Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rupiah Tembus Rp17.530 per Dolar AS, Apindo Pontianak Ingatkan Daya Beli Menurun

Siti Sulbiyah • Jumat, 15 Mei 2026 | 11:39 WIB
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/am)
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/am)

PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah tiga hari terakhir tercatat melemah hingga ke level Rp17.500-an per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (14/5), rupiah sempat tercatat Rp17.530 per dolar. Angka ini dinilai telah melewati batas psikologis dan berpotensi membawa dampak luas bagi dunia usaha maupun masyarakat.

Ketua Apindo Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, mengatakan nilai tukar yang tembus Rp17.500 per dolar Amerika itu merupakan level yang sudah tembus psikologis. “Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak krisis 1998, rupiah jarang menyentuh posisi demikian,” ucapnya.

Ia menilai terdapat dampak positif maupun negatif dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar bagi para pengusaha maupun masyarakat secara umum.

Dari sisi negatif, ia mengatakan terdapat lonjakan bahan baku impor. Sektor yang terdampak seperti industri manufaktur, farmasi, otomotif, properti, hingga makanan-minuman banyak yang bahan bakunya impor.

Baca Juga: Rupiah dan Indonesia

Selain itu, tambah dia, ekspansi usaha juga akan cenderung berhenti karena biaya bahan yang perlu impor seperti bahan dan mesin akan meningkat.

Ia menegaskan, sektor perkebunan jelas terdampak karena pupuk dan herbisida meningkat. Namun, ia menilai seharusnya petani sawit bisa dapat diuntungkan jika ada penyesuaian harga beli TBS karena naiknya pendapatan nilai ekspor CPO.

Selain itu, daya beli masyarakat akan menurun jika kenaikan harga kebutuhan konsumsi tidak bisa atasi. “Pemerintah mesti mewaspadai problematika sosial yang akan timbul dalam kondisi masyarakat tidak sanggup memenuhi kebutuhan hidup,” katanya.

Di sisi lain, ia menilai komoditas yang di ekspor Indonesia akan menjadi lebih kompetitif. "Barang atau jasa yang dijual ke luar negeri harganya menjadi lebih murah dalam USD," ujarnya.

Beberapa sektor yang diuntungkan dari penguatan dolar AS ini, kata dia, antara lain CPO, batubara, nikel, tekstil, furniture, pariwisata, maupun jasa IT outsourcing.

"Industri pariwisata kemungkinan mendapatkan lebih banyak konsumen karena bagi turis mancanegara liburan ke Indonesia jadi lebih murah," katanya.

Ia juga memandang bahwa barang impor jadi mahal, sehingga konsumen dan industri beralih ke produk maupun sumber bahan baku lokal.

Selain itu, kiriman uang dari TKI/TKW kalau dirupiahkan jadi lebih besar, sehingga daya beli keluarga di Indonesia akan meningkat. (sti)

Editor : Hanif
#Apindo #daya beli masyarakat #dolar as #pontianak #rupiah