Gelang tembaga terlihat mencolok. melingkar di kedua tangan dan kaki para perempuan Sungkung, khususnya Dusun Medeng. Gelang kuning keemasan itu bukan sekadar aksesori biasa. Bagi si pemakainya, gelang itu sebagai tanda status sosial yang akan terus dipakai hingga akhir hayatnya.
ARIEF NUGROHO, Sungkung
PAGI itu, Sabtu (24/6), matahari mulai beranjak dari peraduan. Nenek Jagei pun begegas keluar dari rumahnya. Dengan membawa takin atau tas yang terbuat dari anyaman rotan, ia berjalan menuju rumah adat atau baluk yang terletak tak jauh dari kediamannya.
Nenek Jagei adalah satu dari beberapa perempuan Sungkung yang mengenakan gelang tembaga pada tangan dan kakinya. Warga sekitar menyebut gelang itu dengan nama bathu’k.
Setibanya di rumah adat yang terbuat dari bambu, ia langsung masuk. Nenek Jagei kemudian menganti pakaiannya dengan busana adat. Mengenakan selempang atau yang disebut sament, ikat kepala atau tuubih, kalung manik-manik atau ti’miih dan lonceng kaki.
Selain Nenek Jagei, ada pula Nenek Ebel, Ayung, Gangeg dan beberapa perempuan bergelang tembaga lainnya. Mereka melakukan hal yang sama. Mengganti pakaian dengan busana adat. Selain kaum perempuan, tetua laki-laki pun mengenakan busana adat.
Pakaian adat untuk laki-laki sedikit lebih sederhana. Mereka menggunakan cawat atau disebut taaepe, yakni kain panjang yang dililitkan menyerupai celana. Selain itu, mereka juga mengenakan ikat kepala atau be’ekng bapak.
Hari itu adalah hari istimewa bagi warga Dusun Medeng, Desa Sungkung II. Mereka akan kedatangan tamu penting. Yakni seorang kepala daerah yang untuk pertama kalinya mengunjungi dusun mereka.
Kesempatan baik itu dirayakan dengan menggelar ritual penyambutan tamu yang biasa disebut Nyabakng. Ritual ini bertujuan meminta kepada nenek moyang atau tapak agar selalu menjaga pemimpin yang baik, bersih, adil dan jujur dalam memimpin supaya bangsa atau suku selalu bersatu, rukun dan damai.
Ritual penyambutan tamu dibuka dengan tarian para perempuan bathu’k. Tarian melingkar ini diiringi seperangkat alat musik siihkukng, yang terdiri dari satu set gong, satu set kelintang (engithankng), satu set canang (bhaneh), satu set ketawak (tawak) dan sabakng. Sabakng sendiri merupakan alat musik semacam bedug yang berukuran panjang.
Bagi perempuan Sungkung, bathu’k atau gelang tembaga bukan sekadar aksesori yang berfungsi untuk mempercantik diri. Konon, perempuan Sungkung yang menggenakan bathu’k adalah keturunan orang kaya atau bangsawan pada masa silam. Bathu’k menjadi simbol status sosial bagi pemakainya.
Uniknya, bathu’k tersebut tidak hanya dipakai pada saat perayaan atau upacara adat, melainkan dikenakan sehari-hari oleh si pemakainya. Termasuk saat berladang atau melakukan aktivitas lainnya.
Sepintas, tradisi mengenakan gelang tembaga ini mirip dengan Suku Karen di pedalaman Thailand. Bedanya, Suku Karen memakai gelang tembaga di bagian leher. Sementara perempuan Sungkung mengenakan gelang tembaga di pergelangan tangan dan kaki mereka. Bathu’k itu melingkar dari pergelangan tangan hingga siku. Sedangkan di bagian kaki, melingkar dari betis hingga bawah lutut.
Tidak semua perempuan Sungkung memiliki atau memakai bathu’k. Jumlahnya hanya sekitar 25 orang. Bathu’k biasanya baru dikenakan saat mereka beranjak usia dewasa karena harus menyesuaikan ukuran atau lingkar gelang. Namun, ada pula yang memakai bathu’k sejak usia belia.
Nenek Gangeg misalnya. Perempuan usia 55 tahun ini baru mengenakan Bathu’k pada tahun 2010 lalu. Menurutnya, gelang tembaga yang ia kenakan merupakan warisan nenek moyang yang sudah turun-temurun di dalam lingkungan keluarganya. Kini ia mewarisi gelang tembaga itu dan dipakainya setiap hari.
“Ini warisan nenek moyang kami,” kata Gangeg kepada Pontianak Post saat mengunjungi Dusun Medeng, Desa Sungkung II. Ia mengaku ada rasa risih dan janggal saat pertama kali mengenakan bathu’k tersebut. Selain itu, gulungan tembaga yang padat membuatnya kesulitan bergerak. Namun sekarang ia sudah terbiasa.
“Dulu, pertama kali pakai gatal dan berat. Tapi sekarang tidak lagi,” lanjutnya.
Nardinus Inus, tokoh masyarakat Dusun Medeng mengatakan, dari tiga desa Sungkung, Kecamatan Siding, hanya Dusun Medeng yang masih melestarikan bathu’k, sebagai warisan budaya. Menurut Inus, pada zaman dahulu, bathu’k merupakan perhiasaan laiknya emas yang berfungsi untuk mempercantik diri bagi kaum perempuan.
Bathu’k hanya dimiliki oleh orang-orang kaya atau bangsawan. “Zaman dulu hanya bangsawan atau orang kaya yang mampu membeli bathu’k. Kalau warga biasa, perlu menabung bertahun-tahun untuk bisa membelinya,” kata Inus.
Untuk memiliki satu gulung bathu’k, warga Sungkung harus menukarnya dengan ternak babi seberat 80 kg. Ternak itu dibawa dengan cara dipikul. Mereka harus berjalan kaki berhari-hari ke Malaysia.
“Artinya untuk memiliki satu set bathu’k (dua gulung gelang tangan dan dua gulung gelang kaki), harus menukar empat babi yang masing-masing seberat 80 kg. Belum lagi perjalanan ke Malaysia. Butuh perjuangan,” lanjut Inus.
Menurut dia, awalnya bathu’k dikenakan hanya pada saat menghadiri perayaan atau upacara adat saja, seperti gawai, menyambut tamu agung atau perayaan lainnya. Kini memakai bathu’k bagi kaum perempuan sudah menjadi bagian dari tradisi yang tidak bisa lepas dari budaya masyarakat Sungkung, khususnya Dusun Medeng.
Dikatakan Inus, bathu’k dipakai setiap hari dan hanya dilepas pada situasi tertentu, misalnya bila si pemakainya menderita sakit atau sudah lanjut usia. Bahkan, jika si pemilik sudah enggan memakainya lagi, bathu’k bisa dilepas dan disimpan untuk kemudian diwariskan kepada anak atau cucu perempuan mereka.
“Bathu’k ini selalu dipakai sehari-hari. Nanti saat menjelang ajal, bathu’k dilepaskan dan diwariskan kepada anak atau cucu perempuan mereka. Demikian seterusnya,” terang Inus.
Ia berharap, tradisi dan budaya yang ada di Sungkung ini tetap terus terjaga, meskipun zaman terus berubah.
Desa Sungkung berada kaki Gunung Sinjakng di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. Desa Sungkung biasa disebut Sungkung Kompleks yang terdiri dari tiga desa, yaitu Sungkung I, Sungkung II dan Sungkung III. Wilayah ini mencakup delapan dusun.
Kawasan Sungkung dihuni oleh suku Bidayuh. Hampir 50 persen penduduk Kecamatan Siding atau sekitar 5.000 jiwa, bermukim di wilayah ini.
Untuk bisa sampai ke desa itu, setidaknya butuh waktu 10 hingga 12 jam dari ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, Pontinak, menggunakan jalur darat.
Ada tiga rute atau akses darat yang bisa dilalui. Rute pertama melalui Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Rute kedua melalui Kecamatan Entikong di Kabupaten Sanggau. Sedangkan rute ketiga bisa melalui Kabupaten Landak.
Hanya saja, untuk jalur darat ini sarana infrastruktur belum memadai. Jalan yang digunakan merupakan jalan setapak, sempit dan rusak. Jjalan dari Suruh Tembawang-Sungkung misalnya. Kondisi jalan berparit dan hanya bisa dilalui satu kendaraan.
Selain rute atau jalur darat, bisa juga menggunakan transportasi air menyusuri Sungai Sekayam. Tentunya harus menyewa perahu motor dari Entikong atau dari Suruh Tembawang, dengan biaya antara Rp. 3 juta hingga Rp3,5 juta sekali jalan. (*) Editor : Misbahul Munir S