Rupiah Tertekan ke Rp18.000, Ekonom Ungkap Sebab dan Proyeksi Kedepan

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 23:04 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/bar)
Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (5/5). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/bar)

 

PONTIANAK POST – Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah pada perdagangan Kamis (28/5) nilai tukar mata uang Garuda tertekan hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS di pasar offshore. Kondisi ini dinilai bukan hanya dipicu faktor eksternal, tetapi juga mencerminkan tekanan struktural di dalam negeri. 

Tekanan rupiah juga terlihat jelas di level perbankan nasional yang menunjukkan kisaran jual dolar AS sudah mendekati Rp18.000.

Bank Kurs Beli USD (Rp) Kurs Jual USD (Rp)
BCA Rp17.730 Rp17.850
Bank Mandiri Rp17.740 Rp17.770–Rp17.835
BNI Rp17.725 Rp17.825–Rp17.835

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, menilai pelemahan rupiah saat ini lebih dalam dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa faktor domestik turut memberi kontribusi signifikan terhadap tekanan nilai tukar.

Tekanan Tidak Hanya dari Faktor Global

Teuku Riefky menjelaskan, jika pelemahan rupiah sepenuhnya disebabkan faktor eksternal, maka mata uang negara berkembang lain akan mengalami tekanan yang relatif seragam. Namun fakta di pasar menunjukkan pelemahan rupiah lebih tajam.

“Kalau sepenuhnya karena faktor eksternal, seharusnya pelemahan mata uang negara lain relatif sama,” ujarnya.

Ia menilai level rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS tidak lagi sekadar persoalan psikologis pasar, melainkan sudah mengarah pada refleksi fundamental ekonomi nasional.

Fiskal Jadi Sorotan Utama

Menurut Teuku, akar persoalan utama berada pada sektor fiskal yang dinilai masih membutuhkan penguatan. Ia menekankan pentingnya pembenahan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Senentara itu, Menkeu Purbaya juga menegaskan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini masih mencerminkan faktor eksternal dan dinamika pasar global, bukan semata-mata kelemahan fundamental ekonomi Indonesia.

Ia menyebut pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal untuk memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga.

Dalam berbagai kesempatan kebijakan, Purbaya juga menekankan bahwa arah ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur pertumbuhan yang solid, meski dihadapkan pada gejolak global.

“Isu utama ada di fiskal. Ini yang perlu dibenahi pemerintah, bukan hanya dari sisi moneter,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat memberikan dampak lanjutan ke sektor riil, terutama industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Risiko Inflasi dan Tekanan Industri

Jika rupiah bertahan di kisaran Rp17.800–Rp18.000 per dolar AS dalam beberapa bulan ke depan, tekanan biaya produksi diperkirakan meningkat. Hal ini berpotensi memicu kenaikan harga barang impor dan mendorong inflasi.

Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang gerak industri manufaktur yang sangat bergantung pada impor bahan baku dan barang modal.

Sentimen Global dan Arus Modal Perburuk Tekanan

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memperkuat tekanan.

Pada perdagangan pagi sebelumnya, rupiah tercatat melemah sekitar 70 poin hingga berada di level Rp17.870 per dolar AS. Ibrahim memperkirakan tekanan masih berlanjut pada perdagangan berikutnya dan tidak menutup kemungkinan mendekati Rp18.000.

Geopolitik Dorong Penguatan Dolar AS

Dari sisi eksternal, sentimen geopolitik global menjadi faktor utama penguat dolar AS. Konflik di Timur Tengah serta eskalasi perang Rusia–Ukraina meningkatkan ketidakpastian pasar.

Investor global disebut beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga menambah tekanan pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Tekanan Domestik: Impor dan Arus Keluar Modal

Dari dalam negeri, kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen, dan utang jatuh tempo turut meningkatkan permintaan valuta asing.

Di sisi lain, arus keluar modal asing (capital outflow) dinilai semakin besar di tengah libur panjang dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap kondisi pasar domestik.

“Permintaan dolar meningkat cukup tinggi, sementara investor asing cenderung keluar dari pasar domestik,” kata Ibrahim.

Rupiah sebagai “Shock Absorber” Ekonomi

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai rupiah saat ini menjadi penyangga utama (shock absorber) dari berbagai tekanan ekonomi global dan domestik.

Dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global akan menekan inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar secara bersamaan. Namun, kebijakan penahanan harga domestik membuat tekanan tersebut lebih terkonsentrasi pada rupiah.

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang,” ujarnya.

Dilema Kebijakan: Stabilitas Sosial vs Nilai Tukar

Menurut Fakhrul, pemerintah menghadapi dilema antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas eksternal. Kebijakan penyesuaian harga energi yang terbatas dinilai membantu stabilitas sosial, tetapi berdampak pada pasar valuta asing.

Ia juga menyinggung teori Dornbusch Overshooting, di mana nilai tukar dapat bergerak lebih ekstrem dibandingkan fundamentalnya ketika harga domestik bersifat kaku sementara pasar keuangan bergerak cepat.

Fundamental Masih Relatif Stabil, Tapi Pasar Melihat Risiko Kebijakan

Fakhrul menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, ditopang inflasi yang terkendali, sistem perbankan yang sehat, dan pertumbuhan ekonomi positif.

Namun pasar global tidak hanya melihat angka makro, tetapi juga kredibilitas kebijakan dan konsistensi arah fiskal–moneter.

“Yang diuji saat ini adalah kredibilitas dan konsistensi kebijakan,” katanya.

Tekanan Jangka Pendek, Tantangan Kebijakan Jangka Panjang

Pelemahan rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal dan domestik sedang bertemu dalam satu titik krusial.

Ekonom menilai stabilisasi nilai tukar tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga pada kejelasan arah fiskal dan komunikasi kebijakan pemerintah. **

 

Tabel Ringkasan Tekanan dan Faktor Pelemahan Rupiah

Aspek Faktor Utama Penjelasan Singkat Dampak Langsung
Global Geopolitik (Timur Tengah & Rusia–Ukraina) Meningkatkan ketidakpastian pasar global Dolar AS menguat sebagai safe haven
Global Penguatan US Treasury Yield Imbal hasil AS tetap tinggi Arus modal keluar dari negara berkembang
Domestik Kebutuhan impor energi Permintaan dolar meningkat Tekanan kurs rupiah naik
Domestik Pembayaran dividen & utang Aliran dolar keluar meningkat Cadangan devisa tertekan
Domestik Capital outflow Investor asing keluar pasar Rupiah melemah lebih cepat

 

Tabel Dampak Pelemahan Rupiah ke Sektor Ekonomi

Sektor Dampak Utama Risiko Lanjutan
Manufaktur Biaya bahan baku impor naik Penurunan margin produksi
Konsumen Harga barang impor naik Inflasi meningkat
Pemerintah Tekanan fiskal meningkat Ruang subsidi makin sempit
Pasar Keuangan Volatilitas meningkat Kepercayaan investor melemah
UMKM Biaya bahan baku naik Daya saing menurun

 

Tabel Proyeksi Tekanan Rupiah (Jangka Pendek)

Indikator Kondisi Saat Ini Skenario Risiko
Level kurs Rp17.800–Rp17.900 Berpotensi menuju Rp18.000
Sentimen pasar Negatif–waspada Tetap volatil dalam jangka pendek
Arus modal Keluar (outflow) Berlanjut jika risiko global naik
Kebijakan Fiskal & moneter hati-hati Butuh koordinasi lebih kuat

 

Sumber: Berbagai sumber

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
nilai tukar rupiah kurs dolar rupiah defisit transaksi berjalan tekanan fiskal Indonesia rupiah melemah