Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Andy Gumala : Kalbar Punya Potensi Besar Manfaatkan Lahan Kering untuk Kembangkan Pertanian

A'an • Kamis, 20 Maret 2025 | 08:21 WIB
Panen perdana program TOT Kodam XII/Tpr di Bengkayang.
Panen perdana program TOT Kodam XII/Tpr di Bengkayang.

PONTIANAK POST - Program penanaman di lahan kering menggunakan teknologi Tanpa Olah Tanah (TOT) yang digagas oleh TNI Kodam XII Tanjungpura, pemerintah, dan pihak swasta berhasil dilaksanakan. Pada Senin (17/3), dilaksanakan panen perdana di demplot yang terletak di Kompi B Yon Zipur, Dusun Mabak, Desa Tiga Berkat, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang. Panen tersebut mencakup tanaman padi gogo, jagung, dan sorgum, dengan hasil yang cukup memuaskan.

Andy Gumala, inisiator proyek ini, mengungkapkan bahwa ide tersebut dimulai sekitar empat bulan yang lalu dan kini telah berhasil dengan hasil yang cukup memadai. Menurutnya, dari sisi produksi, biaya yang dikeluarkan untuk TOT jauh lebih murah dibandingkan dengan metode cetak sawah konvensional.

"Pada penanaman pertama ini, bahkan sudah bisa menutupi ongkos produksi," ujarnya.

Namun, ia mencatat bahwa hasil jagung sedikit mengalami kerugian, sementara padi dan sorgum menunjukkan keuntungan. Faktor cuaca, seperti hujan yang sering turun di Kalimantan Barat, menjadi salah satu penyebab hasil yang belum maksimal. "Kalau tidak banyak hujan, mungkin hasilnya lebih besar," tuturnya.

Inisiatif ini lahir setelah Gumala menemukan bahwa Varietas padi IPB 9G, yang dikembangkan oleh IPB University, memiliki produktivitas tinggi, tahan terhadap hama, serta hemat pupuk. "Teknologi ini sangat cocok karena biayanya jauh lebih murah dan cepat dibandingkan dengan cetak sawah," katanya.

Setelah mendapatkan respons positif dari Pangdam XII Tanjungpura, ia kemudian diberi kesempatan untuk mencari lokasi yang sesuai sebagai demplot.

Saat ini, pihaknya sedang melakukan penanaman kembali di lokasi yang sama dan tengah menyarankan beberapa perbaikan, seperti penyediaan embung dan pembuatan irigasi sederhana untuk hasil yang lebih optimal.

Dengan hasil yang ada saat ini, ia menilai teknologi ini sangat layak untuk diimplementasikan dalam rangka mendukung program swasembada tangan. Apalagi di Kalbar ada banyak lahan kering yang tidak dioptimalkan keberadaan. Bahkan metode ini bisa dimanfaatkan sebagai tanaman sela di antara perkebunan sawit yang berusia muda.

Terkait pemilihan komoditas, ia mencoba sorgum karena beberapa kelebihan yang dimiliki. Sorgum menurutnya adalah tanaman yang tahan kering dan memiliki kandungan nutrisi yang tidak kalah dengan jagung. Komoditas ini dapat diolah menjadi makanan, pakan ternak, hingga gula untuk beberapa varietas.

“Penggunaan pupuknya juga setengah dari jagung,” tuturnya.

Ia pun mengapresiasi Kodam XII Tanjungpura yang bersedia untuk membuat demplot ini dengan harapan bisa menjadi percontohan yang baik dalam membantu mensukseskan program ketahanan pangan.

Selain di Bengkayang, saat ini pihaknya juga tengah mengembangkan demplot di lahan sawit yang berlokasi di Kabupaten Sintang. Dirinya berharap lahan-lahan kering yang selama ini tidak dimanfaatkan atau hanya ditanami sekali dalam setahun dapat dimanfaatkan lebih lagi dengan teknologi TOT ini.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perkebunan Kabupaten Bengkayang, Yulianus menambahkan, jenis jagung yang ditanam di demplot yang ada di sana adalah advanta ruby, advanta jago, monster, dan bomber

“Hasil produksi yang dipanen kualitas produksi jagung advanta cukup bagus<l,"katanya.

Menurutnya, isi tongkolnya cukup padat dari ujung sampai pangkal semua berisi, disamping juga memiliki bobot yg cukup berat. Pihaknya tertarik untuk mensosialisasikan pada petani jagung melalui penyuluh. ia pun mengapresiasi adanya demplot kepada para pihak terkait kolaborasi bersama dengan TNI tersebut.

Mayor Arm Yogie Pabandyakomsos Sterdam XII/Tpr menyebut curah hujan tinggi menjadi tantangan dalam mengimplementasikan program ini. Setiap kali setelah diberikan pupuk/pestisida, langsung kena hujan deras sehingga pemberiannya menjadi kurang maksimal.

“Dan karena curah hujan tinggi untuk tanaman di tanah rendah terendam air cukup lama sehingga hasil kurang maksimal,” ujarnya.

Walau begitu, ia menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam program demplot tersebut. Hal ini sangat selaras dengan program pemerintah yang saat ini menjadi fokus utama dalam program ketahanan pangan khususnya pada penanaman padi gogo pada lahan kering.

“Dengan menggunakan teknologi tanpa olah tanah, diharapkan dapat meminimalisir kerusakan struktur tanah, mengurangi erosi, dan yang terpenting tentunya dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi para petani kita,” katanya.

Menurutnya, dengan mengeluarkan biaya pengolahan tanah dan penanaman padi gogo pada lahan kering seminimal mungkin namun dapat menghasilkan panen semaksimal mungkin dengan waktu panen secepat mungkin dibandingkan dengan pengolahan tanah biasa.

“Semoga dengan kegiatan panen demplot ini dapat menjadi inspirasi dan dapat dikembangkan agar jauh lebih sempurna di demplot-demplot selanjutnya, tentunya semua ini membutuhkan dukungan dari Pemda dan Kementerian. TNI dalam hal ini Kodam XII/Tpr beserta jajaranya akan mendukung penuh dalam hal pendampingan untuk memajukan pertanian,” pungkasnya. (sti/ser)

Editor : A'an
#bengkayang #panen perdana #Kodam XII/Tpr #ToT