Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tak Kenal Batas Generasi, Bapak Anak Satu Selera

Chairunnisya PP • Senin, 16 Februari 2026 | 13:39 WIB
Ahmad dan anaknya, Ammar melakukan turing mengendarai Kawasaki Binter Merzy.
Ahmad dan anaknya, Ammar melakukan turing mengendarai Kawasaki Binter Merzy.

PONTIANAK POST — Kecintaan Ahmad Andrian, yang akrab disapa Ahmad, terhadap motor tua tidak hadir seketika. Ketertarikan itu ada sejak lama. Bermula dari melihat sang paman menggunakan Vespa untuk aktivitas sehari-hari. Bentuknya yang khas, suara mesinnya yang unik, serta ketangguhannya meninggalkan kesan mendalam bagi pria berusia 43 tahun ini.

Namun, baru benar-benar terwujud saat dirinya berada di Sambas pada 2005. Motor Vespa Sprint menjadi unit pertama yang dimilikinya. Sejak itu, koleksinya terus bertambah. Kini, Ahmad memiliki sembilan unit motor tua. Beberapa di antaranya Kawasaki Binter Merzy (KZ200), Yamaha V80, dan Vespa Sprint di garasi rumahnya.

Menurut Ahmad, merawat motor tua bukan tanpa tantangan. Dibutuhkan ketelatenan, waktu, dan perhatian lebih. Namun, justru di situlah letak kesenangannya. “Perawatannya memang lumayan menguras pikiran, tetapi asyik dijalani,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perawatan tidak terlalu sulit, jika kondisi motor masih baik. Tantangan muncul ketika unit mengalami kerusakan. Proses perbaikan bisa memakan waktu dan membutuhkan kesabaran. Karena itu, ia menilai penting menjalin hubungan dengan sesama pecinta motor tua untuk saling bertukar pengalaman dan membantu perbaikan.

Dari seluruh koleksinya, Kawasaki Binter Merzy menjadi motor yang paling sering digunakannya, terutama saat bepergian ke luar kota untuk kegiatan dinas maupun turing. Motor tersebut dinilai nyaman dan memiliki performa yang dapat diandalkan untuk perjalanan jauh.

Mengendarai motor tua juga memberikan pengalaman berbeda. Tidak jarang, ia mendapat sapaan dari pengendara lain maupun masyarakat yang ditemuinya di jalan. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

“Motor tua itu istimewa. Saat digunakan di jalan, banyak yang menyapa. Motor ini punya sejuta cerita,” ungkap Ahmad yang tergabung dalam Komunitas Binter Merzy Bloody Rangers Indonesia ini. Komunitas ini hampir setiap minggu melakukan pertemuan di Pontianak.

Bagi Ahmad, mengoleksi motor tua bukan semata soal nilai ekonomi. Lebih dari itu, ini adalah hobi yang ingin terus dilestarikan. Ia mengaku belum menjadikan koleksinya sebagai investasi, meski tidak menutup kemungkinan nilainya akan meningkat di masa depan.

“Setiap unit bukan sekadar koleksi, melainkan bagian dari cerita hidup yang terus berjalan,” katanya.

Kecintaan Ahmad terhadap motor tua juga diikuti oleh puteranya, Ammar. Di tengah dominasi motor modern, pelajar SMAN di Pontianak berusia 16 tahun itu menemukan kesenangan tersendiri saat mengendarai motor Yamaha V80, baik ke sekolah maupun sekadar jalan-jalan.

“Dari kecil sudah terbiasa karena orang tua juga suka motor tua. Jadi, terbawa sampai sekarang,” ujar Ammar.

Motor itu kini menjadi kendaraan yang sering digunakannya untuk beraktivitas, termasuk berangkat ke sekolah. Meski demikian, pengalaman mengendarai motor tua tidak selalu mulus. Ammar mengaku pernah mengalami mogok di jalan. Namun, hal itu justru menjadi bagian dari pengalaman yang menyenangkan.

“Memang sering mogok di jalan, tetapi tetap asyik,” katanya sambil tersenyum.

Menurut Ammar, tantangan lain dalam memiliki motor tua adalah perawatannya. Biaya perbaikan bisa cukup mahal, terutama ketika motor sedang mengalami masalah. Meski demikian, ia tidak merasa terbebani, karena kecintaannya terhadap motor tersebut lebih besar daripada kesulitan yang dihadapi.

Di balik kekurangannya, motor tua juga memiliki keunggulan. Ammar menilai konstruksi motor tua lebih kokoh dibandingkan motor modern. Bahkan, saat terjadi benturan, motor tersebut tidak mudah rusak.

Selain itu, mengendarai motor tua juga memberikan pengalaman yang berbeda. Tidak jarang, ia mendapat perhatian dari orang lain di jalan. Beberapa orang bahkan menyapanya dan bertanya tentang motor yang dikendarainya.

“Seru, nyaman, dan sering ditanya bapak-bapak di jalan,” ungkapnya.

Bagi Ammar, motor tua bukanlah simbol gaya hidup atau tren semata. Lebih dari itu, motor tua adalah hobi dan kesukaan pribadi yang tumbuh dengan sendirinya. Kebiasaan mengendarai motor tua sejak kecil membuatnya merasa dekat dan nyaman dengan kendaraan tersebut.

Di usianya yang masih muda, Ammar membuktikan bahwa kecintaan terhadap motor tua tidak mengenal batas generasi. Di balik tampilannya yang klasik, motor tua tetap memiliki tempat di hati, bahkan bagi kalangan pelajar. (uni)

Editor : Miftahul Khair
#motor klasik #hobi #vespa #motor tua #Bapak dan anak