PONTIANAK POST – Banyak orang menganggap kebahagiaan hanya bisa diraih ketika memiliki harta melimpah, jabatan tinggi, atau kehidupan yang serba mewah. Padahal, menurut Ustaz Adi Hidayat (UAH), anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Dalam sebuah kajian yang diunggah melalui kanal YouTube Shorts @langkahdoa-s7e, UAH menjelaskan syarat utama memperoleh kebahagiaan justru bukan materi dunia, melainkan ketakwaan kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Alquran Tegaskan Ketakwaan Menjadi Jalan Kebahagiaan
Baca Juga: Penyebab Doa Belum Dikabulkan Menurut Islam (Bag-1) : Salah Satunya Karena Kurang Ikhlas
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan Alquran telah memberikan petunjuk mengenai kunci kebahagiaan hidup. Ia mengutip firman Allah Subhanahuwata’ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 189 yang diakhiri dengan perintah untuk bertakwa.
"Bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung," jelas UAH saat menyampaikan isi kandungan ayat tersebut. Menurutnya, keberuntungan yang dimaksud dalam ayat itu bukan hanya keberhasilan di akhirat, tetapi juga kebahagiaan yang dirasakan seseorang selama menjalani kehidupan di dunia.
Karena itu, meningkatkan ketakwaan kepada Allah menjadi langkah paling penting bagi siapa pun yang ingin memperoleh hidup yang tenang, damai, dan penuh keberkahan.
Baca Juga: Penyebab Doa Belum Dikabulkan Menurut Islam (Bag-2) : Putus Asa saat Berdoa Bisa Jadi Penghalang
Harta Bukan Jaminan Hidup Bahagia
UAH menegaskan bahwa uang, jabatan, maupun kemewahan tidak otomatis membuat seseorang merasa bahagia. Semua itu hanyalah fasilitas kehidupan yang tidak selalu menghadirkan ketenangan batin.
"Bahagia itu ternyata bukan materi dunia, bukan uang, bukan kedudukan, bukan kemewahan," ungkapnya. Ia mengingatkan banyak orang memiliki kekayaan berlimpah, tetapi tetap dihantui kegelisahan. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana justru menikmati ketenangan hati karena dekat dengan Allah Subhanahuwata’ala.
Baca Juga: Ustaz Abdul Somad Bagikan Bacaan untuk Orang Sakit, Ijazah Amalan dari Guru di Sudan
Kisah Bilal bin Rabah yang Memilih Ketakwaan
Untuk memperjelas penjelasannya, UAH mencontohkan kisah sahabat Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, Bilal bin Rabah.
Bilal dikenal tidak memiliki kekayaan sebanyak Sayyidina Utsman bin Affan RA, salah seorang sahabat Nabi yang terkenal sebagai saudagar kaya. Meski demikian, Bilal menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.
Baca Juga: Fadhilah Istighfar yang Jarang Disadari, Amalan Sederhana dengan Keutamaan Besar
Setiap hari Bilal mengumandangkan azan dengan penuh keikhlasan. Menurut UAH, tugas sederhana itu justru menjadi sumber kebahagiaan karena dijalankan dengan keimanan dan ketakwaan.
Menolak Jabatan Demi Menjaga Amanah
UAH juga mengisahkan setelah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam wafat, Bilal pernah ditawari menduduki jabatan yang sangat tinggi.
Baca Juga: Ini Tujuh Amalan Berpahala Seperti Ibadah Haji yang Bisa Dilakukan Setiap Hari
Ia bahkan disebut mendapat tawaran untuk menjadi hakim agung. Jabatan tersebut tentu menjanjikan kehormatan, kekayaan, serta kehidupan yang lebih mapan. Namun Bilal memilih menolak. Bahkan, ia dikisahkan pergi menjauh agar tidak menerima jabatan tersebut.
Menurut UAH, keputusan itu diambil karena Bilal ingin menjaga amanah yang pernah diberikan langsung oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sebagai muazin. Baginya, mempertahankan kedekatan dengan ibadah jauh lebih berharga dibanding mengejar kedudukan dunia.
Kebahagiaan Sejati Berasal dari Ketakwaan
Baca Juga: Ingin Bebas dari Neraka? Bacalah Selalu Zikir Ini dan Buktikan Melalui Amal
Di akhir penjelasannya, UAH mengingatkankemewahan tidak pernah menjadi jaminan seseorang hidup bahagia.
Sebaliknya, ketakwaan kepada Allah merupakan jalan yang pasti mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan sejati.
Dengan memperbanyak amal saleh, menjaga ibadah, dan meningkatkan kualitas ketakwaan, seorang Muslim diyakini akan memperoleh ketenangan hati yang tidak dapat dibeli oleh harta maupun jabatan.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran kebahagiaan dalam Islam tidak ditentukan oleh banyaknya kekayaan, melainkan oleh kuatnya hubungan seorang hamba dengan Allah Subhanahuwata’ala.
Editor : Silvina