PONTIANAK POST –Ibadah haji merupakan salah satu ibadah paling agung dalam Islam. Setiap tahun, jutaan umat Muslim dari berbagai negara datang ke Tanah Suci Makkah untuk memenuhi panggilan Allah Subhanahuwata’ala dan menunaikan rukun Islam kelima.
Tak sedikit jamaah yang rela menghabiskan biaya besar demi mewujudkan impian berhaji. Namun di tengah semangat beribadah tersebut, masih banyak amalan yang diyakini memiliki keutamaan besar, padahal landasan haditsnya lemah bahkan palsu.
Kondisi ini membuat sebagian jamaah merasa cemas apabila tidak menjalankan amalan tertentu. Bahkan ada yang menganggap hajinya kurang sempurna jika meninggalkan amalan tersebut.
Baca Juga: Haji dan Umrah yang Dirindukan
Pentingnya Memastikan Keabsahan Hadits
Diresume dari laman Almanhaj, berdasarkan kajian ilmu hadits, umat Islam diajarkan untuk memeriksa keabsahan riwayat sebelum mengamalkannya. Sebab, tidak semua hadits yang beredar memiliki derajat shahih.
Sebagian hadits terkait amaliyah haji ternyata berstatus dhaif (lemah), dhaif jiddan (sangat lemah), bahkan maudhu’ atau palsu. Para ulama pun telah menjelaskan kelemahan sanad dan perawi dalam hadits-hadits tersebut.
Hadits tentang Ziarah Kubur Nabi Setelah Haji
Salah satu hadits yang sering dikutip berbunyi: “Barang siapa menunaikan ibadah haji ke Baitullah kemudian tidak menziarahiku, maka dia telah berpaling dariku.”
Hadits ini dinilai palsu oleh sejumlah ulama seperti Imam Adz-Dzahabi, Asy-Syaukani, hingga Al-Albani. Menurut para ulama, ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang termasuk amalan baik, namun hukumnya tidak sampai wajib.
Karena itu, anggapan seseorang berdosa besar jika tidak berziarah setelah haji dinilai tidak memiliki dasar hadits yang kuat.
Baca Juga: Update Haji Kalbar 2026: Tiga JCH Dipastikan Gagal Berangkat, Satu Jemaah Masih Ditunda
Hadits Lemah tentang Keutamaan Ziarah Kubur Nabi
Hadits lain yang juga populer menyebutkan:
“Barang siapa berhaji lalu menziarahi kuburanku setelah aku wafat, maka seakan-akan dia mengunjungiku ketika masih hidup.”
Baca Juga: Pemkab Mempawah Bantu Biaya Lokal Haji Rp7,1 Juta untuk Setiap Jemaah Tahun 2026
Para ulama menilai hadits ini sangat lemah karena terdapat perawi yang dinilai pendusta dan lemah hafalannya. Dalam ilmu hadits, kondisi seperti ini membuat riwayat tidak dapat dijadikan sandaran utama dalam menetapkan keutamaan ibadah.
Hadits tentang Jamaah Haji Langsung Masuk Surga
Baca Juga: Jangan Lewatkan, Ini Tujuh Amalan Sunnah di Hari Jumat yang Penuh Berkah
Ada pula hadits yang menyatakan orang yang meninggal ketika berhaji atau umrah tidak akan dihisab dan langsung masuk surga.
Riwayat tersebut dinilai munkar oleh para ulama karena terdapat perawi yang meriwayatkan hadits-hadits bermasalah. Meski demikian, Islam tetap mengajarkan orang yang meninggal dalam keadaan beribadah memiliki keutamaan besar, selama berdasarkan dalil shahih.
Hadits tentang Hajar Aswad Disebut Tangan Kanan Allah
Baca Juga: Ruben Onsu Jalani Umrah Perdana Usai Mualaf, Haru Saat Cium Hajar Aswad
Hadits lain yang sering beredar adalah pernyataan bahwa Hajar Aswad merupakan “tangan kanan Allah di bumi”. Para ulama menilai hadits ini munkar karena sanadnya mengandung perawi lemah dan sering meriwayatkan hadits bermasalah.
Karena itu, umat Islam diimbau berhati-hati dalam menyebarkan maupun mengamalkan riwayat yang belum jelas keabsahannya.
Mengutamakan Sunnah yang Shahih dalam Ibadah Haji
Baca Juga: Menata Kuota Haji: Dari Logika Pasar Menuju Integritas Ibadah
Ibadah haji seharusnya dilaksanakan berdasarkan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Semangat beribadah perlu dibarengi dengan ilmu agar tidak terjatuh pada keyakinan atau amalan yang tidak memiliki dasar kuat.
Dengan memahami perbedaan antara hadits shahih, dhaif, dan palsu, jamaah haji dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang, benar, dan sesuai sunnah.
Wallahua’lam bishawab
Editor : Silvina