PONTIANAK POST – Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang mudah terpancing emosi hingga mengucapkan doa yang buruk untuk diri sendiri, anak, orang lain, bahkan harta benda. Padahal, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan peringatan keras agar umat Islam tidak melakukan hal tersebut.
Hal itu disampaikan Dra. Badriyah Fayumi, Lc., M.A, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga melalui laman MUI Digital. Menurutnya, Islam mengajarkan umatnya untuk selalu membiasakan doa-doa yang baik, karena setiap doa memiliki kemungkinan dikabulkan oleh Allah SWT.
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam Melarang Mendoakan Keburukan
Baca Juga: Amalkan Doa Ini Sebelum Belajar, Ustaz Adi Hidayat Sebut Membantu Memahami dan Mengingat Ilmu
Larangan tersebut tercantum dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah RA. Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
"Janganlah kalian berdoa buruk terhadap dirimu sendiri, janganlah kalian berdoa buruk terhadap anak-anakmu, dan janganlah kalian berdoa buruk terhadap harta bendamu. Janganlah (berdoa buruk karena bisa saja) kalian menepati suatu saat di mana Allah diminta memberikan sesuatu pada saat tersebut lalu Allah mengabulkan permintaan kalian itu." (HR Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa seorang Muslim hendaknya menjaga lisan, terutama ketika sedang marah atau kecewa. Sebab, tidak ada yang mengetahui kapan doa tersebut bertepatan dengan waktu mustajab.
Baca Juga: Bolehkah Memperbanyak Doa Saat Sujud? Simak Penjelasan Lengkap Ustaz Adi Hidayat
Doa untuk Dosa dan Memutus Silaturahmi Tidak Dikabulkan
Selain melarang doa keburukan, Rasulullah juga menegaskan bahwa Allah Subhanahuwata’ala tidak akan mengabulkan doa yang berisi permintaan untuk melakukan dosa maupun memutus hubungan silaturahmi.
Dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA disebutkan: "Doa seorang hamba akan selalu dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk berbuat dosa atau memutus tali silaturahmi, dan selama ia tidak tergesa-gesa." (HR Muslim)
Baca Juga: Rahasia Meraih Surga Berawal dari Ridha Allah, Simak Penjelasan dan Doanya
Pesan ini menunjukkan doa seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala, bukan menjadi pelampiasan emosi atau kebencian.
Rasulullah Tetap Mendoakan Orang yang Menyakitinya
Salah satu teladan paling agung dari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam adalah sikap beliau terhadap orang-orang yang menyakitinya.
Baca Juga: Rahasia Doa Mustajab Menurut Sunnah Nabi (Bag-1): Mulailah dengan Memperbaiki Adab Berdoa
Ketika berdakwah di Thaif, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mendapat perlakuan kasar dan penolakan. Bahkan malaikat menawarkan untuk membinasakan penduduk Thaif jika Rasulullah menghendakinya.
Namun beliau justru memilih berdoa: "Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang belum mengetahui."
Sikap tersebut menunjukkan betapa mulianya akhlak beliau yang lebih mengutamakan kasih sayang daripada pembalasan.
Baca Juga: Rahasia Doa Mustajab Menurut Sunnah Nabi (Bag-2) : Jangan Lupakan Salawat dan Adab Berdoa Ini
Doa Baik Akan Kembali Menjadi Kebaikan
Badriyah Fayumi menjelaskan, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak doa kebaikan kepada sesama.
Hal ini sesuai sabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam :"Tidaklah seorang Muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat berkata, 'Dan bagimu juga seperti itu.'" (HR Muslim dari Abu Darda' RA)
Baca Juga: Rahasia Doa Mustajab Menurut Sunnah Nabi (Bag-3): Pahami Tawasul dan Adab Berdoa yang Benar
Artinya, setiap doa baik yang dipanjatkan kepada orang lain akan kembali menjadi kebaikan bagi orang yang mendoakannya.
Sebaliknya, doa yang lahir dari amarah, dendam, atau kebencian bukanlah akhlak yang diajarkan Islam.
Menjaga Lisan adalah Cermin Keimanan
Baca Juga: Ustaz Adi Hidayat Sebut Doa Lebih Cepat Dikabulkan Ketika Beristighfar di Waktu Ini
Menurut Badriyah Fayumi, melantunkan doa-doa yang baik merupakan cerminan hati yang bersih dan akhlak yang mulia. Sementara doa-doa buruk umumnya muncul akibat hawa nafsu yang tidak terkendali, seperti kemarahan, dendam, keserakahan, atau keinginan untuk menyakiti orang lain.
Karena itu, umat Islam diajak meneladani Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dengan membiasakan doa-doa yang membawa keberkahan, memohon hidayah bagi sesama, serta menghindari ucapan yang dapat mendatangkan keburukan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Wallahua'lam bishawab
Editor : Silvina