PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Senin (11/5). Rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.414 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.382 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar global dan mendorong pelaku pasar memburu aset aman berbasis dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan komentar Presiden AS Donald Trump memperbesar kekhawatiran investor terhadap konflik di kawasan Teluk.
“Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS sama sekali tidak dapat diterima, sehingga meningkatkan risiko geopolitik,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (11/5).
Pernyataan tersebut meredam harapan pasar terhadap meredanya konflik dalam waktu dekat. Situasi geopolitik tersebut terjadi menjelang kunjungan Donald Trump ke China akhir pekan ini. Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing untuk membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran.
Di sisi lain, IHSG setali tiga uang. Sebenarnya indeks saham sempat rebound terbatas setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunda penerapan tarif royalti komoditas tambang seperti tembaga, timah, nikel, emas, dan perak.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan penundaan itu sempat memberi ruang penguatan bagi pasar.
“Setelah melanjutkan koreksi pada sesi pertama, IHSG sempat rebound terbatas setelah adanya penundaan penerapan tarif royalti tambang untuk menyusun formulasi yang lebih optimal dan adil,” ujarnya.
Meski demikian, tekanan pasar kembali muncul setelah pemerintah memastikan penyesuaian tarif royalti tetap akan diberlakukan mulai awal Juni 2026 melalui penerbitan Peraturan Presiden (Perpres).
Menurut Ratna, pelemahan rupiah yang sudah menembus level Rp17.400 per dolar AS ikut memperburuk sentimen pasar saham.
“Pelemahan rupiah hingga posisi di atas Rp17.400 per dolar AS juga menambah sentimen negatif,” katanya.
Mayoritas bursa saham Asia juga ditutup di zona merah seiring naiknya harga minyak mentah akibat konflik geopolitik AS-Iran.
Sepanjang perdagangan, sebanyak 263 saham tercatat menguat, 463 saham melemah, dan 233 saham stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp20,41 triliun dengan volume perdagangan 39,08 miliar saham.
Sementara itu, hanya sektor infrastruktur yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 1,52 persen. Sedangkan sektor transportasi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 2,88 persen, diikuti sektor energi 2,02 persen dan sektor keuangan 1,74 persen.
Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level support di kisaran 6.750 hingga 6.850. (ant)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro