PONTIANAK POST - Dalam beberapa tahun terakhir, sustainability business (bisnis berkelanjutan) bukan lagi sekadar tren, melainkan menjadi kebutuhan strategis. Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia, terutama daerah seperti Kalimantan Barat, konsep itu sangat relevan.
Menurut Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen SDM, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Rizky Fauzan, S.E., M.M., saat ini konsumen semakin peduli terhadap lingkungan, investor memperhatikan aspek ESG (Environmental, Social, Governance), dan pemerintah memperketat regulasi terkait emisi, limbah, serta ketenagakerjaan.
"Bagi UMKM maupun perusahaan besar, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan ini menentukan daya saing jangka panjang," kata Prof. Rizky Fauzan.
Baca Juga: UMKM Dinilai Butuh Competitive Aggressiveness dalam Risk Taking di Tengah Persaingan yang Ketat
Dia mengatakan bahwa sustainability business adalah model usaha yang menjalankan aktivitas ekonomi dengan tetap menjaga keseimbangan antara profit (keuntungan ekonomi), people (kesejahteraan sosial) dan planet (kelestarian lingkungan). Konsep tersebut disebut dia, dikenal sebagai Triple Bottom Line.
"Kalau green business lebih spesifik pada praktik usaha yang meminimalkan dampak lingkungan, seperti efisiensi energi, pengurangan limbah, penggunaan bahan ramah lingkungan, dan ekonomi sirkular," jelasnya.
Rizky memaparkan bahwa sustainability business atau green business, tersebut penting saat ini. Alasannya, menurut dia, konsumen berubah, berdasarkan laporan IBM Institute for Business Value (2023) yang menunjukkan lebih dari 49% konsumen global bersedia membayar lebih untuk produk yang berkelanjutan.
Baca Juga: Profesor UNTAN Sebut Ekonomi Kalbar Kuat Tapi Kualitas Pertumbuhan Masih Perlu Diperbaiki
Di sisi lain, dia mengatakan investor juga berubah, jika merujuk PwC Global Investor Survey (2024) menunjukkan mayoritas investor memasukkan faktor ESG dalam keputusan investasi.
Kemudian Rizky menyebutkan,"Regulasi meningkat. Negara-negara maju mulai menerapkan pajak karbon, standar rantai pasok hijau, dan kewajiban pelaporan keberlanjutan."
Hal tersebut ditambah lagi dengan risiko bisnis meningkat yang didalamnya terdiri dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok, dan krisis energi meningkatkan biaya usaha.
Baca Juga: Tak Hanya UMKM, Bupati Sanggau Ingin Samer Weekend Ruang Seni Budaya dan Daya Tarik Wisata
"Banyak pelaku usaha menganggap sustainability hanya biaya tambahan. Padahal dalam jangka panjang, sustainability adalah strategi efisiensi, diferensiasi pasar, dan mitigasi risiko," kritisnya
Bisnis Berkelanjutan Dapat Meminimalisir Dampak Negatif
Rizky pun menyatakan penerapan bisnis berkelanjutan dapat meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Disebutkan dia, untuk dampak terhadap lingkungan, praktik yang dapat dilakukan, berupa efisiensi listrik dan air, pengurangan plastik sekali pakai, pengolahan limbah, energi terbarukan, bahan baku berkelanjutan serta logistik rendah emisi
Bukti empiris untuk hal tersebut, kata Rizky, UNEP melaporkan bahwa model produksi berkelanjutan mampu menekan penggunaan sumber daya alam dan emisi karbon secara signifikan.
Dia menyebut juga bahwa dampak sustainability business terhadap masyarakat, dalam praktik sosial, berupa upah layak, keselamatan kerja,produk aman, pemberdayaan komunitas lokal, dan kemitraan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah lokal. Dia mencontohkan, yaitu perusahaan yang bermitra dengan pemasok lokal meningkatkan multiplier effect ekonomi daerah.
"Banyak perusahaan fokus pada greenwashing atau pencitraan hijau tanpa perubahan nyata. Keberlanjutan itu, harus terukur melalui, konsumsi energi, limbah, kesejahteraan pekerja juga kepatuhan rantai pasok," terangnya.
Dia juga menekankan bahwa dalam menjalankan bisnis berkelanjutan, berada pada posisi penting peran talent management bagi pelaku usaha, khususnya UMKM.
Teknologi, modal, dan mesin, kata dia, tidak cukup tanpa SDM yang kompeten. Talent management menurut Rizky meliputi, rekrutmen orang yang tepat, pelatihan berkelanjutan, pengembangan kompetensi hijau, retensi karyawan terbaik, kepemimpinan adaptif.
Untuk UMKM, dia mengatakan talent management sederhana bisa berupa, memilih pegawai jujur dan mau belajar, melatih pelayanan pelanggan, mengajarkan digital marketing dan membangun budaya kerja hemat dan inovatif
Berdasarkan data empiris, dia mengatakan ILO dan OECD menunjukkan bahwa transisi menuju ekonomi hijau akan menciptakan jutaan green jobs, namun membutuhkan keterampilan baru.
"Banyak UMKM gagal berkembang bukan karena produk buruk, tetapi karena salah mengelola orang," kritisnya lagi.
Pemilik Usaha Perlu Meningkatkan Pengetahuan Serta Kesadaran
Prof. Rizky menegaskan pemilik usaha perlu meningkatkan pengetahuan serta kesadaran terkait pengelolaan SDM dalam konteks sustainability business. Pasalnya, kata dia, karena manusia adalah penggerak utama transformasi bisnis.
"Tanpa SDM yang siap, inovasi tidak berjalan, efisiensi gagal, digitalisasi mandek, pelanggan kecewa, turnover tinggi," sebutnya.
Pengetahuan yang dibutuhkan pemilik usaha dalam mendukung hal tersebut, ujar Rizky, mulai dari kepemimpinan modern, persoalan kesejahteraan kerja, budaya organisasi. Ditambah lagi dengan pengetahuan soal produktivitas, green skills hingga pengetahuan literasi digital.
Kata Rizky, World Economic Forum Future of Jobs Report (2025) menyebut keterampilan yang paling dibutuhkan adalah analytical thinking, resilience, leadership, environmental stewardship, AI and tech literacy.
"Masih banyak pemilik UMKM melihat pekerja hanya sebagai biaya, bukan aset strategis," katanya.
Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura itu pun mendorong perubahan pola pikir masyarakat, khususnya pelaku UMKM. Strategi perubahan mindset itu, disebut dia, bisa dimulai dengan edukasi berbasis manfaat ekonomi. Sustainability bukan teori, tetapi bisa menghemat listrik, menekan biaya bahan baku, menaikkan citra merek atau menarik pelanggan baru.
Perubahan pola pikir itu juga bisa didorong dengan cara menampilkan contoh sukses lokal UMKM yang memakai kemasan ramah lingkungan, digitalisasi, dan efisiensi energi.
Perlu pula menawarkan insentif pemerintah berupa kredit hijau, sertifikasi gratis, pelatihan gratis dan prioritas pengadaan pemerintah. Perlu juga pendampingan nyata, kata Rizky, yang bukan hanya seminar , tetapi sampai mentoring lapangan.
"Mindset berubah jika ada contoh nyata plus insentif nyata ditambah keuntungan nyata," kritisnya.
Penekanan juga diberikan Rizky pada inovasi dapat membantu pelaku usaha menangkap peluang bisnis berkelanjutan.
Dia menyebutkan inovasi membuka pasar baru, dilakukan melalui produk kemasan biodegradable, makanan sehat lokal, produk daur ulang, sampai pada fashion ramah lingkungan.
Inovasi juga dilakukan pada proses dengan digital ordering, sistem stok efisien, pembayaran cashless dan energi hemat.
Model bisnis juga dilakukan inovasi berupa subscription, refill station, sharing economy dan pre-order zero waste.
Dia mengatakan perusahaan yang aktif berinovasi pada sustainability memiliki peluang pertumbuhan pendapatan lebih tinggi dibanding pesaing pasif.
"Pelaku usaha yang hanya menunggu pasar berubah akan tertinggal. Inovasi harus mendahului perubahan," katanya.
Dia pun menyarankan sikap proaktif perlu dimiliki pelaku UMKM menghadapi permintaan pasar yang terus berubah. Sikap yang dibutuhkan itu, kata Rizky, mulai dari cepat membaca tren, dengan memantau media sosial, marketplace, perubahan gaya hidup.
Didukung mau belajar terus tentang digital marketing, AI tools, packaging dan pelayanan.
UMKM perlu membutuhkan sikap fleksibel terkait cepat mengubah produk, ukuran, harga, saluran distribusi. Dia menyarankan UMKM berani mencoba dengan uji produk baru skala kecil.
Ditambah membutuhkan sikap dekat dengan pelanggan, yaitu menggunakan feedback pelanggan sebagai data utama. Disamping sikap kolaboratif, misalnya berkolaborasi dengan UMKM lain, komunitas, kampus dan pemerintah.
"UMKM yang reaktif hanya merespons ketika penjualan turun. UMKM proaktif mengantisipasi perubahan sebelum krisis datang," katanya.
Dia menyebut lagi bahwa sustainability business bukan sekadar isu lingkungan, tetapi strategi bertahan dan tumbuh di era pasar yang berubah cepat. Bagi UMKM Indonesia, terutama daerah seperti Kalimantan Barat, konsep ini sangat relevan karena meningkatkan efisiensi biaya dan memperluas akses pasar.
Konsep itu juga relevan karena meningkatkan kepercayaan konsumen, menarik pembiayaan dan memperkuat daya saing jangka panjang.
"Bisnis masa depan bukan yang terbesar, tetapi yang paling adaptif, inovatif, dan berkelanjutan," pungkasnya. (*)
Editor : Basilius Andreas Gas