Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pemerintah Genjot Hilirisasi Tambang di Kalbar, Apa Untungnya bagi Masyarakat?

Khoiril Arif Ya'qob • Senin, 25 Mei 2026 | 14:23 WIB
Smelter alumina PT BAI yang ada di Kalimantan Barat memberikan kontribusi peningkatan ekonomi Kalbar hyang memiliki potensi bauksit melipah (ANTARA/Rendra Oxtora)
Smelter alumina PT BAI yang ada di Kalimantan Barat memberikan kontribusi peningkatan ekonomi Kalbar hyang memiliki potensi bauksit melipah (ANTARA/Rendra Oxtora)

PONTIANAK POST - Pemerintah terus menggencarkan hilirisasi tambang di Kalimantan Barat sepanjang 2026. Smelter alumina, investasi triliunan rupiah, hingga proyek strategis nasional mulai dibangun di sejumlah daerah.

Di balik ambisi menjadikan Kalbar pusat industri bauksit nasional, muncul pertanyaan besar: apakah masyarakat sekitar tambang benar-benar ikut merasakan manfaatnya?

Kalbar Jadi Episentrum Hilirisasi Bauksit Nasional

Kalimantan Barat kini menjadi salah satu daerah utama dalam proyek hilirisasi mineral nasional.

Baca Juga: Kolaborasi CSO dan Jurnalis Kawal Tata Kelola Bauksit, Dorong Edukasi Publik dalam Industri Tambang

Pemerintah pusat bahkan menetapkan Kalbar sebagai lokasi penting pengembangan industri pengolahan bauksit dan alumina.

Pada laporan Pontianak Post (23/1), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Kalbar masuk dalam proyek hilirisasi strategis yang mulai memasuki tahap groundbreaking pada awal 2026.

Salah satu proyek terbesar berada di Kabupaten Mempawah melalui pengembangan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR).

Proyek tersebut digadang menjadi tonggak transformasi Indonesia dari pengekspor bahan mentah menjadi negara industri pengolahan mineral.

Baca Juga: CMI Perkuat Komitmen HSE untuk Tambang Bauksit Berkelanjutan di Kalbar

Investasi Tambang dan Smelter Terus Meningkat

Masuknya proyek hilirisasi mulai mendorong pertumbuhan investasi di Kalbar. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalbar mencatat investasi triwulan pertama 2026 mencapai Rp11,69 triliun atau naik 32,84 persen dibanding tahun sebelumnya.

Selain itu, laporan Antara (9/5) menyebut pertumbuhan ekonomi Kalbar pada triwulan I 2026 juga tercatat sebesar 6,14 persen, tertinggi di Pulau Kalimantan.

Pemerintah daerah menilai capaian tersebut dipengaruhi penguatan investasi dan hilirisasi industri mineral.

Pemerintah Klaim Hilirisasi Buka Lapangan Kerja

Gubernur Kalbar Ria Norsan menyebut proyek smelter terpadu di Kalbar diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan keterampilan masyarakat sekitar.

Menurutnya, pembangunan fasilitas pengolahan alumina dan aluminium tidak hanya bertujuan memperkuat industri, tetapi juga membuka peluang kerja berkualitas bagi warga lokal.

Baca Juga: Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalbar Dorong Konsolidasi CSR Pertambangan dan Perkebunan untuk Infrastruktur: Bisa Bangun Puluhan Km Jalan Tiap Tahun

Aktivitas industri tambang dan smelter juga mulai menggerakkan sektor lain seperti transportasi, logistik, rumah makan, hingga penginapan di kawasan sekitar proyek.

Di Balik Hilirisasi, Kasus Tambang Masih Bermunculan

Meski hilirisasi terus didorong, persoalan tata kelola tambang di Kalbar masih menjadi sorotan.

Sepanjang 2026, Kejaksaan Tinggi Kalbar masih menangani sejumlah perkara dugaan korupsi tata kelola tambang bauksit.

Bahkan, Kejati Kalbar mengklaim telah menyelamatkan ratusan miliar rupiah dalam proses penyidikan kasus tambang bauksit.

Baca Juga: Ekonomi Kalbar Tertinggi Sepanjang Sejarah, Dipicu Investasi Sektor Pertambangan

Penyidik juga masih memeriksa sejumlah saksi terkait dugaan korupsi perizinan tambang bauksit yang melibatkan berbagai pihak.

Warga Mulai Soroti Dampak Lingkungan dan Infrastruktur

Di sejumlah daerah tambang dan jalur industri di Kalbar, masyarakat mulai mengeluhkan kondisi infrastruktur yang rusak akibat tingginya mobilitas kendaraan berat.

Warga di Ketapang hingga Sambas menyebut kerusakan jalan dan polusi debu semakin mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pemerintah Provinsi Kalbar sendiri mengakui tingginya beban kendaraan menjadi salah satu faktor yang mempercepat kerusakan jalan.

Pengamat menilai hilirisasi memang penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.

Namun pembangunan industri tambang juga harus dibarengi pengawasan ketat agar manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan perusahaan besar.

Industri Tumbuh, Lingkungan Tetap Terjaga?

Presiden Prabowo Subianto menegaskan hilirisasi menjadi jalan Indonesia menuju kemandirian ekonomi dan energi.

Baca Juga: Izin Pertambangan Rakyat di Kapuas Hulu Tak Kunjung Keluar, Pemkab dan Penambang Akan Surati Gubernur Kalbar

Namun di Kalbar, tantangan terbesar bukan hanya soal investasi dan pembangunan smelter.

Pemerintah daerah juga dituntut memastikan pertumbuhan industri tambang tetap seimbang dengan perlindungan lingkungan serta kesejahteraan masyarakat sekitar tambang. (*)

Editor : Miftahul Khair
#industri bauksit #hilirisasi tambang #investasi