PONTIANAK POST - Menjelang Idul Adha, kisah pengorbanan Nabi Ibrahim kembali menjadi perhatian. Namun di balik cerita yang akrab di telinga umat Islam, tersimpan perdebatan panjang.
Siapa sebenarnya anak yang diperintahkan untuk disembelih, Ismail atau Ishaq? Di tengah silang pendapat itu, ada satu jawaban ringan namun penuh makna dari Gus Dur, Mendiang Presiden ke-4 RI.
Momentum Idul Adha dan Akar Kisah Kurban
Pada bulan Dzulhijjah, umat Islam merayakan Idul Adha setiap 10 Dzulhijjah. Secara teologis, perayaan ini berakar dari kisah dalam Al-Qur’an, khususnya Surat As-Shaffat ayat 100-108.
Baca Juga: Begini Ketentuan dan Syarat Jamak Takhir dalam Islam yang Wajib Dipahami
Dalam Surat tersebut diceritakan Nabi Ibrahim bermimpi diperintah untuk menyembelih putranya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Dialog antara ayah dan anak dalam kisah itu menjadi simbol ketundukan total kepada perintah Ilahi, sekaligus menggambarkan keikhlasan luar biasa dalam menghadapi ujian.
Siapa Anak yang Disembelih?
Di balik kisah yang sarat makna ini, muncul dua pertanyaan besar. Salah satunya yang paling sering diperdebatkan adalah siapakah anak yang hendak disembelih sebenarnya Ismail atau Ishaq?
Melansir Islami.co, dalam tradisi Yahudi dan Nasrani, anak yang diyakini sebagai sosok yang akan dikorbankan adalah Ishaq. Sementara umat Islam umumnya meyakini bahwa anak tersebut adalah Ismail.
Baca Juga: Jangan Salah. Ini Tata Cara dan Syarat Jamak Takdim Menurut Ulama Fikih
Di Indonesia, pandangan ini diperkuat oleh terjemahan Al-Qur’an dan tafsir resmi Kementerian Agama, serta Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka yang secara tegas menyebut Ismail.
Namun, tidak semua mufasir memberikan kepastian. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, misalnya, tidak secara eksplisit menentukan siapa anak tersebut.
Jejak Perdebatan dalam Kitab Tafsir
Perdebatan ini telah berlangsung sejak awal perkembangan tafsir. Mufasir klasik seperti Muqatil bin Sulaiman menyebut bahwa ghulam halim dalam ayat tersebut adalah Ishaq. Pendapat ini kemudian diikuti oleh Ibn Jarir al-Tabari dan Al-Qurtubi.
Namun, pandangan tersebut mulai bergeser ketika Ibn Katsir menegaskan bahwa anak yang dimaksud adalah Ismail.
Ia mengkritik mufasir sebelumnya yang dinilai terlalu banyak mengadopsi kisah dari tradisi Yahudi dan Nasrani, lalu membangun argumen berdasarkan struktur narasi Al-Qur’an.
Sejak saat itu, banyak tafsir modern seperti karya Sayyid Qutb dan Wahbah al-Zuhaili cenderung mengikuti pandangan bahwa Ismail adalah sosok yang dimaksud.
Baca Juga: Sejak Kapan Ibadah Haji Disyariatkan? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Jangan Ributkan yang Tak Terjadi
Di tengah perdebatan panjang tersebut, almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah memberikan jawaban yang sederhana namun menggelitik.
Suatu ketika, dalam obrolan santai, seorang sahabat bertanya kepadanya, “Gus, dari kedua versi tersebut, kira-kira mana yang benar?”
Dengan gaya khasnya, Gus Dur menjawab ringan, “Baik Ismail maupun Ishaq, dua-duanya tidak jadi disembelih, jadi buat apa diributkan,” ujarnya dikutip dari NU Online.
Jawaban ini tidak hanya mengundang senyum, tetapi juga menyiratkan pesan mendalam. Perdebatan boleh saja, namun jangan sampai melupakan esensi dari kisah itu sendiri.
Baca Juga: Haji Bukan Sekadar Ibadah, Ini Hikmah Luar Biasa di Baliknya
Refleksi Idul Adha di Tengah Perbedaan
Pada akhirnya, terlepas dari siapa anak yang dimaksud, pesan utama kisah kurban tetap relevan yakni tentang keikhlasan, pengorbanan, dan ketaatan kepada Tuhan.
Di tengah perbedaan tafsir, umat justru diajak untuk lebih bijak dalam menyikapi keragaman pandangan.
Seperti yang disiratkan Gus Dur, mungkin yang lebih penting bukan siapa yang disembelih, tetapi bagaimana kita memaknai pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.
Idul Adha pun menjadi lebih dari sekadar ritual tahunan, ia adalah momentum refleksi tentang nilai kemanusiaan, ketulusan, dan kedewasaan dalam beragama. (*)
Editor : Miftahul Khair