah, serta berbagai keinginan duniawi lainnya. Namun, bagaimana pengendalian diri itu diterapkan dalam kehidupan nyata? Pertanyaan ini kerap muncul setiap menjelang Ramadan. Selain itu, apakah olahraga tetap relevan dilakukan saat berpuasa?

Sebagian orang memilih beristirahat dan menghindari aktivitas fisik karena khawatir merasa lemas, letih, dehidrasi, bahkan kehilangan tenaga. Padahal, Ramadan justru dapat menjadi momentum untuk memaknai kedisiplinan melalui penguatan fisik dan mental lewat olahraga.

Puasa bukan alasan untuk berhenti produktif, melainkan sarana melatih pengendalian diri. Olahraga dan puasa memiliki kesamaan dalam hal konsistensi, komitmen, serta kemampuan menahan dorongan sesaat. Ketika seseorang tetap beraktivitas dalam kondisi lapar, sejatinya ia sedang melatih daya tahan fisik sekaligus meneguhkan kekuatan karakter. Lapar bukan hambatan, melainkan pembelajaran untuk memahami batas dan cara mengelola tubuh dengan bijak.

Anggapan bahwa olahraga saat puasa pasti menurunkan kemampuan tubuh tidak sepenuhnya keliru, tetapi sering kali muncul karena kurangnya pemahaman. Memang, aktivitas fisik dapat menyebabkan penurunan cairan tubuh atau dehidrasi. Namun, persoalannya bukan pada puasanya, melainkan pada strategi yang diterapkan. Intensitas, waktu, dan jenis olahraga perlu disesuaikan.

Olahraga ringan seperti jalan cepat, yoga, atau bersepeda santai dapat menjadi pilihan yang aman karena tidak menguras tenaga. Latihan beban ringan juga dapat dilakukan dengan pengaturan yang tepat. Waktu yang dianjurkan adalah menjelang berbuka puasa agar tubuh tidak terlalu lama berada dalam kondisi kekurangan cairan setelah berolahraga.

Penting pula mengubah pola pikir bahwa puasa identik dengan kekurangan energi dan menurunnya semangat. Pada beberapa hari pertama, tubuh memang membutuhkan proses adaptasi sehingga rasa lelah lebih terasa. Namun, seiring waktu, metabolisme akan menyesuaikan diri. Tubuh mulai memanfaatkan cadangan energi, termasuk lemak, sebagai sumber tenaga. Proses ini sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pola makan, waktu istirahat, dan kualitas gerak yang dilakukan.

Sayangnya, perubahan pola konsumsi saat berpuasa sering kali tidak diiringi pengendalian diri. Alih-alih menurunkan berat badan, sebagian orang justru mengalami kenaikan berat badan karena berbuka secara berlebihan tanpa diimbangi aktivitas fisik. Hidangan tinggi gula dan lemak tersaji melimpah, sementara aktivitas gerak minim. Akibatnya, puasa hanya mengubah pola konsumsi, bukan memperkuat nilai spiritual pengendalian diri.

Di sinilah olahraga berperan sebagai penyeimbang sekaligus pengingat bahwa tubuh adalah amanah yang harus dijaga, bukan sekadar alat pemuas selera. Lebih dari sekadar menjaga berat badan, olahraga saat Ramadan juga memiliki manfaat psikologis. Aktivitas fisik membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi stres, dan meningkatkan kualitas tidur.

Ramadan identik dengan peningkatan ibadah, seperti sahur dan salat tarawih. Kondisi tubuh yang prima akan membantu ibadah dijalankan dengan lebih khusyuk. Tubuh yang bugar membuat energi lebih terarah dan fokus lebih terjaga. Dalam konteks ini, olahraga dapat menjadi penopang nilai spiritualitas.

Bulan Ramadan mengajarkan ritme kehidupan yang teratur melalui pembagian waktu sahur, berbuka, tarawih, dan ibadah malam. Olahraga pun menuntut konsistensi dalam rutinitasnya. Misalnya, melakukan peregangan selama 30 menit menjelang berbuka atau aktivitas ringan setelah tarawih. Konsistensi menjadi kunci utama, bukan lamanya durasi atau tingginya intensitas. Ramadan mengajarkan bahwa hal kecil yang dilakukan secara tetap jauh lebih bernilai daripada hal besar yang sesaat.

Bagi orang yang sehat, tidak ada alasan untuk meninggalkan aktivitas fisik selama Ramadan. Tentu, setiap individu memiliki kondisi fisik yang berbeda, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Namun, menjadikan Ramadan sebagai titik awal gaya hidup aktif, bukan bermalas-malasan, merupakan langkah transformasi menuju kesehatan jangka panjang.

Olahraga dan puasa juga menjadi wujud rasa syukur atas karunia tubuh yang diberikan Tuhan. Ketika seseorang tetap menjaga kebugaran di tengah keterbatasan asupan energi, sesungguhnya ia sedang menghargai makna kesehatan yang dimilikinya. Esensi Ramadan bukan hanya peningkatan spiritual, tetapi juga penguatan fisik dan sosial.

Akhirnya, bugar di tengah lapar adalah persoalan cara pandang. Jika puasa dianggap sebagai beban, maka olahraga pun terasa sebagai penderitaan. Namun, jika puasa dimaknai sebagai latihan penguatan diri, olahraga menjadi bagian yang sejalan dalam menyehatkan tubuh, membentuk disiplin, menumbuhkan ketangguhan, dan menjaga keseimbangan hidup.

Ramadan bukan waktu untuk menjadi pasif. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan menemukan kekuatan tersembunyi dalam diri. Lapar dan dahaga mengajarkan ketahanan, sementara olahraga memberi ruang bagi tubuh untuk tetap bergerak secara terarah.

Pada akhirnya, Ramadan bukan sekadar menahan amarah, tetapi membangun diri secara utuh. Tubuh diciptakan untuk bergerak, dan jiwa dijaga melalui kebugaran yang diniatkan sebagai bagian dari ibadah. Bugar di tengah lapar adalah makna bahwa iman dan kesehatan dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan menyempurnakan kualitas ibadah manusia.**

 

*Penulis adalah Ketua Takmir Surau Sulaiman Nur; Dosen PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

Editor : Hanif
#lapar #pengendalian diri #ramadan #dehidrasi #haus #bulan suci #produktif