Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Profesor UNTAN Sebut Ekonomi Kalbar Kuat Tapi Kualitas Pertumbuhan Masih Perlu Diperbaiki

Basilius Andreas Gas • Sabtu, 25 April 2026 | 21:01 WIB
Seorang petugas pada UMKM sektor jasa laundry pada Pontianak Laundry, Pontianak Kota, Kalbar, sedang mengemas sejumlah paket layanan usai menimbang bobot kemasan untuk menentukan tarif jasa pada pelanggan. (ISTIMEWA)
Seorang petugas pada UMKM sektor jasa laundry pada Pontianak Laundry, Pontianak Kota, Kalbar, sedang mengemas sejumlah paket layanan usai menimbang bobot kemasan untuk menentukan tarif jasa pada pelanggan. (ISTIMEWA)

 

PONTIANAK POST - Ekonomi Kalbar sedang tumbuh kuat dan prospektif, namun kualitas pertumbuhan masih perlu diperbaiki. Penegasan itu disampaikan Prof. Dr. Rizky Fauzan, S.E., M.M., Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen SDM, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, yang menyebutkan perbaikan perlu dilakukan agar kualitas pertumbuhan lebih inklusif, berbasis industri hilir, menyerap tenaga kerja lokal dan memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Dia memaparkan bahwa menurut BPS Provinsi Kalimantan Barat, tanggal rilis 5 Februari 2026, ekonomi Kalbar Triwulan IV-2025 tumbuh 5,62% (year-on-year). Ini menunjukkan percepatan dibanding tahun sebelumnya dan berada di atas rata-rata pertumbuhan historis Kalbar. 

“Jika melihat link dari sumber yang diberikan ini, Nilai PDRB ADHB tahun 2025 mencapai Rp328,57 triliun,” sebutnya saat diperlihatkan gambaran umum ekonomi Kalbar menurut kalbar.bps.go.id.

 Baca Juga: UMKM Dinilai Butuh Competitive Aggressiveness dalam Risk Taking di Tengah Persaingan yang Ketat

Menurut Rizky Fauzan, pertumbuhan 5,62% tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Kalbar sedang berada dalam fase ekspansi yang cukup sehat. Kondisi tersebut, kata Rizky, dapat berarti aktivitas produksi meningkat, permintaan masyarakat membaik, investasi tumbuh dan dunia usaha bergerak lebih aktif.

“Jika dibandingkan tahun 2024 (4,98%), maka pada tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan,” sebutnya.

Hanya saja, Prof. Rizky mengatakan walaupun angka pertumbuhan tinggi, perlu dicermati bahwa pertumbuhan belum tentu merata.

Baca Juga: Tak Hanya UMKM, Bupati Sanggau Ingin Samer Weekend Ruang Seni Budaya dan Daya Tarik Wisata

“Pertumbuhan PDRB sering terkonsentrasi pada sektor besar seperti pertambangan, perkebunan, dan konstruksi. Jika tidak diikuti pemerataan, maka masyarakat kecil belum tentu merasakan manfaat langsung,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya perlu dicermati struktur ekonomi yang masih berbasis komoditas primer. Dikatakan dia, Kalimantan Barat masih sangat bergantung pada, sawit, tambang bauksit, karet, kayu serta perdagangan bahan mentah.

“Artinya kondisi ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga global,” katanya.

Hal lain yang mesti dicermati yakni kondisi industri hilir masih terbatas. Dia mengatakan dari hal tersebut, nilai tambah masih banyak dinikmati luar daerah karena bahan mentah keluar, sedangkan industri pengolahan lokal belum dominan.

Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi di Kalbar

Menyoal tentang sektor apa saja yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di Kalbar, dan bagaimana peran UMKM di dalamnya, Rizky menjelaskannya menurut data BPS dan Bank Indonesia Kalbar.

Dikatakannya, sektor utama pendorong pertumbuhan Triwulan IV-2025 adalah pertambangan dan penggalian dengan andil pertumbuhan terbesar sekitar 1,56%. Didorong bauksit dan aktivitas smelter.

Kemudian perdagangan besar dan eceran dengan andil sekitar 0,97%. Ini sektor yang sangat berkaitan dengan konsumsi masyarakat. Selanjutnya konstruksi dengan andil sekitar 0,85%, terutama proyek infrastruktur dan bangunan swasta.

Baca Juga: Harga Plastik Naik Tekan UMKM Pontianak, Pedagang Keluhkan Untung Makin MenipisBaca Juga: Harga Plastik Naik Tekan UMKM Pontianak, Pedagang Keluhkan Untung Makin Menipis

Selain itu, pertanian, kehutanan, dan perikanan yang secara tradisional tetap menjadi tulang punggung Kalbar terutama di kabupaten.

Dia mengatakan bahwa UMKM menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di Kalbar, berperan sangat besar meskipun sering tidak tercermin dominan di dalam analisis statistik secara makro.

“UMKM menopang sektor perdagangan. Mayoritas pedagang pasar, toko kelontong, kuliner, reseller, warung, online shop adalah UMKM,” katanya.

Baca Juga: Legalitas UMKM Diperkuat, Pelaku Usaha Ketapang Difasilitasi Bentuk Perseroan Perorangan

Dia juga menyebut UMKM menopang sektor pertanian, yakni petani sawit kecil, petani lada, peternak, nelayan, pengolah hasil tani skala kecil adalah bentuk UMKM produktif. Dikatakan pula, UMKM menopang sektor jasa, seperti laundry, bengkel, transportasi lokal, digital service, pariwisata lokal.

Permasalahannya, ujar Rizky, UMKM Kalbar sering atau memiliki karakteristik modal kecil, akses kredit rendah, manajemen lemah, belum digital, tidak masuk rantai pasok industri besar

“Akibatnya kontribusi tenaga kerja besar, tetapi kontribusi output masih rendah,” katanya.

Kontribusi UMKM terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Daerah

Rizky Fauzan juga menyampaikan jumlah UMKM dan kontribusinya di Kalimantan Barat saat ini, terhadap penyerapan tenaga kerja daerah. Dia menjelaskan bahwa menurut data Dinas Koperasi dan UMKM Kalbar yang dikutip dari RRI.co.id (28/6/2025), UMKM yang sudah terdata resmi dalam Sistem Informasi Data Tunggal, sebanyak 164.364 unit. Namun diperkirakan masih ada jutaan UMKM yang belum terdata.

“Artinya yang menjadi persoalan utama bukan hanya jumlah UMKM, tetapi validitas data UMKM di Kalimantan Barat. Kalau data UMKM tidak lengkap, maka program bantuan sering salah sasaran,” ucapnya.

Sedangkan mengenai kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja, dia menyebut bahwa secara nasional UMKM menyerap sekitar 97% tenaga kerja. Dengan struktur ekonomi Kalbar yang masih didominasi usaha mikro, maka secara logis kontribusi penyerapan kerja di Kalbar juga sangat besar.

Baca Juga: Harga Bahan Pokok Naik Bikin UMKM Pontianak Panik dan Terancam Kurangi Keuntungan

Diperkirakan UMKM Kalbar menyerap tenaga kerja terbesar di sektor perdagangan, kuliner, pertanian kecil, jasa informal, kerajinan dan transportasi rakyat.

Namun, dia mengatakan masalah tenaga kerja UMKM secara umum yang dihadapi adalah, produktivitas rendah dengan banyak pekerja terserap, tetapi pendapatan kecil. Ditambah dominasi informal dengan tidak ada BPJS, kontrak kerja atau pelatihan. Belum lagi, naik kelas lambat, yang menurutnya usaha mikro sulit naik menjadi kecil atau menengah.

Rekomendasi Strategis untuk Kalimantan Barat

Rizky Fauzan memberikan rekomendasinya berdasarkan kondisi yang dihadapi Kalimantan Barat tersebut, dengan membangun satu data UMKM Kalbar untuk sinkronisasi data bagi provinsi-kabupaten-bank-BPS-Diskop.

Disebutkan pula, perlu fokus hilirisasi daerah dengan mendorong UMKM masuk di pengolahan produk, seperti sawit turunan, makanan olahan, perikanan olahan, furnitur, kriya lokal.

“Adanya kredit produktif berbasis cluster. Bukan kredit konsumtif, tapi klaster, seperti tenun Sambas, kuliner Pontianak, kopi Kalbar hingga perikanan pesisir. Selain itu, digitalisasi UMKM, berupa marketplace, QRIS, pencatatan keuangan digital hingga AI marketing,” katanya.

Dia juga merekomendasikan integrasi UMKM dengan industri besar, misalnya smelter, perkebunan atau konstruksi wajib bermitra dengan UMKM lokal.

Rizky kembali menyebutkan bahwa Kalbar sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik (5,62%), ditopang sektor pertambangan, perdagangan, dan konstruksi. Namun pertumbuhan ini harus diubah menjadi pertumbuhan berkualitas melalui penguatan UMKM.

“Karena tanpa UMKM, lapangan kerja tidak luas, pendapatan rakyat stagnan, ketimpangan meningkat. Masa depan Kalbar bukan hanya tambang dan sawit, tetapi UMKM modern berbasis potensi lokal dan hilirisasi daerah,” jelasnya. (*)

 

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#prospektif #kualitas pertumbuhan #ekonomi kalbar #UMKM #PDRB